Monday, January 6, 2014

skripsi;Telaah Kritis Problema Guru Dalam Penggunaan Media Pembelajaran Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Di Kelas VIII SMP Negeri 9 Mataram) Tahun Pelajaran 2012/ 2013”.



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Konteks Penelitian
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan  kehidupan manusia ke masa yang akan datang. Dengan demikian dimungkinkan pendidikan merupakan salah satu wadah untuk membawa perubahan yang berarti untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu berdaya saing di dunia global sekarang ini. Hal ini dipertegas dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) dalam pasal 1 yang mengamanatkan bahwa:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”[1]

Sejalan dengan rumusan Undang-Undang di atas, Muzayyin menjelaskan bahwa, “Pendidikan adalah proses yang terarah dan bertujuan, yaitu mengarahkan anak didik (manusia) kepada titik optimal kemampuannya. Sedangkan tujuan yang hendak dicapi adalah terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual dan sosial serta hamba Allah yang mengabdikan diri kepada-Nya”.[2]

Dengan demikian rumusan Undang-Undang di atas merupakan acuan dasar dalam pelaksanaan pendidikan Agama Islam baik di sekolah umum maupun di madrasah dan sebagai tolok ukur tingkat ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Sehingga konten (isi) dalam Pendidikan Agama Islam yang diwujudkan dalam proses belajar mengajar, ”...dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia”.[3]
Komponen kurikulum sebagai acuan dasar dalam pelaksanaan program pembelajaran Pendidikan Agama Islam diterjemahkan dalam bentuk kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Hal ini menuntut profesionalisme seorang guru dalam mengajar, karena berpengaruh dalam efektivitas pembelajaran. Menurut Fachrudin dan Ali Idrus menjelaskan bahwa, “Profesionalisme guru kiranya merupakan kunci pokok kelancaran dan kesuksesan proses pembelajaran di sekolah. Karena hanya guru yang profesional yang bisa menciptakan situasi aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran”.[4] Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam tugas-tugas kependidikannya adalah, “kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial”.[5]
Lebih rinci lagi, Yudhi menjelaskan bahwa, “Dalam melaksanakan kompetensi pedagogik, guru dituntut memilki kemampuan secara metodologis dalam hal perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Termasuk di dalamnya penguasaan dalam penggunaan media pembelajaran”[6].
Tetapi belakangan ini, proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam masih belum bisa berjalan dengan maksimal, hal ini terjadi karena guru terlalu monoton dalam menggunakan metode atau cenderung menggunakan model pembelajaran konvensional sehingga kondisi menjadi tidak kondusif yang membuat siswa menjadi pasif, kurang bersemangat dan tidak bergairah dalam mengikuti proses pembelajaran.
Berkaitan permasalahan di atas, sebagaimana yang disinyalir oleh Towaf dalam Muhaimin, yaitu: “Guru PAI kurang berupaya menggali berbagai metode yang mungkin bisa dipakai  untuk pendidikan agama, sehingga pelaksanaan pembelajaran cenderung monoton. Keterbatasan sarana/ prasarana, sehingga pengelolaan cenderung seadanya”.[7]
Untuk menanggulangi keadaan tersebut, maka seorang guru harus memanfaatkan media pembelajaran. Karena, salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang di tata dan diciptakan oleh guru.[8] Selain itu, media pembelajaran mampu merangsang semua indra. Lebih lanjut Arsyad menjelaskan, “semakin banyak alat indra yang digunkan untuk menerima dan mengolah informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan. Dengan demikian, siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.[9]
Oleh karena itu, sebelum guru memanfaatkan media pembelajaran terlebih harus membekali diri dengan pengetahuan tentang media pembelajaran, karena banyak guru yang tidak mengerti tentang media pembelajaran. “Demam teknologi ternyata menyerang sebagian dari guru-guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik, takut kena setrum, takut korsleting, takut salah pijit, dan sebagainya.”[10]
Selain itu, “guru tidak cukup hanya memilki pengetahuan kemediaan saja, akan tetapi juga harus memilki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dengan baik”.[11] Hal ini penting dilakukan karena kita ketahui bahwa peserta didik memilki karakteristik yang berbeda-beda, baik minat, bakat, motivasi dan gaya belajar mereka. Ini menjadi salah satu pertimbangan guru ketika memilih media pembelajaran yang akan digunakan, agar setiap karakteristik peserta didik mampu disentuh oleh guru ketika menyampaikan materi ajar kepada peserta didik.
Selain itu, untuk membatasi kesulitan guru dalam proses pembelajaran, karena kita ketahui bahwa, materi pendidikan agama Islam begitu komplek dengan waktu yang terbatas, dengan demikian pemanfaatan media dengan pemilihan media pembelajaran secara teliti akan mengurangi hambatan-hambatan dalam proses pembelajaran pendidikan Agama Islam.
Berdasarkan survei awal melalui wawancara dengan Ibu Nurhayati seorang guru mata pelajaran PAI di SMP Negeri 9 Mataram menjelaskan bahwa, “Media sangat perlu dalam proses pembelajaran karena mempermudah dalam penyampaian materi pelajaran. Kesulitan yang sering kami dapati adalah tidak adanya media gambar, misalnya gambar orang sholat berjamaah, gambar orang yang sedang tawaf di Mekkah. Sebenarnya harus ada media yang besifat praktis tetapi pengadaannya susah, misalnya siswa ingin mempraktikkan tata cara penyelenggaraan jenazah, kita membutuhkan keranda yang sebenarnya, tetapi disini yang masih belum bisa dipenuhi oleh sekolah. Hal ini terjadi karena kurangnya dana untuk pengadaan media tersebut.[12]
Berdasarkan uraian diatas mengenai media pembelajaran dan terkait dengan penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran PAI, maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian ini yang kami tuangkan dalam judul “Telaah Kritis Problema Guru Dalam Penggunaan Media Pembelajaran Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Di Kelas VIII SMP Negeri 9 Mataram) Tahun Pelajaran 2012/ 2013”.


B.     Fokus Kajian
Berdasarkan konteks penelitian di atas maka penulis dapat merumuskan masalah – masalah yang akan diteliti, sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 Mataram Tahun Pelajaran 2012/ 2013?
2.      Apa saja promblematika yang dihadapi oleh guru dalam penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 mataram Tahun Pelajaran 2012/ 2013?
3.      Apa saja solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi problematika penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 Mataram Tahun Pelajaran 2012/ 2013?
C.    Tujuan Dan Manfaat
1.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal berikut ini :
1)      Penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 Mataram Tahun Pelajaran 2012/ 2013
2)      Problematika yang dihadapi guru dalam penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 Mataram Tahun Pelajaran 2012/ 2013
3)      Solusi apa saja yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi problema dalam penggunaan media pebelajaran pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 Mataram Tahun Pelajaran 2012/ 2013
2.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penenlitian ini dapat dibagi menjadi dua kegunaan, yaitu :
a.       Manfaat teoritis
1.      Berdasarkan penelitian yang akan dilakukan mengenai problematika penggunaan media pembelajaran diharapkan secara keilmuan mampu memperkaya khazanah keilmuan khususnya tentang media pembelajaran. Peneliti dan pembaca pada umumnya dapat menarik suatu pengalaman akademis secara langsung dan pada tataran selanjutnya dapat diaplikasikan dalam bentuk proses pembelajaran.
2.      Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran mengenai teori-teori dari media pembelajaran sehingga dapat berguna bagi peneliti, akademisi dan masyarakat pada umumnya.
b.      Manfaat praktis
1.      Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi yang selanjutnya dapat dijadikan rujukan bagi lembaga-lembaga pendidikan dalam memberikan pelayanan pendidikan
2.      Hasil penenlitian ini diharapkan dapat bermanfaat terutama bagi setiap guru sebagai bahan perbandingan dalam mengajar supaya pembelajaran lebih bermakna sehingga mampu menghasilkan out put yang berprestasi dalam bidangnya.

