Knstruksi sosial, kini, belum mampu
menjawab semua ambisi dari setiap elemen masyarakat yang umumnya merupakan “kaum
papa” yang haus akan kesejahteraan. Kebahagiaan hanyalah ilusi bagi segelintir
orang, khususnya mereka yang melihat kehidupan ini, amatlah hina. Begitulah realitas
jika berbicara tentang kejujuran. Sungguh ironis memang, kesejahteraan dengan
berbagai pernak-pernik kilauan materi, seakan selalu menajadi tolok ukur akan
kesempurnaan hidup. Alih-alih memilki banyak jenis kekanyaan yang notabennya adalah materi. Memang untuk
mencapai tangga tertinggi dari status sosial, seakan sudah lumrah dan menjadi
identitas tersendiri bagi para “pencinta” dan “pemuja” dunia, untuk terus bisa exis sebagai orang yang “bermateri”. Begitulah
ealitas memandang jika menggunakan kaca mata ekonomi.
Tetapi terkadang kita lupa, realitas yang
bertenger dengan balutan “dunia materi” seakan menyilaukan, dan kita sering
berasumsi bahwa tujuan akhir dari segala usaha setelah diarahkan ke sana. Kita belum
sadar akan sebuah makna, hal ini memaksa kita untuk “menggauli” waktu yang terus
terdiam di balik keluguannya.
Sisi hidup ini memang sangatlah rumit
jika dilogikakan, begitu unik karena nalar hanya mampu menjamah sisi luarnya
saja. Ionisnya, kini ukuran kesusksesan itu hanyalah terletak pada penumpukan
materi semata, sedangkan hal yang paling vital yaitu knowledge tidak memilki tempat lagi di ranah kehidupan manusia yang
serba materi sekarang ini. Ilmu pengetahuan atau pun akhlak menjadi suatu yang
sangat tabu bagi kebanyakan orang pada zaman yang serba “memanjakan”, yang
dahulunya menjadi kebanggaan dan basic
bagi orang-orang yang masih memegang istilah “orang pinggiran” yang pada waktu
dulu selalu menjadi produk masyarakat.
Pada zaman “manja-manjaan” saat ini
memang tanpak sekilas kita telah terbabat habis oleh alur zaman yang makin “mengggila”,
implikasi dari keadaan ini, kita terpaksa merubah kiblat kita kearah kemodernan yang makin menggilas setiap
sisi kehidupan manusia, yang makin lugu untuk dijinakkan.
Asumsi orang-orang yang selalu berkutat dengan “kemulian
hidup” memandang bahwa akhlak adalah realitas terrtinggi dari setiap rutinitas
yang diperankan oleh manusia dan merupakan modal awal untuk menjadi sosok yang
sempurna. Tapi kini itu sudah menjadi tabu, karena tidak bisa dipungkiri lagi
bahwa, masyarakat yang kini mendapat “gelar” sebagai masyarakat modern seakan dilema
oleh kegemerlapan malam yang tabu.
Dengan demikian realitas diri yang “bodoh”
ini hanya berimajinasi tetang materi dengan segala pernak-perniknya dan tak
helak lagi pangkat dan jabatan, selalu menjadi destination bagi para pemburu kenikmatan. Oleh sebab itu, dari
sudut pandang mana pun kita melihat, maka kita akan berhenti pada satu titik
yaitu siapa kita sebenarnya.?