A.
Pengantar
Inspirasi merupakan
penopang dalam berkarya bagi setiap insan yang selalu ingin menunjukkan “keakuannya”.
Berpikir positif dan memilki kemauan yang kokoh seperti baja memungkinkan kita
untuk terus bisa bernostalgia dengan kehidupan sehari-hari. Tapi fenomena yang
sering muncul dipermukaan ranah kehidupan manusia adalah ketergantungan kita
terrhada idiologi kedunguan. Prasyarat untuk menjadi orang sukses itu memang
sangat beragam dan bervariasi, tak
ubahnya seperti kebutuhan-kebutuhan yang selalu kita kejar sehari-harinya.
Sukses, selalu menjadi idola
bagi manusia-manusia yang haus akan kemewahan, dan hal ini selalu menjadi sorotan
utama untuk menunjang kelangsungan hidup yang serba “edan” sekarang ini. Tuntutan
hidup yang serba instan memaksa kita untuk terus bertarung dan berjuang
mengejar waktu yang lebih laju dalam menggilas kita.
Realitas yang terjadi
sekarang memang kita sedang berhadapan dengan monotonnya kita dalam berpikir,
terlebih lagi jika itu berkisar pada permasalahan kemakmuran, kesejahteraan,
ketenaran dan kedudukan. Tapi fondasi awal untuk mencapai semua itu sering kali
orang melupakannya, yaitu ilmu pengetahuan dan skill. Apa kaitannya sukses
dengan ilmu pengetahuan dan skill itu sendiri.? Dalam tuliisan ini penulis akan
mencba untuk menjabarkan apa sih sukses itu.
B.
Tapak Tilas
Tentang Asumsi Kesuksesan
Begitu beragamnya
asumsi yang dilontarkan oleh sejumlah orang dalam memaknai apa itu “sukses”,
baik itu dari kalangan pembisnis, ahli ekonomi, agama, sosial, psiklogi dan
banyak lagi yang melontarkan defenisi, opini dan asumsi walaupunn secara “kasat
mata” itu merupakan paradigma yang bersifat subyektif semata. Hal ini terjadi
karena banyak faktor, entah itu tergantung dari basic keilmuannya,
pengalamannya dan tidak kalah pentingnnya adalah miliu yang ditempatinya.
1)
Sisi Ekonomi
Bila kita mengkaji
kesuksesan dilihat dari “kaca mata” ekonomi, maka kita akan menemukan bahwa,
sukses itu adalah memilki sejumlah materi-materi yang sangat mendasar dalam
kehidupan kita, misalnya; uang, rumah mewah, mobil mewah, istri-istri yang
cantik rupawan dan lainnya. tapi jika direnungkan sejenak, semua ini hanyalah
berkisar pada “kebutuhan-kebutuhan badani” alias kebuthan fisik semata. Dan dapat
kita katakana bahwa, hal ini hanya menyentuh satu sisi saja, yaitu sisi terluar
dari kepribadian manusia yakni aspek ragawi.
Fenomena yang muncul
kemudian adalah menjamurnya masyarakat
yang lari kepada “pemujaan” materi. Momok seperti ini sudah menjadi tren di zaman yang makin “memanjakan”
manusia. Semua serba instan dan serba modern sehingga memanjakan manusia untuk terus
menumpuk pundi-pundi materi. Implikasinya adalah kebutuhan akan kedamaian, keluhuran
dan ketenangan hidup menjadi redup dan hilang, karena kanstruksi kehidupan yang
dibangun adalah terkait dengan materri semata dan tidak memperdulikan aspek
psikologis atau rohaninya.
Imbasnya yaitu
terrjadinya ketimpangan dalam kehidupan bagi orang-orang yang berkiblat pada materi, sehingga pola pikir
yang dibangun selanjutnya hanya berkisar pada materi atau kebutuhan “badani”
semata. Sejenak kita bernostalgia, yaitu ketika manusia dilahirkan, tidak hanya
memutuhkan ASI saja dari ibunya tapi kasih sayang yang paling utama, belaian,
ketenangan, kegembiraan dan yang terrpenting adalah kedamaian jiwanya.
Hal ini yang paling sering
dilupakan oleh manusia, yang memandang dunia hanyalah untuk menumpuk pundi-pundi
materi manjadi “gunung kekayaan”, toh
itu belum mampu menjawab semua angan, asa dan cita-cita luhur kita sebagai
manusia yang notabennya adalah insan yang lemah dan hina. Kalau pun kita bisa
menggapainya, maka kita bisa tersesat jika kita tidak bisa “menjinakkan” materi
itu sendiri.
Jika keangkuhan untuk
mengejar materi ini sudah mengakar di dalam tubuh manusia, maka hal ini akan
menjadi wabah bagi kita. Kalau boleh kita berkaca pada orang-orang yang
terrsesat dalam bermimpi untuk menguasai “alam materi” yang pada akhirnya hanya
final di jeruji keputusasaan. Ini adalah sketsa tentang kehidupan yang
memaksakan diri untuk mengejar kehidupan yang berlapiskan “permadani kemewahan”,
yang pada ujung-ujungya menjadi pemimpi
di siang bolong.
Dengan demikian, jika
kesuksesan hanya disandarkan pada kekayaan dan kemewahan semata, maka kita akan
lupa tentang fitrah kita sebagai manusia itu sendirri. Karena kita hidup bukan
hanya dengan memilki segudang kekayaan saja, tetapi di satu sisi kebutuhan
ohani juga harus dapat penuhi, karena identitas kita yang seutuhnya yaitu terdiri
dari jiwa dan raga dan keduanya memilki porsi yang sama, jangan sampai mengabaikan
salah satunya .
2)
Sisi Agama
Agama merupakan hal
sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Agama dijadikan sebagai barometer
dalam merekonstruksi jalan yang dilalui agar terrtuju pada kehidupan yang lebih
baik dan lebih bijaksana lagi dalam melihat kehidupan yang sangat kompleks
sekarang ini. Agama, jika digunakan sebagai pisau analisis untuk mengindikasikan
kesuksesan itu seperti apa, maka banyak asumsi yang akan dilontakan oleh para
pemuka agama dari setiap agama-agama yang ada di dunia ini.
Tapi pada kesempatan
kali ini, kita mngambil sampel secara umum saja. Menggunakan kaca mata agama
untuk mengidentifikasi kesuksesan memang tidak mudah. Karena umumnya, sebagian
orang beranggapan bahwa kesuksesan itu hanya bisa di ukur dengan materri
semata. Secara konvensional, kesuksesan dalam pandangan agama yaitu ketaatan
seseorang kepada tuhannya. Karena dari ketaatannya ini akan timbul semacam
kepercayaan dalam diri hamba yaitu kabahagian jiwa baik berupa limpahan rahmat,
hidayah dan yang terlebih lagi yaitu mendapat gelar menjadi “kekasih tuhan”. Hal
ini bisa dikatakan orang itu telah sukses secara “agama”, karena bagi mereka
ketenangan jiwa bersama tuhan itu lebih berharga dari apa pun.
Asumsi seperti ini
memang sangat banyak kita temukan di kalangan masyarakat yang rindu akan
tuhannya. Perilaku-perilaku yang muncul dari mereka selalu diwarnai dengan
religiutasnya ketika bersentuhan dengan masyarakat ramai. Hal ini dijadikan
sebagai identitas nyata yang selalu dibondong kemana pun mereka pergi.
Tetapi, jika kita boleh
tilik dengan seksama, maka adanya sisi terlupakan dan sering kali menjadi
wacana di masyarakat luas. Kegandrungan mereka dalam menjalankan ritual-itual
ibadahnya seing kali membawa mereka kepada “keterasinngan” di kalangan
masyarkatnya sendiri. Tidak ada interaksi yang berrsifat inten yang terrwujud
karena rutinitas utamanya hanyalah ibadah semata. Kemonotonan mereka dalam hal
ibadah berimplikasi kepada “stagnannya” ruang gerak mereka dalam bingkai sosial
yang di sandangnya.
Jika dicerrmati secara
universal, maka kesuksesan yang hanya diidentikkan dengan ibadah semata
belumlah bisa dikatakan sebagai suatu kesuksesan. Jika kita bersandar pada shiroh Nabi khususnya Muhammad SAW,
selain mengoptimalkan pengabdiannya kepada Allah SWT, beliau juga menjadi
seorang yang sangat pekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Potret seperti
ini sebenarnya yang dijadikan sebagai pijakan untuk mengukur kesuksesan dilihat
dari bingkai agama khususnya bagi kita yang menyandang gelar Agama Islam.
3)
Sisi sosial
Manusia merupakan
mahluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. kehidupan
manusia identik dengan saling ketergantungan demi saling memenuhi kebutuhannya.
Di satu sisi kehidupan sosial merupakan ajang untuk menjalin interaksi dalam
rangka membangun masyarakat yang adil dan makmur. Sekaya apa pun seseorang atau
sepintar apa pun seseang tapi jika dia tidak dapat membantu dan menolong orang
lain, maka dia tidak memilki tempat di hati setiap anggota masyarakat.
Ahli sosial beranggapan
bahwa, orang itu dikatakan atau mendapat predikat sukses jika dia bermanfaat dan
berguna bagi orang lain bukan hanya untuk dirinya sendiri. Kajian-kajian para
ahli mencoba membangun pola dalam membentuk formula guna mengetaskan kemiskinan
umumnya. Tapi malah teori-teori yang dihasilkan masih terbilang dangkal jika
diaplikasikan dalam ranah kehidupan nyata.
Fenomona di atas
terjadi karena persolan sosial yang paling krusial dan fundamental belum juga
bisa ditemukan. Salah satu jalan mulus yang digunakan adalah dengan cara mengayomi
masyarakat dengan membangun berbagai kelompok-kelompok sosial yang dibentuk
dalam sebuah wadah yang disebut sebagai organisasi. Organisasi dibentuk untuk
mencari celah dalam rangka membentuk masyarakat yang adil dan makmur dan
sebagai lahan untuk menuangkan segala aspirasi masyarakat, tetapi pada
kehidupan nyata hal ini masih menjadi mimpi-mimpi manis bagi pendamba kesejahteraan.
Alhasil organisasi hanya dijadikan sebagai kedok bagi orang-orang yang memilki ambisi
“untung sendiri”, yang pada akhirnya tujuan mulia sebagai idiologi hanya
berujung pada pemuasan hawa nafsu semata.
C.
Posisi Kita
Dimana
Tidak ada yang bersifat
final di dunia ini. Kesuksesan sebagai sarana untuk terus bisa exis sebagai
manusia memang tidak bisa kita berpandangan “picik” yaitu hanya mengutamakan
materi semata atau pun kebutuhan spiritual saja. Karena pada dasarnya baik
jasmani dan rohani memang memilki porsi yang sama dalam ranah kehidupan
manusia, layaknya dua sisi mata uang yang saling mempengaruhi.
Jika seseorang dalam
hidupnya hanya memntingkan materi saja, terus bagaimana hubungannya dengan sang
pencipta (Tuhan), karena sebagai seorang “budak Tuhan” kita memilki
kewajiban-kewajiban yang harus kita kerjakan dan dipatuhi. Selain itu, jika
kita beribadah saja tanpa melakukan satu usaha seperti bekerja, berdagang,
berbisnis dan pekerjaan-pekerjaan lainnya maka keluarga kita akan terbengkalai.
Tanggung jawab kita sebagai kepala rumah tangga misalnya, akan terabaikan
sia-sia.
Jadi di sini dapat
disimpulkan bahwa perlu ada tindakan tepat dalam mengayomi kehidupan ini untuk
mencapai kesuksesan tersebut yaitu adanya kombinasi antara tujuan dunia dengan
tujuan akhirat (istilah agama) agar terjalin keharmonisan antara jiwa dan raga
kita.
Ku tatap dunia sungguh gemerlap
Air liurku menetes bak hujan lebat
Langkah kakiku begitu berat
Dalam hanyalan yang memikat
Sadarku
Lamunanku
Diamlu
Aku malu..!!
No comments:
Post a Comment