Sunday, January 5, 2014

SEKEDAR ASUMSI DAN OPINI TENTANG KESUKSESAN




A.    Pengantar
Inspirasi merupakan penopang dalam berkarya bagi setiap insan yang selalu ingin menunjukkan “keakuannya”. Berpikir positif dan memilki kemauan yang kokoh seperti baja memungkinkan kita untuk terus bisa bernostalgia dengan kehidupan sehari-hari. Tapi fenomena yang sering muncul dipermukaan ranah kehidupan manusia adalah ketergantungan kita terrhada idiologi kedunguan. Prasyarat untuk menjadi orang sukses itu memang sangat beragam dan bervariasi, tak ubahnya seperti kebutuhan-kebutuhan yang selalu kita kejar sehari-harinya.
Sukses, selalu menjadi idola bagi manusia-manusia yang haus akan kemewahan, dan hal ini selalu menjadi sorotan utama untuk menunjang kelangsungan hidup yang serba “edan” sekarang ini. Tuntutan hidup yang serba instan memaksa kita untuk terus bertarung dan berjuang mengejar waktu yang lebih laju dalam menggilas kita.
Realitas yang terjadi sekarang memang kita sedang berhadapan dengan monotonnya kita dalam berpikir, terlebih lagi jika itu berkisar pada permasalahan kemakmuran, kesejahteraan, ketenaran dan kedudukan. Tapi fondasi awal untuk mencapai semua itu sering kali orang melupakannya, yaitu ilmu pengetahuan dan skill. Apa kaitannya sukses dengan ilmu pengetahuan dan skill itu sendiri.? Dalam tuliisan ini penulis akan mencba untuk menjabarkan apa sih sukses itu.
B.     Tapak Tilas Tentang Asumsi Kesuksesan
Begitu beragamnya asumsi yang dilontarkan oleh sejumlah orang dalam memaknai apa itu “sukses”, baik itu dari kalangan pembisnis, ahli ekonomi, agama, sosial, psiklogi dan banyak lagi yang melontarkan defenisi, opini dan asumsi walaupunn secara “kasat mata” itu merupakan paradigma yang bersifat subyektif semata. Hal ini terjadi karena banyak faktor, entah itu tergantung dari basic keilmuannya, pengalamannya dan tidak kalah pentingnnya adalah miliu yang ditempatinya.
1)        Sisi Ekonomi
Bila kita mengkaji kesuksesan dilihat dari “kaca mata” ekonomi, maka kita akan menemukan bahwa, sukses itu adalah memilki sejumlah materi-materi yang sangat mendasar dalam kehidupan kita, misalnya; uang, rumah mewah, mobil mewah, istri-istri yang cantik rupawan dan lainnya. tapi jika direnungkan sejenak, semua ini hanyalah berkisar pada “kebutuhan-kebutuhan badani” alias kebuthan fisik semata. Dan dapat kita katakana bahwa, hal ini hanya menyentuh satu sisi saja, yaitu sisi terluar dari kepribadian manusia yakni aspek ragawi.
Fenomena yang muncul kemudian adalah menjamurnya  masyarakat yang lari kepada “pemujaan” materi. Momok seperti ini sudah menjadi tren di zaman yang makin “memanjakan” manusia. Semua serba instan dan serba modern sehingga memanjakan manusia untuk terus menumpuk pundi-pundi materi. Implikasinya adalah kebutuhan akan kedamaian, keluhuran dan ketenangan hidup menjadi redup dan hilang, karena kanstruksi kehidupan yang dibangun adalah terkait dengan materri semata dan tidak memperdulikan aspek psikologis atau rohaninya.
Imbasnya yaitu terrjadinya ketimpangan dalam kehidupan bagi orang-orang yang berkiblat pada materi, sehingga pola pikir yang dibangun selanjutnya hanya berkisar pada materi atau kebutuhan “badani” semata. Sejenak kita bernostalgia, yaitu ketika manusia dilahirkan, tidak hanya memutuhkan ASI saja dari ibunya tapi kasih sayang yang paling utama, belaian, ketenangan, kegembiraan dan yang terrpenting adalah kedamaian jiwanya.