D.    Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian
1.      Ruang Lingkup penelitian
Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini adalah mengenai penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran PAI, problematika penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran PAI dan solusi untuk mengatasi problematika penggunaan media pembelajaran paada mata pelajaran PAI.
2.      Setting Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulis memilih SMP Negeri 9 Mataram sebagai lokasi penelitiannya, didasarkan atas beberapa pertimbangan diantaranya: pertama, masih kurangnya media pembelajaran sebagai penunjang proses belajar mengajar hususnya media gambar. Hal ini didasaran pada hasil observasi awal melalui wawancara dengan Ibu Nurhayati selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang menjelasan bahwa, “Kesulitan yang sering kami dapati adalah tidak adanya media gambar, misalnya gambar orang sholat berjamaah, gambar orang yang sedang tawaf di Mekkah”.[13] Kedua, pengadaan media pembelajaran yang masih sulit karena didasarkan oleh kurangnya dana. Ketiga, tidak adanya media yang bersifat praktis untuk mempermudah kegiatan praktik siswa, seperti mempraktikkan tata cara  penyelenggaraan jenazah. Dengan demikian media pembelajaran yang bersifat praktis sangat menunjang proses pembelajaran.
E.     Telaah Pustaka
Dalam telaah pustaka ini penulis menggunakan dua buah sumber yaitu dari telaah buku dan telaah hasil penelitian yaitu skripsi. Hasil telaah pustaka yang telah penulis lakukan, dapat dipaparkan sebagai berikut:
1.      Telaah Buku
Telaah pertama, buku yang berjudul “Media Pembelajaran”. Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad. Di dalam buku ini membahas tentang pengertian media, fungsi dan manfaat media, penggunaan media pembelajaran baik penggunaan media audio, visual maupun audio-visual dan pengembangan media pembelajaran.
Telaah kedua, buku yang berjudul “Media Pembelajaran” yang ditulis oleh Yudhi Munadhi. Dalam buku ini dipaparkan secara lebih lengkap tentang media pembelajaran, baik dari segi pengembangan media pembelajaran. Dan bagaimana cara penggunaan media pembelajaran agar tepat sasaran. Misalnya, media audio, kita harus mengetahui karakteristik dari media audio itu sendiri sebelum digunkan. Dan dijelaskan pula bagaimana penyusunan desain pembelajaran dilihat dari karakteristik siswa.
                        Alasan penulis memilih buku tersebut sebagai sumber telaah pustaka karena buku tersebut mempunyai fokus pembahasan yang sama dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, yaitu membahas tentang media pembelajaran. Namun perbedaannya adalah pada obyek penelitiannya. Karena posisi peneliti lebih menitikberatkan penelitiannya pada problematika penggunaan media pembelajaran, sedangkan kedua buku tersebut secara jelas menggambarkan tentang penggunaan dan pengembangan media pembelajaran.
2.      Telaah Hasil Penelitian
                        Dalam telaah pustaka dari hasil penelitian ini dapat penulis paparkan dua buah skripsi, yaitu :
                        Pertama, skripsi yang ditulis oleh Nurlizza Handayani pada tahun 2009 dengan judul “Penerapan Media Belajar Dalam Menciptakan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (PAKEM) di MI-AT-TAHZIB Desa Kekait Kecamatan Gunung Sari Kabupaten LOBAR”. Fokus dari penelitian pada skripsi ini adalah bagaimana penerapan media pembelajaran untuk mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dan dari hasil penelitian tersebut adalah bahwa ketersediaan dan penerapan media pembelajaran akan menciptakan proses belajar mengajar yang lebih efektif dan efesien.
                        Kedua, skripsi yang ditulis oleh Hilmasari pada tahun 2009/ 2010 dengan judul “Optimalisasi penggunaan media pembelajaran kelas V pada mata pelajaran PAI SDN 37 Mataram”. Fokus dari penelitian pada skripsi ini adalah bagaimana cara dan teknik guru mata pelajaran PAI dalam mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran PAI agar proses belajar mengajar lebih bermakna bagi siswa. Dan hasil penelitian tersebut adalah bahwa guru PAI harus mampu menyesuaikan materi ajar dengan media pembeljaran agar penggunaan media pembelajaran lebih optimal.
                        Dari kedua skripsi tersebut dapat dilihat bahwa keduanya sama-sama meneliti tentang media pembelajaran, namun fokus permasalahannya berbeda. Skripsi yang pertama pembahasannya tentang bagaimana penerapan media belajar dalam menciptakan pembelajaran PAKEM. Dan skripsi yang kedua pembahasannya bagaimana optimalisasi penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran PAI. Untuk menjaga keaslian dan kebaruan dari skripsi yang akan penulis lakukan, maka penulis akan meneliti tentang media pembelajaran yang memfokuskan penelitiannya pada problema apa saja yang dihadapi oleh guru dalam penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran PAI. Jadi, penelitian skripsi yang akan penulis lakukan masih cukup baru dan sangat berbeda dengan penelitian skripsi yang dilakukan sebelumnya.
F.     Kerangka Teoritik
1.      Media Pembelajaran
a.      Pengertian Media Pembelajaran
          Menurut Arsyad, “kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (wasaail) atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan.[14]
          Selain itu, Rossi dan Breidle dalam Wina Sanjaya[15] menjelaskan bahwa:
“Media pemebelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya. Menurut Rossi alat-alat semacam radio dan televisi kalau digunakan dan diprogram untuk pendidikan maka merupakan media pembelajaran”.

          Dalam versi yang tidak jauh berbeda, Gerlach & Ely dalam Arsyad[16] menjelaskan bahwa:
“Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.

          Lebih lanjut Arsyad memaparkan, “AECT (Association of Education and Communication Technology) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaiakan pesan atau informasi”.[17]
          Dari pendapat para ahli di atas dapat dipahami bahwa, media pembelajaran khususnya pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tertuang dalam materi ajar, baik dalam bentuk materi dan non materi.
          Sejalan dengan pembahasan di atas, S. Sadiman berpendapat bahwa:
          “Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan mempergunakan peralatan. Peralatan atau perangkat keras (hardware) merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut”.[18]

Bersandar pada pendapat di atas, maka media pembelajaran meliputi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Hardware adalah alat-alat yang dapat mengantarkan pesan seperti overhead projector, radio, televisi, dan sebagainya. Sedangkan software adalah isi program yang mengandung pesan seperti informasi yang terdapat paada transparansi atau buku dan bahan-bahan cetakan lainnya, cerita yang terkandung dalam film atau materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan, grafik, diagram, dan lain sebagainya.
          Dengan demikian, pengertian media pembelajaran dapat dispesifikkan lagi yakni, “Segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efesien dan efektif”.[19]
b.      Fungsi Media Pembelajaran
          Peran guru dalam proses belajar mengajar memilki fungsi yang sangat penting. Pemilihan metode yang sesuai dengan bahan ajar dan penggunaan media pembelajaran yang tepat akan mampu menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam materi ajar. Arsyad berpendapat bahwa :
“Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, anatara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi  utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengauhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru”.[20]


          Levie dan Lentz dalam Arsyad, mengemukakan empat fungsi media pembelajaran yaitu:
1)      Fungsi Atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkosentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
2)      Fungsi Afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visualdapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
3)      Fungsi Kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
4)      Fungsi Kompensatoris media pengajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pengajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.[21]

Yudhi secara lebih rinci dan lebih komplek menjelaskan fungsi media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.      Fungsi media pembelajaran sebagai sumber belajar
Secara teknis, media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar. Dalam kalimat “sumber belajar” ini terirat makna keaktifan, yakni sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan lain-lain. Maka, untuk beberapa hal media pembelajaran dapat menggantikan fungsi guru­- terutama- sebagai sumber belajar.
2.      Fungsi semantik
Yakni kemampuan media dalam menambah perbendaharaan kata (simbol verbal) yang makna atau maksudnya benar-benar dipahami anak didik (tidak verbalistik). Misalnya, kata iman, etika, akhlak, atau tanggung jawab, maka masalah komunikasi menjadi tambah rumit, yakni bila komunikasinya melalui bahasa verbal.
3.      Fungsi psikologis
a.       Fungsi atensi, yakni media pembelajaran dapat meningkatkan perhatian (attention) siswa terhadap materi ajar.
b.      Fungsi afektif, yakni menggugah perasaan, emosi, dan tingkat penerimaan atau penolakan siswa terhadap sesuatu.
c.       Fungsi kognitif, yakni siswa yang belajar melalui media pembelajaran akan memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, baik objek itu berupa benda, orang, atau kejadian/ peristiwa.
d.      Fungsi imajinatif, yakni media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengembangkan imajinasi anak.
e.       Fungsi motivasi, yakni motivasi merupakan usaha dari pihak luar dalam hal ini adalah guru untuk mendorong, mengaktifkan dan menggerakkan siswanya secara sadar untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
4.      Fungsi sosio-kultural
Yakni mengatasi hambatan sosio-kultural anatar peserta komunikasi pembelajaran.[22]

          Dengan demikian fungsi media pembelajaran dapat menjangkau keterbatasan ruang dan waktu sehingga mampu meningkatkan efektifitas proses pembelajaran khususnya dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

c.       Jenis Dan Macam Media Pembelajaran
          Menurut Wina Sanjaya, media pemelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi, yaitu:
a.       Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi ke dalam:
1)      Media Auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memilki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.
2)      Media Visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. Yang termasuk ke dalam media ini adalah film slide, foto, tranfaransi, lukisan, gambar dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperi media grafis dan lain sebagainya.
3)      Media Audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengnadung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan selain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur jenis media yang pertama dan kedua.
b.      Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media dapat pula dibagi ke dalam:
1)      Media yang memilki daya liput yang luas dan serentak seperti radio dan televisi. Melalui media ini siswa dapat mempelajari hal-hal atau kejadian-kejadi yang aktual secara serentak tanpa harus menggunaan ruangan khusus.
2)      Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu seperti film slide, film, video dan lainnya.
c.       Dilihat dari cara atau tehknik pemakainnya, media dapat di bagi ke dalam:
1)      Media yang diproyeksikan seperti film, slide, strip, tranparansi, dan lain sebagainya. Jenis media yang demikian memrlukan alat proyeksi khusus seperti film projector untuk memproyeksikan film, slide projector untuk memproyeksikan film slide, operhead projector (OHP) untuk memproyeksikan transparansi. Tanpa dukungan alat proyeksi semacam ini, maka media semacam ini tidak akan berfungsi apa-apa.
2)      Media yang tidak dapat diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan, radio dan lain sebagainya.[23]

Dari pemaparan para ahli di atas dapat dimengerti bahwa, jenis dan macam media pembelajaran sangat beragam, bisa dikatakan, semakin beragamnya materi ajar yang diajarkan maka semakin beragam pula media pembelajaran yang akan digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar. Tetapi yang perlu dipahami di sini bahwa, “penggunaan media di atas tidak dilihat atau dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting adalah fungsi dan peranannya dalam membantu mempertinggi proses pengajaran”.[24]
d.      Pemilihan Media Pembelajaran
Dalam pengunaan media pembelajaran, guru tidak hanya memiliki pengetahuan tentang media pembelajaran saja, tetapi guru juga harus terampil dalam memilih media yang cocok dan sesuai dengan materi yang diajarkan. Hamalik menegaskan bahwa “guru tidak cukup hanya memilki pengetahuan kemedian saja, akan tetapi juga harus memilki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dengan baik. Untuk itu ia perlu mengalami latihan-latihan praktik secara kontinu dan sistematis....”[25]
Menurut Azar Arsyad, ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media.[26]
a)      Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan tujuan instruksional yang telah ditetapkan yang secara umum megacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip atau generalisasi. Media yang berbeda misalnya, film dan grafik memerlukan simbol dan kode yang berbeda, dan oleh karena itu memerlukan proses dan keterampilan mental yang berbeda untuk memahaminya.
b)      Praktis, luwes, dan bertahan. Jika tidak tersedia dana, waktu, atau sumber daya lain untuk memproduksi tidak perlu dipaksakan. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimanapun dan kapanpun dengan peralatan yang tersedia disekitarnya serta mudah untuk dipindah dan dibawa.
c)      Guru terampil untuk menggunakannya. Ini merupakan salah satu kriteria utama, apapun jenisnya guru dituntut untuk mampu menggunaknnya dengan baik dalam proses belajar mengajar.
d)     Pengelompokan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk jenis kelompok besar, kelompok sedang, kelompok kecil dan perorangan.

Lebih lanjut Arsyad menjelaskan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran yaitu:[27]
1.      Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitas dan peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia (waktu mengajar dan pengembangan materi dan media), sumber-sumber yang tersedia (manusia dan material);
2.      Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi pembelajaran dari sisi tugas yang ingin dilakukan siswa, misalnya penghafalan, penerapan keterampilan, pengertian hubungan-hubungan, atau penalaran dan pemikiran tingkatan yang lebih tinggi. Setiap katagori pembelajaran itu menuntut perilaku yang berbeda-beda, dan dengan demikian akan memerlukan teknik dan media penyajian yang berbeda pula.
3.      Hambatan dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal, seperti membaca, mengetik dan menggunakan komputer, dan karakteristik siswa lainnya.
4.      Pertimbangan lainnya adalah kesenangan (preferensi lembaga, guru dan pelajar) dan keefektivan biaya.

Dapat dihpami bahwa, pemilihan salah satu media sangat menentukan efektif atau tidaknya proses pembelajaran karena banyak faktor yang harus yang perlu diperhatikan, seperti minat, bakat, biaya pengadaan media, dan hambatan sosio kultural yang melatarbelakangi peserta didik yang begitu beragam, turut menjadi perhatian.
Dengan demikian, dalam pemilihan media yang tepat dalam proses pembelajaran Sadiman mejelaskan bahwa, “ditinjau dari kesiapannya, media dikelompokkan dalam dua, yaitu media jadi karena sudah merupakan komoditi perdagangan dan terdapat di pasaran luas dalam keadaan siap pakai (media by utilization), dan media rancangan karena perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus untuk maksud atau tujuan pembelajaran tertentu (media by design).[28]
e.       Manfaat Media Pembelajaran
          Media pembelajaran dalam proses pembelajaran selain mempermudah penyerapan makna isi materi ajar, manfaat yang bisa rasakan adalah dapat menpmpengaruhi semua indra, karena kita ketahui bahwa, media pembelajaran mampu mengaktifkan semua indra dan menjangkau keterbatasan ruang dan waktu. Senada dengan ini,Arsyad mengutip pendapatnya Yunus dalam bukunya Attarbiyah Watta’lim menguraikan bahwa: “Bahwasanya media pembelajaran paling besar pengaruhnya bagi indra dan lebih dapat menjamin pemahaman ... orang yang mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dan lamanya bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan mereka yang melihat, atau melihat dan mendengarnya”.[29]
          Sudjana dan Rivai[30] secara lebih rinci mengemukakan beberapa manfaat media pengajaran dalam proses belajar mengajar antara lain:
a)      Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
b)      Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik
c)      Metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran
d)     Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemontrasikan dan lain-lain.

