Saturday, January 4, 2014

Aku tak Tau Siapa aku



Jalan ini semakin lusuh untuk dilalui
Hanya bermodalkan mimpi-mimpi buram
Ku tapaki lautan yang amat luas
Tapi, perahuku retak tergenang air yang tak kenal kasihan
Duh.. Aduh..!!
Sungguh malang nasib daku
Isak tangis dibelantara malam yang kelam
Tersudut suara rintihan yang bertalu merdu
Alam seakan tak kenal siapa pun, itu
Jauh di sana, gemerincing tawa bertalu-talu
Iringin tabuh gendang yang melamunkan
Sosok peri bernyanyi syahdu dipinggir danau keabadian
Mengisyaratkan akan kebahagian
Wajah lusuh yang di kenal begitu hina
Langkah lunglai dalam mimpi yang mati
Demi diri yang singgah dipraduan khayalan
Itulah derita kaum yang nestapa
Untukku, untukmu yan berkelana


Sekilas tentang Hidup



Knstruksi sosial, kini, belum mampu menjawab semua ambisi dari setiap elemen masyarakat yang umumnya merupakan “kaum papa” yang haus akan kesejahteraan. Kebahagiaan hanyalah ilusi bagi segelintir orang, khususnya mereka yang melihat kehidupan ini, amatlah hina. Begitulah realitas jika berbicara tentang kejujuran. Sungguh ironis memang, kesejahteraan dengan berbagai pernak-pernik kilauan materi, seakan selalu menajadi tolok ukur akan kesempurnaan hidup. Alih-alih memilki banyak jenis kekanyaan yang notabennya adalah materi. Memang untuk mencapai tangga tertinggi dari status sosial, seakan sudah lumrah dan menjadi identitas tersendiri bagi para “pencinta” dan “pemuja” dunia, untuk terus bisa exis sebagai orang yang “bermateri”. Begitulah ealitas memandang jika menggunakan kaca mata ekonomi.
Tetapi terkadang kita lupa, realitas yang bertenger dengan balutan “dunia materi” seakan menyilaukan, dan kita sering berasumsi bahwa tujuan akhir dari segala usaha setelah diarahkan ke sana. Kita belum sadar akan sebuah makna, hal ini memaksa kita untuk “menggauli” waktu yang terus terdiam di balik keluguannya.
Sisi hidup ini memang sangatlah rumit jika dilogikakan, begitu unik karena nalar hanya mampu menjamah sisi luarnya saja. Ionisnya, kini ukuran kesusksesan itu hanyalah terletak pada penumpukan materi semata, sedangkan hal yang paling vital yaitu knowledge tidak memilki tempat lagi di ranah kehidupan manusia yang serba materi sekarang ini. Ilmu pengetahuan atau pun akhlak menjadi suatu yang sangat tabu bagi kebanyakan orang pada zaman yang serba “memanjakan”, yang dahulunya menjadi kebanggaan dan basic bagi orang-orang yang masih memegang istilah “orang pinggiran” yang pada waktu dulu selalu menjadi produk masyarakat.
Pada zaman “manja-manjaan” saat ini memang tanpak sekilas kita telah terbabat habis oleh alur zaman yang makin “mengggila”, implikasi dari keadaan ini, kita terpaksa merubah kiblat kita kearah kemodernan yang makin menggilas setiap sisi kehidupan manusia, yang makin lugu untuk dijinakkan.
Asumsi  orang-orang yang selalu berkutat dengan “kemulian hidup” memandang bahwa akhlak adalah realitas terrtinggi dari setiap rutinitas yang diperankan oleh manusia dan merupakan modal awal untuk menjadi sosok yang sempurna. Tapi kini itu sudah menjadi tabu, karena tidak bisa dipungkiri lagi bahwa, masyarakat yang kini mendapat “gelar” sebagai masyarakat modern seakan dilema oleh kegemerlapan malam yang tabu.
Dengan demikian realitas diri yang “bodoh” ini hanya berimajinasi tetang materi dengan segala pernak-perniknya dan tak helak lagi pangkat dan jabatan, selalu menjadi destination bagi para pemburu kenikmatan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang mana pun kita melihat, maka kita akan berhenti pada satu titik yaitu siapa kita sebenarnya.?


Friday, January 3, 2014

Asa yang Mati



Biarkan saja anjing itu menggongong.!
Setan..!
Tersedu sang pelayan datang dengan kematiannya
Terkikis ego yang selama ini dikantonginya
Dera tangis dalam tawa kecilnya
Terjerat membisu dalam lena nista.
TUHAN…..!
Teriakan-teriakan kecil sebentuk keputusasaan
Larut terkikis asa yang hampa
Gumpulan awan merana termenung
Menjawab setiap naluri yang menjamah tiada kesudahan
Dendangkan daku wahai putri kayangan
Bersayap kecil mungil
Tapi kini tak bermakna
Hahahaa kaulah laknatkku kini
Bermahkota di depan bayangan kelam
Kini dan esok
Nuansa hidup yang terus mati

aktualisasi diri



Kehidupan hanyalah setapak jalan untuk dilalui. Jeda hidup harus ditapaki walau hanya torehan-torehan kecil dari segenggam asa yang memburu. Kian terasa dan bermakna jika semuanya dicerna secara jerrnih, tetesan keringat menjadi debu tatkala jemu dengan kejanggalan yang kita rasakan. Mungkin kita pernah bertenger ditangga tertinggi kehidupan. Bersuara merdu laksana putra mahkota, tampak jelas setiap karisma yang menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Tetapi itu bukan bersifat final bagi para gembala-gembala tuhan yang menadahkan tangnnya untuk sesuap nasi.
terkadang asumsi kita terhadap dunia membawa perubahan-perubahan yang paling mendasar, jika memang itu benar adanya, tidak salah jika mencoba untuk mendesain perrubahan-perubahan yang telah kita rencakan sebelumnya. Tetapi kebanyakan orang mencari makna yang paling krusial tapi belum sampai ke tahap yang paling dasar. Asumsi ini menjadikan kita sering luput akan makna perjuangan yang sesungguhnya.
Kebanyakan orang kini memandang, jika hidup ini dilalui tanpa materi maka kita tidak bisa berbuat banyak terutama dalam membiayai pendidikan dan biaya hidup lainnya. dimensi pendidikan hanyalah satu dari sekian banyak dimensi-dimensi yang meliputi kehidupan manusia. Adapun hal yang sangat mendasar dalam kehidupan adalah masalah itu sendiri, karena setiap harinya kita selalu bergelut dengan masalah-masalah yang tak kunjung habis, tapi memang itulah kehidupan yang sesungguhnya.
Kedewasaan seseorang dilihat dari bagaimana cara dia memandang kehidupan itu sendiri, dan setiap orang memilki perspektif yang berbeda-beda. Hal ini didasarkan oleh beragamnya sudut pandang dan asumsi setiap orang. Tak helak lagi para pengamen misalnya, bergelut dengan masa depan apa yang ingin dicapai dengan lingkungan yang mengitarinya. Pada intinya semua itu kembali pada diri kita masing-masing, sejauh mana kita memandang akan kehidupan ini. Dan tergantung sosok kita yang selalu ingin tau, ingin bisa dan terkadang pula kita lupa untuk mawasa diri terlebih dahulu..
Puncak dari sebuah karir walaupun itu sangat bergengsi belum tentu melampui batas kesanggupan kita yang kodratnya hanyalah sebagai manusia biasa, terkadang sedih, duka, tertawa dan atau pun menangis dengan tersedu-sedu. Implikasi dari ini semua akan bermuara pada kesempurnaan diri dan sanggup mengenal “keakuan” kita semata. So what do think,,?