Hal ini yang paling sering dilupakan oleh manusia, yang memandang dunia hanyalah untuk menumpuk pundi-pundi materi manjadi “gunung kekayaan”, toh itu belum mampu menjawab semua angan, asa dan cita-cita luhur kita sebagai manusia yang notabennya adalah insan yang lemah dan hina. Kalau pun kita bisa menggapainya, maka kita bisa tersesat jika kita tidak bisa “menjinakkan” materi itu sendiri.
Jika keangkuhan untuk mengejar materi ini sudah mengakar di dalam tubuh manusia, maka hal ini akan menjadi wabah bagi kita. Kalau boleh kita berkaca pada orang-orang yang terrsesat dalam bermimpi untuk menguasai “alam materi” yang pada akhirnya hanya final di jeruji keputusasaan. Ini adalah sketsa tentang kehidupan yang memaksakan diri untuk mengejar kehidupan yang berlapiskan “permadani kemewahan”, yang pada ujung-ujungya menjadi pemimpi  di siang bolong.
Dengan demikian, jika kesuksesan hanya disandarkan pada kekayaan dan kemewahan semata, maka kita akan lupa tentang fitrah kita sebagai manusia itu sendirri. Karena kita hidup bukan hanya dengan memilki segudang kekayaan saja, tetapi di satu sisi kebutuhan ohani juga harus dapat penuhi, karena identitas kita yang seutuhnya yaitu terdiri dari jiwa dan raga dan keduanya memilki porsi yang sama, jangan sampai mengabaikan salah satunya .
2)        Sisi Agama
Agama merupakan hal sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Agama dijadikan sebagai barometer dalam merekonstruksi jalan yang dilalui agar terrtuju pada kehidupan yang lebih baik dan lebih bijaksana lagi dalam melihat kehidupan yang sangat kompleks sekarang ini. Agama, jika digunakan sebagai pisau analisis untuk mengindikasikan kesuksesan itu seperti apa, maka banyak asumsi yang akan dilontakan oleh para pemuka agama dari setiap agama-agama yang ada di dunia ini.
Tapi pada kesempatan kali ini, kita mngambil sampel secara umum saja. Menggunakan kaca mata agama untuk mengidentifikasi kesuksesan memang tidak mudah. Karena umumnya, sebagian orang beranggapan bahwa kesuksesan itu hanya bisa di ukur dengan materri semata. Secara konvensional, kesuksesan dalam pandangan agama yaitu ketaatan seseorang kepada tuhannya. Karena dari ketaatannya ini akan timbul semacam kepercayaan dalam diri hamba yaitu kabahagian jiwa baik berupa limpahan rahmat, hidayah dan yang terlebih lagi yaitu mendapat gelar menjadi “kekasih tuhan”. Hal ini bisa dikatakan orang itu telah sukses secara “agama”, karena bagi mereka ketenangan jiwa bersama tuhan itu lebih berharga dari apa pun.
Asumsi seperti ini memang sangat banyak kita temukan di kalangan masyarakat yang rindu akan tuhannya. Perilaku-perilaku yang muncul dari mereka selalu diwarnai dengan religiutasnya ketika bersentuhan dengan masyarakat ramai. Hal ini dijadikan sebagai identitas nyata yang selalu dibondong kemana pun mereka pergi.
Tetapi, jika kita boleh tilik dengan seksama, maka adanya sisi terlupakan dan sering kali menjadi wacana di masyarakat luas. Kegandrungan mereka dalam menjalankan ritual-itual ibadahnya seing kali membawa mereka kepada “keterasinngan” di kalangan masyarkatnya sendiri. Tidak ada interaksi yang berrsifat inten yang terrwujud karena rutinitas utamanya hanyalah ibadah semata. Kemonotonan mereka dalam hal ibadah berimplikasi kepada “stagnannya” ruang gerak mereka dalam bingkai sosial yang di sandangnya.
