Jadilah insprirasi bagi setiap orang yang
mengenalmu. Mereka hadir dengan duka yang berkepanjangan, sosokmu jadi panutan
suci bagi mereka yang tak bertuankan hatinya. Raut wajah mereka sedu sedan
dalam kealpaann doa-doa mereka. hiasi wajah dengan sebongkah senyuman, penawan
jiwa gersang yang hampa. Mereka tersenyum, tertawa riang, terbahak-bahak penuh
kebahagian seakan lupa dengan beban diri yang hina.
Jadilah seorang pejuang, menjadi tembok yang
kokoh untuk para pemulung keselamatan. Mereka takut akan musnah, diterjang
badai hinaan dan cobaan hidup. Bertengerlah di puncak menaran keadilan membalut
luka para penyair kesejahteraan. Mereka merasa hampa, haus dan lapar akan
keadilan. Sosokmu dinanti untuk diagungkan sebagai seorang pahlawan, seorang
pejuang yang selalu ikut serta dalam kesusahan mereka.
Jadilah seorang
pendidik yang bijak. Mengerti tentang hidup, mengerti tentang kehidupan dan
mengerti tentang hakikat, agar mereka yang lugu, sayu menanti santapan rohani
tidak tersesat dalam pangkuanmu. Kau menjadi idola, kau di puja lanyaknya sang
dewa, tapi jangan kau “cabuli ilmumu” dengan kecurangan ideologimu yang picik. Karena
mereka adalah titisan para penguasa alam.
Mereka tau walaupun mereka dangkal, maka dalamkanlah logika mereka agar
masa depan menjadi gemilang dan terarah. Sehingga kau menjadi purnama yang berkilauan
selamanya.
Jadilah pengusaha yang jujur. Tidak memanifulasi
semua yang kau punya. Ingat.! Itu semua hanyalah titipan, bijaksanalah dalam
bedagang, bijaksanalah dalam berbica dengan para pelangganmu, pundi-pundi
keuntungan yang kau peroleh berasal dari merreka yang ikhlas untuk membantumu
menjadi orang “ber-ada”. jangan remehkan
mereka, jangan membentak mereka. tapi rendahkanlah suaramu, karena dari tutur
sapamulah mereka merasa nyaman untuk saling bertukar rezeki denganmu.
Jadilah orang kaya yang dermawan. Kekayaan adalah
dambaan, dengan berbagai kemewahan yang melimpah, tapi itu nista dan tabu jika
tidak disyukuri. Bersyukurlah dengan cara berbagi dengan orang lain. Rezeki kita
sebenarnya adalah suapan-suapan nasi yang masuk di dalam perut kita. Kanapa harus
kita sombongkan kekayaan kita, toh itu hanyalah sebuah ilusi jika kita berpikir
tentang keti-ada-an diri.
No comments:
Post a Comment