          Dapat dipahami bahwa, intraksi yang terjadi dalam proses pembelajaran, meteri ajar yang disampaikan guru tidak sepenuh bisa dicerna dengan baik, karena setiap indra yang menerima pesan memilki keterbatasan. Untuk itu media pengajaran memilki peran yang sangat strategis untuk menyalurkan pesan baik melalui indra pendengar, penglihatan maupun kedua-duanya. Sejalan dengan pembahasan di atas, Arsyad[31] menjelaskan manfaat media pembelajaran yaitu:
a)      Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
b)      Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, intraksi yang lebih langsung atara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sindiri-sindiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
f.       Penggunaan Media Pembelajaran
Iklim, kondisi dan suasana belajar yang kaku dan monoton mengakibatkan siswa menjadi pasif dan kurang bersemangat dalam mengikuti proses belajar mengajar. Walaupun media pembelajaran bukanlah suatu keharusan, tetapi jika dilihat dari kebutuhan siswa, maka hal itu sangat diperlukan. Karena penggunaan media pembelajaran dapat menunjang prestasi dan meningkatkan motivasi belajar siswa.
Sudjana dan Rivai menyatakan bahwa:
“Penelitian yang dilakukan terhadap pengunaan media pengajaran dalam proses belajar-mengajar sampai kepada kesimpulan, bahwa proses dan hasil belajar para siswa menunjukkan perbedaan yang berarti antara pengajaran tanpa media dengan pengajaran menggunakan media. Oleh sebab itu penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran”.[32]
Selain itu penggunaan media pembelajaran dapat mengurangi bahasa verbal yang sering membawa siswa pada pemahaman yang masih samar-samar dan dangkal. Pesan atau isi pokok dalam materi yang disampaikan oleh guru tidak akan berarti jika hanya menggunakan pembelajaran yang bersifat konvensional, karena pembelajaran seperti ini hanya akan merangsang satu indra saja. tetapi dengan penggunaan media pembelajaran, terutama pada awal proses pembelajaran.
Hamalik dalam Arsyad mengemukakan bahwa,“Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa”.[33]
Adapun dalam pemanfaatan media pembelajaran terbagi menjadi dua pola, sebagaimana yang dipaparkan oleh Arief S. Sadiman yaitu pemanfaatan media dalam situasi kelas (classroom setting) dan pemanfaatan media di luar situasi kelas. Adapun pemanfaatan media dalam situasi kelas, yakni media pembelajaran dimaanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu. Pemanfaatannya pun dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas.[34]
Lebih lanjut Munadi menjelaskan bahwa, Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan oleh guru dalam pemanfaatan media pembelajaran di kelas ini, yaitu :
Pertama, persiapan guru: pada langkah ini guru menetapkan tujuan yang akan dicapai melalui media pembelajaran sehubungan dengan pelajaran (materi) yang akan dijelaskan berikut dengan strategi-strategi penyampaiannya. Kedua, persiapan kelas: pada langkah ini bukan hanya menyiapkan perlengkapan, tetapi juga mempersiapkan siswa dari sisi tugas misalnya, agar dapat mengikuti, mencatat, mengananlisis, mengeritik, dan lain-lain. Ketiga, penyajian: penyajian media pembelajaran sesuai dengan karateristiknya. Keempat, langkah lanjutan dan aplikasi: sesudah penyajian perlu ada kegiatan belajar sebagai tindak lanjutnya, misalnya diskusi, laporan, dan tugas lain”.[35]


Merujuk pada paparan di atas, dapat dipahami bahwa apabila seorang akan menggunakan media dalam proses pembelajaran, maka seorang pendidik telebih dahulu mengadakan persiapan, pengelolaan kelas, penyajian hingga sampai pada tindak lanjut agar proses pembelajaran lebih bermakna lagi bagi peserta didik.
Oleh karena itu, hal-hal di atas perlu diperhatikan oleh pendidik sebelum memanfaatkan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar agar pemanfaatan media lebih efektif dan lebih optimal, sehingga tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya bisa tercapai dengan maksimal.
Adapun prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut:[36]
1)      Penggunaan media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai bagian integral dari suatu sistem pengajaran dan bukan sebagai alat bantu yang berfungsi sebagai tambahan yang digunakan bila dianggap perlu dan hanya dimanfaatkan bila sewaktu-waktu digunakan.
2)      Media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar
3)      Guru hendaknya atdapat menagatasi teknik-teknik dari suatu media pembelajaran yang diigunakan
4)      Guru seharusnya memperhitungkan untung ruginya pemanfaatan suatu media pembelajaran
5)      Penggunaan media pembelajaran harus diorganisasi secara sistematis bukan sembarang menggunakan
6)      Jika sekiranya suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari beberapa macam media, maka guru dapat memanfaatkan miltimedia yang menguntungkan dan memperlancar proses belajar mengajar dan juga dapat merangsang siswa dalam belajar.
Prinsip-prinsip di atas sangat penting diperhatikan dan menjadi acuan dasar dalam menerapkan dan memanfaatkan media pembelajaran, agar penggunaan media tidak semata-mata menjadi alat bantu mengajar yang pada ujungnya bisa menghambat proses pembelajaran, karena ketidaksesuaian antara materi dengan media yang digunakan.
Dengan demikian, sebelum guru memanfaatkan media pembelajaran, terlebih dahulu guru harus mengetahui tentang seluk-beluk atau ilmu tentang media agar tidak salah kaprah dalam penggunaan media.
g.      Problema Dalam Penggunaan Media Pembelajaran
Menurut Wibowo[37] dalam tulisannya, menjelaskan bahwa: Berdasarkan pengalaman, pengamatan dan diskusi dalam berbagai kesempatan dengan para guru, terdapat beberapa alasan guru tidak menggunakan media pembelajaran, yaitu :
Pertama, menggunakan media itu repot. Mengajar dengan menggunakan media perlu persiapan. Apalagi kalau media itu semacam OHP, audio visual, vcd, slide projector atau internet. Perlu listrik lagi. Guru sudah sangat repot dengan menulis persiapan mengajar, jadwal pelajaran yang padat, jumlah kelas paralel yang sedikit, masalah keluarga di rumah dan lain-lain. Mana sempat memikirkan media pembelajaran. Demikianlah beberapa alasan yang sering dikemukakan oleh para guru. Padahal kalau guru mau berpikir dari aspek lain, bahwa dengan media pembelajaran akan lebih efektif, maka tidak ada alasan repot. Pikirkanlah bahwa sedikit repot, tetapi akan mendapatkan hasil optimal. Media pembelajaran juga relatif awet, artinya sekali menyiapkan bahan pembelajaran, dapat dipakai beberapa kali penyajian. Selanjutnya tidak repot lagi.
Kedua, media itu canggih dan mahal. Tidak selalu media itu harus canggih dan mahal. Nilai penting dari sebuah media pembelajaran bukan terletak pada kecanggihannya (apalagi harganya yang mahal) namun pada efektifitas dan efisiensi dalam membantu proses pembelajaran. Banyak media sederhana yang dapat dikembangkan oleh guru dengan harga murah. Kalaupun dibutuhkan media canggih semacam audiovisual atau multi media, maka “cost-nya” akan menjadi murah apabila dapat digunakan oleh banyak murid dan beberapa guru.
Ketiga, Banyak dari guru di Indonesia yang kesulitan dalam mengoperasikan media pembelajaran yang berbasis IT. Demam teknologi ternyata menyerang sebagian dari guru-guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik, takut kena setrum, takut korsleting, takut salah pijit, dan sebagainya. Alasan ini menjadi lebih parah ditambah dengan takut rusak. Akibatnya media OHP, audio-visual atau slide projector yang telah dimiliki, sejak awal beli baru tetap tersimpan rapi di ruang kepala sekolah. Sebenarnya, dengan sedikit latihan dan mengubah sikap bahwa media mudah dan menyenangkan, maka segala sesuatunya akan berubah.
Keempat, media itu hiburan (membuat murid main-main, tidak serius),sedangkan belajar itu serius. Alasan ini sudah jarang ditemui di sekolah, namun tetap ada. Menurut pendapat orang-orang terdahulu belajar itu harus dengan serius. Belajar itu harus mengerutkan dahi. Media pembelajaran itu identik dengan dengan hiburan. Hiburan adalah hal yang berbeda dengan belajar. Tidak mungkin belajar sambil santai. Ini memang pendapat orang-orang zaman dahulu. Paradigma belajar kini sudah berubah. Kalau bisa belajar dengan menyenangkan, mengapa harus dengan menderita?. Kalau dapat dilakukan dengan mudah, mengapa harus dipersulit?
Kelima, tidak tersedianya media pembelajaran di sekolah. Tidak tersedia media pembelajaran di sekolah, mungkin ini adalah alasan yang masuk akal. Tetapi seorang guru tidak boleh menyerah begitu saja. Ia adalah seorang profesional yang harus kreatif, inovatif dan banyak inisiatif. Media pembelajaran tidak harus selalu canggih, namun dapat juga dikembangkan sendiri oleh guru. Dalam hal ini pimpinan sekolah hendaklah cepat tanggap. Jangan sampai suasana kelas itu menjadi gersang, di kelas hanya ada papan tulis dan kapur.
Selain itu menurut A. Rifqi Amin, salah satu faktor yang menjadi permasalahan guru dalam penggunaan media pembelajaran di kelas yaitu:
“Ketidak Tertarikan Peserta Didik pada Media Pembelajaran yang Digunakan. Ketidak tertarikan peserta didik terhadap media adalah dengan menunjukkan sikap ‘ogah-ogahan’ dan tidak semangat untuk melakukan proses pembelajaran jika menggunakan media pembelajaran tertentu. Sehingga apabila media tersebut dipaksakan untuk digunakan mengakibatkan posisi siswa akan terbebani, dari merasa terbebani tersebut siswa tidak akan tertarik karena sebelum memanfaatkan media tersebut, siswa sudah harus dihadapkan masalah-masalah untuk menggunakan dan memahami media yang digunakan. Mulai dari itu mereka tidak akan tertarik pada media yang sama di kemudian hari. Sehingga tidak pelak, itu akan menghasilkan kebosanan, kemalasan dan membebankan resiko pembelajaran kepada siswa. Dan pada akhirnya tujuan pembelajaran yang seharusnya dilakukan secara efisien dan efektif tidak berjalan dengan baik”.[38]

Sedangkan menurut Depdiknas[39] “Adanya masalah-masalah sarana pendidikan berupa sarana penunjang pendidikan kurang memadai disebabkan karena pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/ kota lebih banyak mengalokasikan sebagian anggaran untuk post-post lain atau Departemen lain, sementara biaya pendidikan yang dianggarakan sebesar 20 % hanya sebatas peraturan yang selama ini belum terealisasi”. Sehingga hal ini mengakibatkan pengadaan media pembelajaran sangat sulit untuk pengadaannya karena sumber dana yang dialokasikan untuk sekolah-sekolah masih belum bisa difungsikan dengan semestinya.


2.      Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP
b.      Pengertian Pendidikan Agama Islam
          Berkenaan dengan pengertian Pendidikan Agama Islam, Muhaimin memberikan definisi sebagai berikut:
Pendidikan keislaman atau Pendidikan Agama Islam, yakni upaya pendidikan agama islam atau ajaran islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang. Dalam pengertian ini dapat terwujud: (1) segenap kegiatan yang dilakukan seseorang untuk membantu seorang atau sekelompok peserta didik dalam menanmkan dan/ atau menumbuhkembangkan ajaran islam dan nilai-nilainya untuk dijadikan sebagai pandangan hidupnya, yang diwujudkan dalam sikap hidup dan dikembangkan dalam keterampilan hidupnya sehari-hari; (2) segenap fenomena atau peristiwa perjumpaan anatara dua oang atau lebih yang dampaknya ialah tertanamnya dan/ atau tumbuh kembangnya ajaran islam dan nilai-nilainya pada salah satu atau beberapa pihak[40].

Sedangkan menurut Ramayulis,
“Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berahklak mulia, mengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya kitab suci al-Qur’an dan al-Hadis, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman”.[41]

          Dari pendapat para ahli di atas dapat dipahami bahwa, esensi Pendidikan Agama Islam adalah upaya untuk membentuk kepribadian peserta didik baik dari segi keilmuan, pemahaman dan pengamalan keagamaan Islam yang berdasarkan atas prinsip-prinsip ajaran Islam, dengan harapan terwujud pribadi yang sempurna.
          Tetapi secara lebih luas Pendidikan Agam Islam akan mampu mewujudkan toleransi umat beragama sehingga tercipta persatuan naional sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhaimin, yaitu:
Di dalam GBPP di sekolah umum, dijelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/ atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghirmati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.[42]

          Dengan demikian Pendidikan Agama Islam di sekolah merupakan wadah untuk mewujudkan peribadi yang mengerti, memahami dan mampu mengamalkan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP
Tujuan merupakan hasil akhir dari suatu proses yang dilakukan. Dengan demikian tujuan pendidikan adalah sesuatu yang hendak dicapai dalam proses pendidikan. Terkait dengan hai ini, Anwar dan Ramli memberikan gambaran tentang tujuan Pendidikan Agama Islam, yaitu: “Untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang mahaesa dan membentuk pribadi yang memilki akhlak mulia yang sesuai dengan nilai agama.[43]
Sedangkan menurut Rahman, tujuan Pendidikan Agama Islam yang ingin dicapai yaitu, “Untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam mengembangkan, memahami, menghormati dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam, penguasaan ilmu pengetahuan, tehknologi dan seni”.[44]
Lebih rinci lagi dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,[45] menejelaskan bahwa, Standar Kompetensi Lulusan Pelajaran PAI tingkat SMP ialah:
a.       Menerapkan tata cara membaca al-Qur'an menurut tajwid, mulai dari cara membaca "al"-Syamsiyah dan "al"-Qomariyah sampai kepada menerapkan hokum bacaan mad dan waqaf.
b.      Meningkatkan pengenalan dan keyakinan terhadap aspek-aspek rukun iman mulai dari iman kepada Allah sampai kepada iman kepada qadha dan qadar serta asmaul husna.
c.       Menjelaskan dan membiasakan perilaku terpuji seperti amanah dan tasamuh dan menjauhkan diri dari perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab, dan namimah.
d.      Menjelaskan tata cara mandi wajib dan shalat munfarid dan jama'ah bahkan shalat wajib maupun shalat sunnat.
e.       Memahami dan meneladai sejarah Nabi Muhammad dan para shahabat serta menceritakan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di nusantara.

Dari pemaparan di atas, terlihat jelas bahwa pelajaran Pendidikan Agama Islam ialah suatu pelajaran yang memegang peranan penting dalam pembentukan pribadi siswa SMP. Apalagi di usia mereka, dapat digolongkan remaja awal, yang membutuhkan wadah dalam mengekspresikan keingintahuan dan pengembangan diri.
Oleh karena itu Pendidikan Agama Islam diperlukan selain untuk pemantapan keyakinan tentang agama Islam, juga sebagai jembatan dalam pembiasaan berperilaku terpuji. Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani serta menumbuhsuburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi dengan Allah SWT, manusia dan alam semesta.
Dengan demikian tujuan Pendidikan Agama Islam mampu meningkatkan pemahaman siswa tentang ilmu-ilmu keagaamaan dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP
Menurut Ramayulis, “Metode adalah seperangkat cara, jalan dan tehknik yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabi mata pelajaran”.[46]
Sedangkan menurut Pupuh dan Sobry menjelaskan bahwa,
“Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah diteatapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. menguasai metode mengajar merupakan keniscayaan, sebab seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik apabila ia tidak menguasai metode secara tepat”.[47]

Lebih jauh lagi, Syaiful Bahri dan Winarno dalam Pupuh dan Sobry mengemukakan lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar, yakni:
a)      Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya;
b)      Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya;
c)      Situasi berlainan keadaannya;
d)     Fasilitas bervariasi secara kualitas dan kuantitasnya;
e)      Kepribadian dan kompetensi guru yang berbeda-beda.[48]

Dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, pemilihan metode harus disesuaikan dengan materi ajar agar proses pembelajaran lebih bermakna untuk peserta didik. Hal ini menuntut guru untuk lebih profesional lagi dalam menetukan bahan ajar yang bingkai dengan metode dan diringi dengan media pembelajaran, agar siswa dapat memahami dengan baik pesan-pesan pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran yang monoton dan kaku dapat dihindari dengan penggunaan metode yang bervariasi, supaya iklim dan kondisi pembelajaran lebih menyenangkan dan hidup.
Berkenaan dengan hal di atas, Muzayyin[49] mengemukakan bahwa, dalam Pendidikan Agama Islam harus memperhatikan beberapa aspek yaitu:
a)      Pendidik dengan metodenya harus mampu membimbing, mengarahkan, dan membina anak didik menjadi manusia yang matang atau dewasa dalam sikap dan kepribadiannya, sehingga terambarlah dalam tingkah lakunya nilai-nilai Islam dalam dirinya.
b)      Anak didik yang tidak hanya menjadi objek pendidikan atau pengajaran, melaikan juga menjadi subyek yang belajar, memerlukan suatu metode belajar agar dalam proses belajarnya dapat searah dengan cita-cita pendidik atau pengajarnya.