Jika dicerrmati secara universal, maka kesuksesan yang hanya diidentikkan dengan ibadah semata belumlah bisa dikatakan sebagai suatu kesuksesan. Jika kita bersandar pada shiroh Nabi khususnya Muhammad SAW, selain mengoptimalkan pengabdiannya kepada Allah SWT, beliau juga menjadi seorang yang sangat pekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Potret seperti ini sebenarnya yang dijadikan sebagai pijakan untuk mengukur kesuksesan dilihat dari bingkai agama khususnya bagi kita yang menyandang gelar Agama Islam.
3)        Sisi sosial
Manusia merupakan mahluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. kehidupan manusia identik dengan saling ketergantungan demi saling memenuhi kebutuhannya. Di satu sisi kehidupan sosial merupakan ajang untuk menjalin interaksi dalam rangka membangun masyarakat yang adil dan makmur. Sekaya apa pun seseorang atau sepintar apa pun seseang tapi jika dia tidak dapat membantu dan menolong orang lain, maka dia tidak memilki tempat di hati setiap anggota masyarakat.
Ahli sosial beranggapan bahwa, orang itu dikatakan atau mendapat predikat sukses jika dia bermanfaat dan berguna bagi orang lain bukan hanya untuk dirinya sendiri. Kajian-kajian para ahli mencoba membangun pola dalam membentuk formula guna mengetaskan kemiskinan umumnya. Tapi malah teori-teori yang dihasilkan masih terbilang dangkal jika diaplikasikan dalam ranah kehidupan nyata.
Fenomona di atas terjadi karena persolan sosial yang paling krusial dan fundamental belum juga bisa ditemukan. Salah satu jalan mulus yang digunakan adalah dengan cara mengayomi masyarakat dengan membangun berbagai kelompok-kelompok sosial yang dibentuk dalam sebuah wadah yang disebut sebagai organisasi. Organisasi dibentuk untuk mencari celah dalam rangka membentuk masyarakat yang adil dan makmur dan sebagai lahan untuk menuangkan segala aspirasi masyarakat, tetapi pada kehidupan nyata hal ini masih menjadi mimpi-mimpi manis bagi pendamba kesejahteraan. Alhasil organisasi hanya dijadikan sebagai kedok bagi orang-orang yang memilki ambisi “untung sendiri”, yang pada akhirnya tujuan mulia sebagai idiologi hanya berujung pada pemuasan hawa nafsu semata.
C.     Posisi Kita Dimana
Tidak ada yang bersifat final di dunia ini. Kesuksesan sebagai sarana untuk terus bisa exis sebagai manusia memang tidak bisa kita berpandangan “picik” yaitu hanya mengutamakan materi semata atau pun kebutuhan spiritual saja. Karena pada dasarnya baik jasmani dan rohani memang memilki porsi yang sama dalam ranah kehidupan manusia, layaknya dua sisi mata uang yang saling mempengaruhi.
Jika seseorang dalam hidupnya hanya memntingkan materi saja, terus bagaimana hubungannya dengan sang pencipta (Tuhan), karena sebagai seorang “budak Tuhan” kita memilki kewajiban-kewajiban yang harus kita kerjakan dan dipatuhi. Selain itu, jika kita beribadah saja tanpa melakukan satu usaha seperti bekerja, berdagang, berbisnis dan pekerjaan-pekerjaan lainnya maka keluarga kita akan terbengkalai. Tanggung jawab kita sebagai kepala rumah tangga misalnya, akan terabaikan sia-sia.
Jadi di sini dapat disimpulkan bahwa perlu ada tindakan tepat dalam mengayomi kehidupan ini untuk mencapai kesuksesan tersebut yaitu adanya kombinasi antara tujuan dunia dengan tujuan akhirat (istilah agama) agar terjalin keharmonisan antara jiwa dan raga kita.

Ku tatap dunia sungguh gemerlap
Air liurku menetes bak hujan lebat
Langkah kakiku begitu berat
Dalam hanyalan yang memikat
Sadarku
Lamunanku
Diamlu
Aku malu..!!

No comments: