Monday, January 6, 2014

REFLEKSI RENUNGAN DIRI




Jadilah insprirasi bagi setiap orang yang mengenalmu. Mereka hadir dengan duka yang berkepanjangan, sosokmu jadi panutan suci bagi mereka yang tak bertuankan hatinya. Raut wajah mereka sedu sedan dalam kealpaann doa-doa mereka. hiasi wajah dengan sebongkah senyuman, penawan jiwa gersang yang hampa. Mereka tersenyum, tertawa riang, terbahak-bahak penuh kebahagian seakan lupa dengan beban diri yang hina.
Jadilah seorang pejuang, menjadi tembok yang kokoh untuk para pemulung keselamatan. Mereka takut akan musnah, diterjang badai hinaan dan cobaan hidup. Bertengerlah di puncak menaran keadilan membalut luka para penyair kesejahteraan. Mereka merasa hampa, haus dan lapar akan keadilan. Sosokmu dinanti untuk diagungkan sebagai seorang pahlawan, seorang pejuang yang selalu ikut serta dalam kesusahan mereka.
 Jadilah seorang pendidik yang bijak. Mengerti tentang hidup, mengerti tentang kehidupan dan mengerti tentang hakikat, agar mereka yang lugu, sayu menanti santapan rohani tidak tersesat dalam pangkuanmu. Kau menjadi idola, kau di puja lanyaknya sang dewa, tapi jangan kau “cabuli ilmumu” dengan kecurangan ideologimu yang picik. Karena mereka adalah titisan para penguasa alam.  Mereka tau walaupun mereka dangkal, maka dalamkanlah logika mereka agar masa depan menjadi gemilang dan terarah. Sehingga kau menjadi purnama yang berkilauan selamanya.
Jadilah pengusaha yang jujur. Tidak memanifulasi semua yang kau punya. Ingat.! Itu semua hanyalah titipan, bijaksanalah dalam bedagang, bijaksanalah dalam berbica dengan para pelangganmu, pundi-pundi keuntungan yang kau peroleh berasal dari merreka yang ikhlas untuk membantumu menjadi orang “ber-ada”.  jangan remehkan mereka, jangan membentak mereka. tapi rendahkanlah suaramu, karena dari tutur sapamulah mereka merasa nyaman untuk saling bertukar rezeki denganmu.
Jadilah orang kaya yang dermawan. Kekayaan adalah dambaan, dengan berbagai kemewahan yang melimpah, tapi itu nista dan tabu jika tidak disyukuri. Bersyukurlah dengan cara berbagi dengan orang lain. Rezeki kita sebenarnya adalah suapan-suapan nasi yang masuk di dalam perut kita. Kanapa harus kita sombongkan kekayaan kita, toh itu hanyalah sebuah ilusi jika kita berpikir tentang keti-ada-an diri.


No comments: