Friday, February 21, 2014

sadarkah kita.......!!!!



SADARKAH KITA...?
Waktu memaksa kita untuk bertarung dengan alam, Keadaan diri mejadi lupa akan semua yang akan di jalani. Semua ini kita jalani dengan segala keraguan, begitulah alur kehidupan yang makin pekat karena suasana hati yang makin suram. Jalani saja kehidupan ini dengan sesempurna mungkin, jalan penuh terjal dan dangkal tetapi sosokmu kan menjadi misteri yang tak kan pernah terpecahkan untuk selamanya.
Rencana tuhan selalu menjadi peran utama dalam setiap gerak langkahmu, biarpun bumi berhenti berputar ragamu kan tetap abadi tatkala ribut datang dengan angkuhnya, titah tuhan selalu menjadi hiasan kala hati gundah gulana. Relakan saja semua itu, jangan ragu dengan setiap impian yang bersarang di benakkmu. Kita jubahi diri dengan segala kesombongan tetapi itu tidak akan membuat kita menjadi manusia sejati. Sesungguhnya kehidupan yang sebenarnya adalah terletak pada apa yang telah tuhan anuggerahkan kepada kita. Tetapi terkadang kita tidak sadar dengan apa yang telah kita perbuat. Misteri hidup terus menghantui setiap tikungan alur yang kita lalui. Suasana hati kan selalu dilema oleh kerinduan yang Maha Abadi, kita mencari dan terus mencari hingga tempat abadi menjadi persinggahan terakhir bagi kita.
Jangan pernah tutupi dirimu, walau sepahit apa pun yang akan datang di pangkuanmu. Terimalah setiap waktu yang menyertaimu. Jangan pernah pergi, jangan pernah berpaling. Alam semesta ini diciptakan dengan sesempurna mungkin tapi keangkuhan manusia menjadi pengahalang pengabdian manusia kepada tuhan semesta alam. Rasa sayang dan cinta yang kita bubuhi dalam setiap rasa, menjadi buruk di mata tuhan ketika rasa itu tidak sampai kepada alam.
Aku semakin tak mengerti tentang semua ini, begitulah pikiran yang hanya di hias oleh rasa yang berpangku pada raga, engkau juga pasti merasa ketika semuanya telah sirna. Hanya kebencian yang tanpak ketika logika tidak bisa membahasakan sebuah realita. Sungguh ironis kata hati, selalu terbengkalai karena angan yang makin memuncak. Terurai indah dalam butir-butir air mata penyesalan. Hingga lidah menjadi kelu di antara bait-bait kata yang dilapaskan. Sorotan mata ini menjadi sangat nista, seakan tak sanggup melihat apa yang telah kita perbuat. Ingin berlari dan terus berlari seakan semuanya telah pergi, tetapi kita tidak bisa mengartikan semua itu. Kita selalu berdalih “itu kan masa lalu”. Tetapi sudut hatimu yang suci selalu brontak tak mengerti apa yang kau katakan dengan apa kau perbuat.
Tuhan seakan menjadi sengketa ketika keinginanmu tak terwujud. Jangan paksakan ragamu yang hina itu, kita hanyalah abdi di antara budak-budak tuhan. Jadilah sosok yang menawan dengan rupa yang mempesona bagimu, bukan untuk orang lain. Jangan salahkan dirimu, tapi berkeluh kesahlah dengan hatimu. Hidup memang indah, jika Kau mampu menghiasnya dengan sesuatu yang indah. Hidup itu juga hina jika kau poles dengan kehinaan. Siapa yang patut kita salahkan. Jawabannya hanya terletak pada diri kita sendiri.
Begitu mempesona hati bermain dengan kehidupan, seakan kita tidak sadar bahwa sesungguhnya begitu banyak jalan bagi tuhan untuk mendewasakan hamba-hambanya. Tetapi kita tidak sadar bahwa semua itu diperuntukkan bagi manusia yang memilki hati nurani. Apa yang perlu disesali, roda kehidupan selalu berputar, mengalir bagaikan mata air yang tak pernah kering. Kehidupan ini memang penuh dengan warna-warni yang mampu membius naluri. Tapi sadarkah kita akan makna di balik semua itu. Pasti kita akan menjawab “tidak”. Kekosongan hati ini menjadi virus yang menyakitkan raga. Pupus di antara gejolak jiwa yang merana. Menangisi raga yang rapuh seakan kebahagian itu terletak pada raga yang didewakan. Kita salah menafsirkan kata hati dalam mencari kebahagian, hingga sumpah serapah dan kebencian mewarnai setiap desah nafas kita.
Bercerminlah pada air yang tenang dan jernih maka kita akan menemukan sosok kita yang sesungguhnya. Bahasa hati selalu menang ketika kita bersandar pada jiwa yang kuat. Tapi pernahkah kamu bertanya “siapakah diriku ini”, kenapa aku ingin bahagia”. Bacalah hatimu bukan akalmu. Temukanlah sosokmu pada dirimu sendiri bukan pada orang lain,. “Tiada kesempurnaan apa pun yang dimilki manusia melainkan dia mampu menjadi penyempurna bagi orang lain”.
Relakan waktu yang mengalir disisimu, biarkan dia berhembus bagai angin yang membawa kedamaian. Kehidupan hanyalah bagian dari sesuatu yang menakutkan bagi manusia yang tak mengerti arti sebuah kehidupan. Jangan kau kejar dan jangan kau sesali jika kehidupan itu tidak memihak dirimu, tetapi menangislah hingga langit menjadi runtuh ketika kau tak mampu membahasan kata hatimu. Sosok yang kau puja hanyalah satu diantara sejuta kekecewaan yang bersarang di hatimu. Kini bangunlah dan bingkai kembali puing-puing hatimu yang runtuh karena tuhan akan datang untuk menyapa jiwa-jiwa yang gersang. Sosokmu adalah bahtera yang selalu berlabuh dalam dimensi waktu yang panjang. Takluklah pada kata hatimu, dan mulailah bercermin pada jiwa-jiwa yang merana akan keabadian.
Don’t Forget your self...!!!!!

BY: MAMAT     

perjalanan yang melelahkan



Jalan ini amat panjang untuk ku jalani
Berliku penuh onak duri
Melebur dalam ayunan gontai langkah kakiku
Memapah ragaku yang kini mulai layu
Terpuruk sepi di dasar bumi yang makin tabu
Rasa seakan mulai pupus di ujung perjalanan hidupku
Merantai setiap yang ku rangkai dalam benakku
Kaku, membatu terpuruk mati bagai bangkai yang tak berarti
Inikah jalan yang harus ku tapaki?
Lesuh hanyut dalam dunia yang makin fana di benakku
Hanya senda gurau yang makin tampak
Hingga ku ragu untuk menatap awan kelabu
Jiwaku resah terhentak
Bagai badai yang terombang-ambing oleh sapaan angin yang tersenyum lirih
Kapankah ini kan berakhir
Ku Ingin seperti kapas yang tanpa rasa, tawa dan kesedihan
Melangit, lepas bebas dalam bimbingan desiran angin malam
Terjerat bahagia di alam yang tak kenal derita
Jalan ini makin suram, penuh kepalsuan
Hanya rintihan-rintihan kecil dari raga yang haus akan belaian kasih sayang
Menunggu tangan-tangan kecil peri-peri langit yang datang dengan wajah terang berderang
Aku makin iba, merana
TUHAN.....!!! teriakku

Sunday, February 16, 2014

DARI SEORANG SAHABAT




Kenapa kau menangis  jika kau mampu tertawa
kenapa kau bersedih jika kau mampu bahagia
 kenapa harus lari seakan kau tak percaya akan megahnya sang mentari
kenapa kau ingin mati seakan kau tak percaya akan keagungan sang ilahi
 ini memang jalanmu
 jangan biarkan hatimu selalu berselimut kesedihan
 cobalah kau pandangi embun dipagi hari
penyejuk sukma diantara butiran –butiran air matamu
 menangis, sendu, pilu seakan begitu bermakna bagimu
mungkin kau tak tau senyummu  tawa ringanmu, adalah anugrah terindah dalam hidupmu
 jangan kau menangis
 meski hatimu terkikis bersama harapan –harapanmu yang mulai pupus
 cobalah kau kepakkan sayapmu
kelilingi dunia dengan sepercik senyuman
semua orang ingin tutur sapamu
 jangan hanya terdiam membisu
kau bukanlah batu karang yang kokoh
 tapi kau hanya jiwa yang mudah rapuh, musnah bagai debu –debu yang berterbangan tak tau arah
sampai kapan kau menangis
waktu yang kau sesali tak kau datang menyapanya lagi
 sesalmu dalam perang batin melawan takdir ilahi
 hanya tawa palsu pembalut sedihmu
dalam tirai sukmamu seakan kau tak kenal lelah
 kau tangisi waktu yang memaksa dalam mengisi peraduan hidupmu
 kini cobalah kau hidup laksana merpati terbang bebas diangkasa lepas
 tak kenal sedih, tangis, dan derita
 dimana tawamu yang dulu
dimana senyummu yang dulu
 bagai bunga mawar wajahmu berseri
 tidakkah kau ingat semua itu ,,?
 Tidakkah kau sadari itu,,?
 Kini seakan ku tak mengenalmu
 hanya rintihan hati dari sahabatmu.

BY:  MAMAT



Terserah padamu tuhan



Terserah padamu tuhan
Aku ingin mati kini
Deraian air mataku membasahi hingga larut dalam sedihku
Aku tau, aku sadar
Pelita hidup kini mulai pudar
Resah, gelisah terpuruk sepi dalam dilema mimpi yang berpanjangan
Setiap helai nafasku terjulur sepi dalam sayup-sayup tawa mungil sapaan angin
Tawa malaikat mulai terdengar menderu-deru
Hingga ragaku rapuh dalam pelukan sang malam
Pekat.! larut sudah dalam sunyi jiwaku yang merintih lirih
Wahai para peri-peri kecil sebentuk kedamaian jiwa
Duka jiwa berdarah nanah dalam tetesan alam yang mulai liar
Harapku dalam tangan tuhan yang membelenggu jiwa