Lebih jauh lagi Muzayyin menjelaskan, “dengan demikian jelaslah kepada kita bahwa metode pendidikan yang harus dipergunaan oleh para pendidik/ pengajar adalah yang berprinsip pada child centered yang lebih memntingkan anak didik daripada pendidik sendiri”.[50]
d.      Ruang Lingkup Materi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP
Menurut Rachman ada beberapa ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah menengah pertama (SMP) terfokus pada beberapa aspek yaitu: 1) Keimanan;2)Alquran/ hadis; 3) Ahklak; 4) Fiqih/ ibadah; 5) tarikh.[51]
Sedangkan dalam Silabus dan Standar Isi tentang materi pelajaran PAI  di SMP kelas VIII secara khusus ruang lingkupnya yaitu:[52]
A.    Semester I
1.      Al-Quran : Menerapkan hukum bacaaan Qalqalah  dan Ra, yaitu: 1) Menjelaskan hukum bacaan Qalqalah dan Ra; 2) Menerapkan hukum bacaan Qalqalah dan Ra dalam bacaan surat-surat Al-Quran dengan benar.
2.      Aqidah : Meningkatkan keimanan kepada Kitab-kitab Allah yaitu: 1) Menjelaskan pengertian beriman kepada Kitab-kitab Allah; 2) Menyebutkan nama-nama Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Rasul; 3) Menampilkan sikap mencintai Al-Quran sebagai Kitab Allah
3.      Akhlak : (a) Membiasakan perilaku terpuji, yaitu: 1) Menjelaskan pengertian zuhud dan tawakal; 2) Menampilkan contoh perilaku zuhud dan tawakal; 3) Membiasakan perilaku zuhud dan tawakal dalam kehidupan sehari-hari. (b) Menghindari perilaku tercela, yaitu: 1) Menjelaskan pengertian ananiah, ghadhab, hasad, ghibah, dan namimah; 2) menyebutkan contoh-contoh perilaku ananiah, ghadhab, hasad, ghibah, dan namimah; 3) Menghindari perilaku ananiah, ghadhab, hasad, ghibah, dan namimah dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Fiqih : (a) Mengenal tatacara shalat sunnat, yaitu: 1) Menjelaskan ketentuan shalat sunnat rawatib; 2) Mempraktikkan shalat sunnat rawatib. (b) Memahami macam-macam sujud, yaitu: 1) Menjelaskan pengertian sujud syukur, sujud sahwi, dan sujud tilawah; 2) Menjelaskan tatacara sujud syukur, sujud sahwi, dan sujud tilawah; 3) Mempraktikkan sujud syukur, sujud sahwi, dan sujud tilawah. (c) Memahami tatacara puasa, yaitu: 1) Menjelaskan ketentuan puasa wajib; 2) Mempraktikkan puasa wajib; 3) Menjelaskan ketentuan puasa sunnah Senin-Kamis, Syawal, dan Arafah; 4) Mempraktikkan puasa sunnah Senin-Kamis, Syawal, dan Arafah. (d) Memahami zakat, yaitu: 1) Menjelaskan pengertian zakat fitrah dan zakat mal; 2) Membedakan antara zakat fitrah dan zakat mal; 3) Menjelaskan orang yang berhak menerima zakat fitrah dan zakat mal; 4) Mempraktikkan pelaksanaan zakat fitrah dan akat mal.
5.      Tarikh dan Kebudayaan Islam : Memahami sejarah Nabi Muhammad Saw, yaitu: 1) Menceritakan sejarah Nabi Muhammad Saw. dalam membangun masyarakat melalui kegiatan ekonomi dan perdagangan; 2) Meneladani perjuangan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat di Madinah.
B.      Semester II
1.      Al-Quran : Menerapkan hukum bacaaan Mad dan Waqaf, yaitu: 1) Menjelaskan hukum bacaan Mad dan Waqaf; 2) Menunjukkan contoh hukum bacaan Mad dan Waqaf dalam bacaan surat-surat Al-Quran. 3) mempraktikkan bacaan Mad dan Waqaf dalam bacaan surat-surat Al-Quran.
2.      Aqidah : Meningkatkan keimanan kepada Rasul Allah, yaitu: 1) Menjelaskan pengertian beriman kepada Rasul Allah; 2) Menyebutkan nama dan sifat-sifat Rasul Allah; 3) Meneladani sifat-sifat Rasulullah Saw.
3.      Akhlak : (a) Membiasakan perilaku terpuji, yaitu: 1) Menjelaskan adab makan dan minum; 2) Menampilkan contoh adab makan dan minum; 3) Mempraktikkan adab makan dan minum dalam kehidupan sehari-hari. (b) Menghindari perilaku tercela, yaitu: 1) Menjelaskan pengertian perilaku dendam dan munafik; 2) Menjelaskan ciri-ciri pendendam dan munafik; 3) Menghindari  perilaku pendendam dan munafik dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Fiqih : Memahami hukum Islam  tentang hewan sebagai sumber bahan makanan, yaitu: 1) Menjelaskan jenis-jenis hewan yang halal dan haram dimakan; 2) Menghindari makanan yang bersumber dari binatang yang diharamkan.
5.      Tarikh dan Kebudayaan Islam : Memahami sejarah dakwah Islam, yaitu: 1) Menceritakan sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan Islam sampai masa Abbasiyah; 2) Menyebutkan tokoh ilmuwan Muslim dan perannya sampai masa daulah Abbasiyah.

Begitu kompleksnya materi yang akan diajarkan, maka proses pembelajaran di kelas harus di desain dengan mengutamakan dan mengedepankan kebutuhan siswa. Dan untuk menunjang agar proses belajar mengajar berjalan optimal maka penggunaan media pembelajaran sangat di butuhkan agar penyajian materi dapat diterima dengan baik oleh siswa.
e.       Peran Guru/ Pendidik Pendidikan Agama Islam Di SMP
Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB XI pasal 39 ayat 2 menjelaskan bahwa:
“Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdia kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”.[53]

Sedangkan menurut Ramayulis berpendapat bahwa, “Orang yang melaksanakan bimbingan terhadap peserta didik secara islami, dalam suatu situasi pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan ajaran Islam[54].
Dengan demikian seorang pendidik/ guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam harus memilki seperangkat keilmuan tentang Pendidikan Agama Islam (teori-teori ilmu keislaman) dan mampu mengaktualisaasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi panutan peserta didik. Daya kreasi pendidik juga sangat berpengaruh dalam membina, mengarahkan dan mengembangkan segala potensi yang melekat pada peserta didik.
Mengingat begitu kopleksnya muatan materi ajar Pendidikan Agama Islam di SMP khususnya kelas VIII maka seorang guru selain menggunakan metode, tetapi juga penggunaan media menjadi sesuatu yang sangat urgen. Untuk itu guru harus memilki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran, yaitu:
a.       Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar;
b.      Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan;
c.       Seluk-beluk proses belajar;
d.      Hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan;
e.       Nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran;
f.       Pemilihan dan penggunaan media pendidikan;
g.      Berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan;
h.      Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran;
i.        Usaha inovasi dalam media pendidikan.[55]
Dengan demikian, guru akan mampu mendesain proses pembelajaran agar peserta didik menjadi aktif dan lebih memahami dan menghayati materi ajar dengan baik. Oleh karena itu, sebelum guru melakukan proses belajar mengajar, terlebih dahulu harus mengetahui motede yang cocok dan memilih media yang sesuai agar mampu menunjang proses pembelajaran.
G.    Metode Penelitian
1.    Pendekatan Penelitian
Moleong memaparkan bahwa,
“penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah”.[56]

