Monday, December 19, 2016

sang musafir

Semua keindahan terbentuk dari jiwa para pencinta
Meratap, menangis dalam duka
Semua terasa indah walaupun itu sebatas impian yang hilang
Mengiba dalam balutan rindu yang menganga
Polesan rintihan senja mengadu sepi di pelupuk malam
Indah, sungguh indah
Nestapa meratap, merangkul derita kerinduan
Kini kelam menyelimuti relung jiwa yang merana
Mengais mimpi
Melepas rindu bersama fajar kemilauan
Adakah tawa itu muncul kembali
Kebimbangan jiwa menyurutkan desah lesu sang awan
Aduh…

Rintihan pilu sang musafir kegirangan

Monday, November 14, 2016

aku tak mengerti



Waktu terasa begitu singkat
Tak terperikan masa-masa yang telah berlalu kiat mengikat
Naluriku terasa ingin bernyanyi
Begitu syahdu nan merdu
Tak terasa ingin menari dalam dekapan malam yang sepi
Sunyi sungguh jiwaku
Didera angina malam yang lesu tak menentu
Ku melangkah sejenak untuk ku nikmati
Tapi jiwa ini terus saja berteriak ingin berlari
Tapi hendak kemana lagi
Setiap sisi jiwa seakan ingin melangkah jauh
Seakan duia ingin berhenti untuk menatapku lagi

ooh ibu



Ibu….. oh Ibu
Kini aku kembali
Terangnya siang dan pekatnya malam ingin ku nanti
Letih sudah perjalanan ini
Mungkin sudah waktunya untuk kembali
Datanglah kini
Aku sudah lama menunggumu dalam lamunan penuh ilusi
Tak mampu rasanya merangkai kata-kata suci
Sebaris doa dari sosokmu yang penuh iba nan abadi
Kini ku nanti lagi dan lagi
Tak terkikis walau dera derita menerjang tak bertepi
Kaulah sosok yang ku cari
Perjalanan jauh tak terasa kian dekat untuk ku langkahi
Hanya menunggu waktu untuk melihat senyummu mekar kembali
Karena kaulah sosok yang selalu ku puja tiada henti



Sunday, May 1, 2016

menyanyi dalam sepi

Banyak yang ingin ku katakan
Aku mulai bingung
Terus ku duduk sembari merenung
Membisu dalam permainan perasaan
Lelapku sejenak
Langkah hati ikut bergerak
Membaca sederet makna yang tersirat
Terbungkus rayuan logika kian mengikat
Katakan sekali lagi
Sampai ku puas hati
Dendangan lagu rindu sembari bersiul bernyayi
Menari laiknya pemuja rindu yang kalu
Oh bintang rembulan
Sungguh syahdu rintihan kekalutan suaramu
Mendekatlah
Ku peluk engkau di pangkuanku hingga matahari mulai jenuh
Tak ada yang bisa melarang kita bergembira
Berdendanglah, aku di sini
Menemanimu sampai ujung hari
Tapi ku kini ku harus pergi
Jalan setapak menunggu untuk dijamahi

Tunggu dan tunggu hingga ku kembali  

Monday, April 11, 2016

Aku Datang

Aku datang sebagai seorang abdi
Lirihku
Menyapa sembari merengkuh gejolak hati
Kini, dimana ku harus berdiri
Langkah kaki ini terbelenggu rindu
Aku datang sebagai seorang hamba
Laiknya pertapa yang resah menanggung rindu, cumbu
Tetesan air mata
Merenggkuh derita, sungguh nista
Kemana lagi ‘kan hati berbicara
Semua bungkam dalam lena
Aku datang sebagai seorang teman
Maka, jamulah aku
Kemana ‘kan kau bawa semua kegembiraan ini
Duduklah sejenak, mari bercengkrama menari bersama
Hingga tidak ada beda antara kita berdua
Aku datang sebagai seorang budak
Maka apa yang ingin kau perintahkan kepadaku
Kemana ‘kan hamba bawa derita ini
Hamba terlalu jauh untuk bisa mendekat lagi
Sujudku dalam kehinaan
Dan kini
Aku datang sebagai seorang kekasih
Peluk, cium dan rangkul tubuh mungilku
Jangan pernah berpaling, sungguh kaulah tujuan perjalanan ini


Thursday, January 21, 2016

kebingungan



Akal memang belum bisa memahami makna yang tersirat di balik jeruji pemaknaan. Tak helak pula, kita tersadarkan tatkala semu menjamah lirih dengan kehampaan. Mungkin memang tidak ada jalan, atau hanya sekedar numpang lewat saja. Selalu saja kita mematahkan semangat yang bergelora, karena memang belum sanggup untuk menatap kenapa harus kita yang diburu oleh waktu. Apakah memang inilah saatnya untuk menatap ataukah hanya sebuah kedok untuk melindungi kebdohan dan kepongahan diri sendiri. Memang kata-kata pikiran atau itu semua dari hati yang terdalam, entahlah karena kenaifan diri memaksa kita untuk memilih jalan. Sengguh hina memang kepongahan diri memaksa untuk terus berjalan walaupun pada dasarnya jalan yang kita tempuh itu salah. Inilah bentuk kebodohan kita karena tidak mampu memahami realitas yang sesungguhnya.