Friday, June 12, 2020

Pena

Ada cerita di balik makna
Ada makna di balik kata
Ada sederet kata di dalam imajinasi sang pena
Hamparan kertas duduk menunggu dengan setia
Menanti sentuhan sang kekasih
Pena datang dengan wajah memburu
Ingin menumpahkan segala yang di tahu
Kertas pasrah sambil menunggu
Setiap coretan makna sang pena

Thursday, June 11, 2020

Bayangan Sang Adam

Lelapnya hilang dalam tangisan alam
Mendengkur syahdu nyanyian ilalang
Menepis resah sendu kepiluan sang Adam
Rembulan pun datang dengan jubah kesyahduan
Di balik jeruji kehampaan
Dia datang dalam rupa menawan
Adam pun menari-nari kegirangan
Tanpa mengerti sedikit pun makna ke-diri-an
Siapakah kau gerangan
Menerka-nerka dalam bayangan kesunyian
Memoles indah di balik wujud penciptaan
Wujud suci rintihan hati sang Adam
Memekik tersungkur meraung-raung kegirangan
Sang Adam semakin gila oleh bayangan
Bayangan nista kebodohan ilusi semesta
Sang Adam pun tersungkur menangis keasyikan
Laiknya dendang lagu tak bermakna
Kau bukanlah sang Adam
Kau bukanlah sang Nama
Kau bukanlah sang Pewaris
Kau bukanlah semesta
Kau hanya ego dalam rupa terbungkus raga
Raga hina pembunuh Sukma
Menjauhlah
Kau belum layak menjadi sang Adam



Renungan kaum berakal

"jangan kamu bertanya kenapa aku diciptakan tetapi bertanyalah kepada dirimu sendiri 'bagaimana aku diciptakan".
Sebagian orang akan mengatakan 'ini adalah pertanyaan konyol', tetapi sebagian orang akan berpikir 'iya bagaimana aku diciptakan'. Pada hakikatnya ketika kita bertanya 'kenapa', pada hakikatnya hanyalah ingin mencoba mengklaim "ke-aku-an" diri semata, sehingga manusia sering lupa akan hakikat diri sebenarnya. Manusia cenderung untuk lebih tau alasan-alasan tuhan menciptakan dirinya sehingga mencoba menelisik kembali argumentasi yang hanya didasarkan pada logika semata. Hal tersebut berimplikasi pada pola pikir, cara pandang, cara bertindak hingga mengarah pada "fanatisme ke-aku-an". Contohnya saja, sering orang melontarkan pertanyaan yaitu "kenapa kita harus beribadah kepada Tuhan", padahal pertanyaan yang sebenarnya adalah " bagaimana semestinya kita beribadah kepada Tuhan". Pertanyaan tersebut muncul karena mereka tidak faham bagaimana dia diciptakan oleh Tuhannya.... BERSAMBUNG........

Keterbatasan akal b.2

Ironisnya, ke-aku-an akal tidak hanya berhenti pada tahapan itu, tetapi menyelinap lebih dalam sehingga berani mengkultuskan sebuah "klaim" akan kebenaran alih-alih dijadikan sebagai dasar "keyakinan". Jika dikaji secara lebih mendalam, memang ada beberapa wilayah yang memang akal tidak bisa masuk ke dalamnya, karena pada wilayah itu hanya diperuntukkan untuk hati manusia saja. Tetapi karena akal dengan "egonya" mencoba mengurai titah tuhan dengan 'pena logika' yang hanya berakhir dengan kebingungan. Kenapa? Mengingat bagaimana akal menolak perintah Tuhan pertama kali dia diciptakan, keenganannya untuk mengakui bahwa Tuhan adalah penciptanya, wajar saja jika akal sulit untuk mengurai indah 'sastra-sastra' tuhan dalam bingkai tajalli-Nya. Karena hal inilah maka Tuhan mendakwakan kepada akal untuk menyelami kembali bagaimana ia (baca: akal) di alam primordialnya dihujamkan oleh tuhan dilembah kenistaan dalam kurun waktu yang sangat lama. Tetapi, karena akal "degil" dengan perintah Tuhan maka dihujamkan lagi dalam kurun waktu yang sangat lama, dan terus berulang-ulang hingga akhirnya dia mengaku bahwa "Dia" adalah Tuhan ku, dalam sujud nista kebodohannya sendiri... BERSAMBUNG..!

Memahami keterbatasan Akal

Realisasi diri merupakan salah satu bentuk imajinasi dari Tuhan. Kreasi-kreasi unik yang dimainkan oleh-Nya, merambah ke setiap permukaaan melalui tajalli yang menyeruak sehingga akal sulit untuk memahami fenomena tersebut. Akal dengan segenap aksesoris yang dimilikinya tertahan di satu titik yang bersifat "final" untuk memahami semua bentuk tajalli tuhan. Fenomena tersebut menjadi kilasan hati yang dengan Tuhan menghujamkan keyakinan bagi mereka yang ingin sampai kepada tuhan (baca: orang-orang yang ditarik langsung oleh tuhan) bukan karena kemauannya sendiri. Hal ini memang kedengarannya konyol dan tidak beralasan tetapi pada kenyataannya memang itulah yang terjadi. Akal dengan segala keterbatasannya ingin mencoba menyelinap masuk diantara fenomena-fenomena sakral yang bukan menjadi bagiannya. Inilah salah satu sifat "brutal" dari akal sehingga pada gilirannya terjelembab dalam lubang 'kenistaan' yang hakiki.... BERSAMBUNG.