Wednesday, January 8, 2014

putri kesepian



Kau……..
Kau yang merana
Meratapi nasib duka
Bercermin akan kesadaran diri yang kaku
Kau……..
Termenung sepi
Bermain-main dengan alam
Menelanjangi sepi yang terus bungkam
Kau…….
Kau naïf dengan diri sendiri
Memagari pagi dengan balutan tangisan kecilmu
Tak terasa kau pun mulai layu
Kau…..
Kau tak di kenal lagi
Entah apa yang kau rasa
Entah apa yang cipta
Melirik sepi
Dalam lena panjangmu
Kau yang terluka

Sang kakek Tua



Tersesat di gurun sahara
Bersama rombongan yang tak di kenal
Berjalan dengan tongkat tuanya
Berbekal ketabahan diri yang hakiki
Jeritan malam mulai menangis
Ketika lantunan zikir mulai berkumandang dari mulutnya
Kakek tuan berjanggut sutra
Bertenger di kebisuan malam
Gurun pasir pun mulai rebut, gundah gulana
Tafakkur dia menyendiri
Di dalam gua keabadian
Tuannya pun datang menyapa
Memabawa semangkuk kebijaksanaan
Untuknya,
Yang berkelana dalam keabadian

Dia Tuhan



Dia yang kini menjauh
Dia yang kini berubah
Berwajah lusuh
Menjelma menjadi batu, tumbuhan, air dan seisi alam
Tiada yang bisa menerka, Dia
Dia menjelma lagi
Dia berbentuk lain kini
Siapakah Dia….?
Tuhan.! Itukah Engkau
Pertanyaan bisu seketika

Tuesday, January 7, 2014

berimajinasi



 
Kebuntuan fikiran terkadang menjadi halangan untuk kita menorenkan tinta-tinta pena. Selalu saja ada yang menjadi penghambat yang kian terasa ketika mencoba untuk menuangkan buah fikiran. Ketika hal ini terjadi, maka cobalah untuk break sejenak, mencari idea tau gagasan yang sekiranya belum mau datang menyapa anda. Memang tidak mudah bagi kita untuk memulai sesuatu yang baru, palagi itu berkaitan dengan tulisan-tulisan yang menggagahi pena kita di atas hamparan kertas yang polos. Ide akan muncul jika mencoba untuk berdamai dengan perasaanmu sendiri. Karena idea tau gagasan akan muncul bersamaan dengan ketengan diri. Pada tataran berikutnya imajinasimu juga akan datang berkunjung di pikiranmu. Berkontemplasi dengan perasaanmu, menyepi sejenak untuk menyalurkan ide dan resapi dalam anganmu. Realita-realita yang ada di sekilingmu bisa kau rangkai dengan logikamu menjadi sebuah tulisan yang indah. Mencoba adalah hal yang paling mengagumkan dalam merealisasikan ide kita dalam tulisan.
“All start is difficult”

Kebuntuan fikiran



Penaku sudah tak bertinta
Imajinasiku terkikis habis
Semuanya tertumpah luah
Bak hujan hujan membasahi bumi
Ku mencoba merangkai kata demi kata
Tapi malang,…
Semuanya kembali tenggelam
Termenung sejenak di jendela fantasiku
Tiada apa pun yang ku temui
Kata-kata menjadi sulit untuk di rangkai lagi
Hingga sang fajar tertawa di senja menjelang
Tanganku masih kelu untuk menorehkan tintaku
Hingga imajinasi kembali terkubur sepi

PENANTIAN sepi



Ketika bahasa tidak membahasakan sesuatu
Makna terbuang sia-sia
Ketika logika tidak bisa menjelaskan sesuatu
Hakikat sirna tiada
Ketika mata tak mampu melihat
Keindahan tiada bermakna
Ketika telinga tidak bisa mendengar
Suara syahdu menjadi layu
Ketika seseorang tampak begitu lugu
Cacian hadir bertalu-talu
Ketika wajah begitu sendu
Kekosongan jiwa tertutup tirai seribu
Iba dalam kalbu
Tersemak sembilu aku yang menunggu
Menantimu dalam pekatnya malam yang kian kelabu
Hadirmu selalu ku tunggu

SENDIRI


 
Aku bingung tidak tau apa yang harus aku lakukan
Waktu terus saja mengintaiku di balik jeruji kebodohanku
Tak terasa detak jantung berkejaran dengan perasaanku
Aku takut dengan waktu
Terus membanyangi dalam kelalaianku
Begiru banyak kerisauan yang menghampiri
Menikmati hidup atau hanya sekedar tertawa merdu
Semuanya kujadikan ilham saja
Hatiku ketus menjawabnya lirih
Imajinasi mati
Bermimpi indah di pelukan malam
Begitu indah tatkala malam menyapa
Aku tersedu sendiri
Lagi dan lagi
Kapan berakhirnya aku tak tau
Aku bosan sendiri
Sendiri tinggal aku sendiri
Aku pun sepi

RATAPAN SANG GEMBALA TUHAN



Jangan mengharapkan hidup dariku
Aku tidak memilki kehidupan
Menjauhlah, aku mohn
Sesalnya di bawah langit penyesalan
Langit redup seketika
Kata-katanya menjadi keramat seketika
Berlari dan terus berlari sendiri
Kemana gubuk reotku
Tatapan menjurus ke seluruh alam sekitar
Mulutnya kelu tiada bahasa
Dia datang lagi dengan kehidupan
Berikan angin segar kepada sekali lagi
Memelas di tengah rindangnya penantian
Cahanya matanya mulai bersinar
Terima kasih, katanya lirih
Kaulah penyelamatku kini
Tiada kata yang terucap hanya belaian halut yang terasa
Detik demi detik berganti sendu
Alam kian dirundung duka nestapa
Kini dia sudah tiada, hanya tersisa penyesalan yang dalam