Sedangkan menurut Nana Sudjana dan Ibrahim mengemukakan bahwa, “Metode kualitatif sering digunakan untuk menghasilkan grounded theory, yakni teori yang timbul dari kata bukan dari hipotesis-hipotesis seperti dalam metode kuantitatif”.[57]
Selain itu, Margono mendefinisikan, “Metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”.[58]
Berangkat dari definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat dipahami bahwa, pendekatan kualitatif merupakan suatu pendekatan yang dilakukan dalam suatu penelitian yang lebih mengarah pada gejala-gejala yang bersifat alamiah. Penelitian ini dikenal dengan penelitian kualitatif naturalistik, karena penelitian ini bersifat alami dan penelitian ini tidak dilakukan di laboraturium tetapi di lapangan.
Sehubungan dengan dengan pelaksanaan penelitian ini, penulis melakukan pendekatan dengan pendekatan kualitatif karena data yang akan diperoleh di lapangan lebih banyak berupa informasi, konsep-konsep dan keterangan-keterrangan bukan dalam bentuk angka-angka.
2.    Kehadiran Peneliti
Kedudukan peneliti di lokasi penelitian sebagai instrumen kunci atau pelaku utama, dengan tujuan untuk mendapatkan data atau informasi yang valid. Dalam penelitian ini, peneliti menjadi observer untuk mengamati dengan cermat gejala-gejala yang muncul dari objek yang diteliti. Namun peneliti tidak boleh melakukan sesuatu yang dapat mempengaruhi responden dalam memberikan informasi, dengan kata lain peneliti harus obyektif dalam mencari data dari para responden.
Sebelum peneliti hadir di lokasi penelitian, terlebih dahulu melakukannya melalui proses dan prosedur, anatara lain mendapatkan rekomendasi atau surat izin penelitian dari instansi terkait serta menentukan instrumen dan alat-alat bntu yang dipergunakan dalam penelitian.
Jadi, dalam penelitian ini kehadiran peneliti di lapangan dalam rangka mengumpulkan, menganalisa dan menguji melalui berbagai cara sehingga meningkatkan kredibilitas hasil penelitian.
3.    Sumber Dan Jenis Data
Terkait dengan sumber data, Lofland dan Lofland dalam Moleong memaparkan, “sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain”.[59]
Bersandar pada pendapat di atas, maka dalam penelitian kualitatif ada dua macam sumber data yaitu, sumber data primer dan sumber data skunder. Sumber data primer mencakup subyeknya, yaitu guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai informan kunci beserta semua personil SMP Negeri 9 Mataram. Sedangkan sumber data sekundernya yaitu berupa dokumen-dokumen, catatan yang berhubungan dengan fokus penelitian. Adapun yang menjadi obyek penelitian pada penelitian ini adalah problema guru dalam penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 9 Mataram.
Berkaitan dengan pembahasan di atas, Arikunto menyatakan sebagai berikut:
“Apabila peneliti menggunakan teknik wawancara dalam pengumpulan data, maka sumber data di sebut responden yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan.
Apabila peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak atau proses sesuatu, dan apabila peneliti menggunakan teknik dokumentasi, maka dokumen atau catatanlah yang menjadi sumber data”.[60]

Dengan demikian, dalam melakukan penelitian ini, peneliti memilih responden yang dianggap berkompeten tentang masalah yang berkaitan dengan obyek penelitian. Sehingga untuk memperoleh data dan informasi yang valid, maka guru mata pelajaran pendidikan agama islam yang menjadi informan kunci. Alasan penulis memilih guru mata pelajaran pendidikan agama islam sebagai sumber data atau informan kunci karena guru mata pelajaran PAI merupakan pelaksana dalam proses pembelajaran dan terutama dalam penggunaan media pembelajaran pendidikan agama islam.
Adapun sumber data dalam penelitian ini dipilih secara purposivesampling. Arikunto menjelaskan, “Purposive Sampling dilakukan dengan cara mengambil subyek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu”.[61]
4.    Teknik Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data merupakan salah satu proses yang di lakukan dalam sebuah penelitian, terkait dengan obyek yang akan diteliti. Untuk memperoleh data-data yang valid maka peneliti menggunakan beberapa metode penelitian, yaitu:
a.    Metode observasi (pengamatan)
Menurut Sugiyono, “Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.”[62]
Selain itu, Margono menjelaskan, “metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tanpak terhadap objek penelitian. Pengamatan tersebut dilakukan secara langsung maupun tidak langsung”.[63]
Jadi, observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap objek penelitian dengan menggunakan semua indra. Hal ini dilakukan dalam rangka memperoleh data-data atau gambaran tentang langsung mengenai permasalahan dalam penelitian.
Sehubungan dengan penelitian ini, maka data yang ingin diperoleh dengan metode observasi adalah data atau gambaran tentang bagaimana penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 9 Mataram.
b.    Metode Wawancara
Margono menjelaskan bahwa, “metode wawancara yaitu alat pengumpul informasi dengan cara mengumpulkan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari wawancara ini adalah kontak langsung dengan tatap muka anata pencari informasi (interviewer) dengan sumber informasi (interviewoe)”.[64]
Senada dengan hal di atas, Moleong menyatakan, “wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu”.[65]
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa, metode wawancara adalah komunikasi yang dilakukan oleh pewawancara dengan mengjajukan pertanyaa-pertanyaan terhadapat terwawancara dengan tujuan tertentu.
Secara garis besar metode wawancara ada dua macam, yaitu : wawancara tersetruktur dan wawancara tak terstruktur.  Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara tak terstruktur agar wawancara terarah dan tidak keluar dari konteks permasalahan yang diteliti.
Moleong menjelaskan, dalam wawancara tak tersetruktur, “...responden biasanya terdiri atas mereka yang terpilih saja karena sifat-sifatnya yang khas. Biasanya mereka memilki pengetahuan dan mendalami situasi, dan mereka lebih mengetahui informasi yang diperlukan”.[66]
Alasan peneliti menggunakan wawancara tak terstruktur karena peneliti lebih dahulu memilih responden atau informan kunci yaitu, guru mata pelajaran pendidikan agama islam di SMP Negeri 9 Mataram. Di sini guru mata pelajaran pendidikan agama islam lebih mengetahui permasalahan yang terjadi dalam penggunaan media pembelajaran.
Jadi, denagan wawancara maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang permasalahan yang tidak ditemukan dalam metode observasi.
Adapun peneliti menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan informasi tentang :
1)      Problematika apa saja yang dihadapi oleh guru dalam penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 mataram
2)      Solusi apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi problematika penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran PAI di SMP Negeri 9 Mataram.
c.    Metode dokumentasi
Arikunto memaparkan, “Metode dokumentasi adalah data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen, rapat, agenda dan sebagainya”.[67]
Penggunaan metode dokumentasi dimaksudkan untuk mencari data mengenai dokumen-dokumen, baik dokumen yang berupa gambar atau foto, benda-benda, tulisan dan sebagainya. Adapun data yang diperoleh dengan menggunaakan metode dokumentasi adalah data tentang gambaran umum lokasi penelitiaan sebagai pelengkap dalam penelitian.
5.    Analisis Data
Menurut Bogdan (dalam Sugiyono) menyatakan, “Analisis data adalah proses mencari dan menysun secara sistematis data yang diperoleh dari hail wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain”.[68]
Lebih lanjut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong) memaparkan:
“Analisi data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain”.[69]

