Saturday, August 2, 2014

sebuah alasan

Ku ingin tau tentang semua yang ada maupun yang tidak ada
Rentetan-rentetan pertanyaan untuk sang guru abadi terus daku haturkan
Hingga tintaku mengering untuk menulis semua petuahnya
Di saat ku harus bangun dengan semua petuah itu
Seakan semua tidak ada beda dengan kebodohanku
Dengan apa harus ku jelaskan
Semuanya terhententi di titik kejenuhan saja
Kata-kata bijak para sesepuh
Ingin ku jadikan perisai yang kokoh
Tetapi semua menjadi semu ketika petuah itu berkelahi dengan waktu
Tak ada yang tahu sekarang
Tak ada yang tersisa sekarang
Semua menjadi serpihan-serpihan mimpi yang terbuang
Jika memang semua nista
Kenapa semua alasan tak mampu memberi sebuah arti…??



Friday, August 1, 2014

kelana abadi

Semua menjadi tabu
Katamu yang terjatuh dalam derai tawa sesal
Kering sudah semua ini
Tak terperikan penyesalan yang mendalam
Semua  kata-kata terbalut dalam lentera jiwa jenuhku
Semua ingin ku kubur walau kehidupan terus memanggil
Biarlah semua berlalu
Biarlah semua berakhir
Tak ada sesal berbalut sedih
Yang ada hanyalah wajah lusuh
Sang kelana menjamah raga
Di tepian pantai yang buram
Tiada angin kehidupan
Tiada gemuruh ombak keabadian
Yang  ada hanyalah padang gersang  kematian
Berjingkrak, langkah gontai sang kelana
Menari sedih dalam tangan menadah kepada Tuhannya

Di balik jeruji  kehinaan daku yang menunggu harapan keibaan