Dari pendapat ahli di atas maka dalam analisis data kualitatif, maka yang harus peneliti lakukan adalah memilah, mengorganisasikan dan mengumpulkan data yang diperoleh baik dari metode obeservasi, wawancara maupun dokumentasi yang telah terhimpun.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisi induktif. Analisis induktif, yaitu berangkat dari kata-kata yang bersifat khusus selanjutnya ditarik kesimpulan yang berlaku umum. Dimana peneliti akan mensinkronkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Hal ini sesuai yang dijeskan oleh Sugiyono, yaitu: “Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan  data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis”.[70]
Sehingga dapat dipahami bahwa, data-data yang diperoleh dilapangan, baik melalui wawancara, observasi maupun dokumentasi disimpulkan secara khusus kemudian dikembangkan hingga mendapatkan kesimpulan secara lebih umum.
6.    Validitas Data
Untuk menguji validitas data yang penulis peroleh di lapangan, penulis mnggunakan beberapa teknik, yaitu:
1)      Perpanjangan keikutsertaan
Moleong menjelaskan, “perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lapangan sampai kejenuhan pengumpulan data tercapi. Jika hal itu dilakukan maka akan membatasi:
a)      Membatasi gangguan dari dampak peneliti pada konteks
b)      Membatasi kekliruan (biases) peneliti
c)      Mengkonpensasi pengaruh dari kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat.[71]
Dengan demikian, perpanjangan keikutsertaan peneliti dapat menguji kebenaran informasi yang diperoleh dari guru mata pelajaran PAI, selain itu antara peneliti dan informan kunci (guru mata pelajaran PAI) makin mampu menciptakan keakraban sehingga memudahkan guru mata pelajaran agama islam mengungkapkan sesuatu secara transparan dan ungkapan hati yang tulus dan jujur.
2)      Ketekunan/ Keajegkan Pengamatan
Menurut Moleong, “ketekunan pengamatan bermaksud menemukakan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci”.[72]
Selain itu sugiyono menjelaskan bahwa, meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.[73]
3)      Tianggulasi
Moleong memaparkan bahwa, triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.[74] Ada beberapa jenis triangulasi yaitu:
a)      Triangulasi sumber
Trianggulasi sumber data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.[75] Sedangkan Patton dalam Moleang menejalaskan bahwa, “Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.[76]
b)      Triangulasi metode
Menurut Pattaon dalam Moleong terdapat dua starategi dalam mengunakan triangulasi dengan metode yaitu: 1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penenlitian beberapa teknik pengumpulan data dan; 2) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. [77]
c)      Triangulasi teori
Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba dalam Moleong, berdasarkan anggapan bahwa fakta tidak dapa dipriksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori. Di pihak lain Patton berpendapat yaitu, hal itu dapat dilaksanakan dan hal itu dinamakannya penjelasan banding (rival explanation).[78]


[1] Undang- Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Beserta Penjelasannya. (Bandung: Citra Umbara, 2003), h.3.
[2] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), h. 12.
[3] Abdul Rahman shaleh,  Pendidikan Agama & Pembangunan Watak Bangsa, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h. 16
[4] Fachruddin Saudagar dan Ali Idrus. “Pengembangan Profesionalitas Guru”. (Jakarta: Gaung Persada (GP Press), 2009), h. 51.
[5]Ibid., h. 31.
[6] Yudhi Munadi, Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru). (Jakarta: Gaung Persada (GP), 2012), h. 1.
[7] Abdul Rahman Shaleh, Pendidikan Agama & Pembangunan Watak Bangsa, h.25
[8] Azhar Arsyad. Media Pembelajaran. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h. 15.
[9] Ibid., h. 9.
[10] Thomas Wibowo Agung Sutijono, Pendayagunaan Media Pembelajaran, (Jurnal Pendidikan Penabur - No.04 / Th.IV / Juli 2005), dalam http://pendayagunaan-media-pembelajaran.html. diakses 26 Desember 2012, 19.30 WITA
[11] Oemar Hamalik, Media Pendidikan. (Bandung: PT Citra Aditya bakti, 1994), h. 6.
[12] Dra. Nurhayati , Wawancara, Tanggal 06 Desember 2012.
[13] Dra, ST. Nurhayati, Wawancara, Tanggal 06 Desember 2012.

[14] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h. 3.
[15] Wina Sajaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. (Jakarta: Kencana, 2011), h. 163.
[16] Azhar Arsyad. Media Pembelajaran, h. 3.
[17]Ibid., h. 3.
[18]Arief S. Sadiman, dkk. Media Pendidikan. (Jakarta: Rajawali, 2007),  h. 19.
[19]Yudhi Munadi, Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru). h. 7-8.
[20] Azhar Arsyad. Media Pembelajaran, h. 15
[21] Ibid., h.16-17.
[22] Yudhi Munadi. Media Pembelajaran (Sebuah Pendekatan Baru), h. 37-48.
[23] Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, h. 172-173.
[24]Ibid.,h. 4.
[25] Oemar Hamalik. Media Pendidikan. (Bandung: PT Aditya Bakti, 1994), h. 6.
[26] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, h. 75-75.
[27] Ibid., h. 69-71.
[28] Arief S. Sadiman, dkk. Media Pendidikan, h. 83.
[29] Ibid., h. 16
[30] Sudjana dan Rivai. Media Pengajaran (Penggunaan Dan Pembuatannya), (Bandung: Sinar Baru Algensindo), h. 2.
[31] Arsyad. Media Pembelajaran, h.26.
[32] Sudjana dan Rivai. Media Pengajaran, h. 3.           
[33] Arsyad. Media Pembelajaran, h. 15.
[34] Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, h.190.
[35] Yudhi Munadhi, Media Pembelajaran,... h. 208
[36] Asnawir dan M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta : Ciputat Press, 2002), h. 19
[37] Thomas Wibowo Agung Sutijono, Pendayagunaan Media Pembelajaran, (Jurnal Pendidikan Penabur - No.04 / Th.IV / Juli 2005), dalam http://pendayagunaan-media-pembelajaran.html. diakses 26 Desember 2012, 19.30 WITA


[39]  http://Sumberilmu.info/wp-content/uploads.   Diakses 19 Juni 2013, 12.30 WITA

[40] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 7-8.
[41] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam. (Jakarta: Kalam Mulia, 2008), h. 21.
[42] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam; Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 75-76.
[43] Khairil & Anwar, Mengikhtiarkan Pendidikan Yang Egaliter. (Mataram: Kreasi Wacana, 2010), 35.
[44] Abdul Rahman Shaleh, Pendidikan Agama & Perkembangan Watak Bangsa, h. 21.
[45] Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam, http://tedjo21.files.wordpress.com/2009/09/01-agama-islam-smp1.pdf diakses 26 Desember 2012,
19.30 WITA
[46] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, h. 4.
[47] Pupuh Fathurrahman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami.  (PT Refika Aditama, 2010), h. 15.
[48] Ibid., h. 15.
[49] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, h. 91.
[50] Ibid., h. 95.
[51]  Abdul Rahman Shaleh, Pendidikan Agama & Perkembangan Watak Bangsa, h. 93.
[53] Undang- Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Beserta Penjelasannya, h. 27.
[54] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, h. 50.
[55] Arsyad, Media Pembelajaran, h. 2.
[56] Lexy  J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 6.
[57] Nana Sujdana dan Ibrahim, Penelitian Dan Penilaian Pendidikan. (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001), h. 195
[58] Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), h. 36.
[59] Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 157.
[60] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), h. 172
[61]Ibid., h. 183
[62] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D). (Bandung: ALFABETA, 2010), h. 203.
[63] Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, h. 165.
[64]Ibid., h. 165
[65] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 186
[66]Ibid., h. 191.
[67] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, h. 274.
[68] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D), h. 334.
[69] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 248.
[70] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D), h. 245.
[71] Ibid., h. 327.
[72] Ibid., h. 329
[73] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D), h. 272.
[74] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 330
[75] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D), h.  373
[76] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 330
[77] Ibid., h. 331.
[78] Ibid., h. 331.

1 comment:

Admin said...

Informasi sangat bermanfaat untuk penunjang karir, untuk melihat informasi lowongan kerja terbaru