Friday, November 20, 2015

berhentilah sejenak



Berhentilah sejenak kawan. Jangan terlalu memaksa diri untuk terus berjalan. 
Cobalah amati sekitarmu, mungkin saja ada ide-ide cemerlang yang datang 
memasuki relung jiwamu untuk kau pikirkan. 
Tapi terkadang itu semua sulit untuk diterka, apakah memang semua harus mendapat perhatian kita 
ataukah sebaliknya.
 Dilema panjang memaksa kita untuk terus bertarung dengan berbagai fenomena alam yang memang sengaja dibuat ole pikiran kotor kita—yang notabene-nya berujung pada pemenuhan egois diri sendiri.
 Sadar atau tidak sadar kita terjebak pada asumsi, argument-argument yang hanya memeras otak untuk berpikir keras. Terus kenapa kok kita laiknya orang yang tidak memiliki hati. 
So what do you think right now.?

Thursday, November 12, 2015

Diam Membisu



Kenapa harus lari
Dia di sini
Kenapa kau menadahkan tangan ke segala arah
Kamu resah
Atau mungkin kamu gelisah
‘tak perlu risau dan bersedih hati
Datang saja sendiri
Kenapa komat kamit dengan muka lusuh
Datang dan pergi
Berteman sepi atau bersama mentari
Nanti juga tersesat ‘tak tau arah
Kenapa harus merenung
Kau bukanlah orang yang malang
Berlari saja sekarang
Kenapa harus menunggu waktu yang akan datang
Kenapa masih termanggu
Itu ‘kan masa lalu
Kenapa masih belum juga kau sujud
Kamu ragu
Atau kamu lupa siapa Tuhanmu
Bukan kata-kata
Bukan pula doa-doa
Kenapa tidak langsung saja ngomong dengan Tuhan
Dia tidak tuli
Dia tidak jauh
Dia ada di segala arah
Kenapa harus binggung
Bungkam saja mulutmu sekarang


Monday, November 9, 2015

Sang Gembala Tua



Ilalang mulai bernyanyi di pagi yang indah
Gemuruh angin mulai berhembus di balik celah-celah mega yang cerah
Senyuman rerumputan pun ikut menyapa lirih
Alam sungguh mengah
Gumam sang gembala yang lusuh
Melirik diri
Tersadar dengan renungan hati
Sang gembala ikut larut dengan alam yang bernyanyi
Tersadar dari nyanyian lugunya
Mencari jejak langkah mentari yang menghilang
Senja berlari
Sembari menari sendiri
Sang gembala mulai menyendiri lagi




Sunday, November 8, 2015

Muhamad Suhaedi.artikel. manajemen mutu pendidikan model the deming prize



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penjaminan mutu atau kualitas barang (produk) dan jasa merupakan aspek yang selalu menjadi tolok ukur dalam dunia industri khususnya—yang mana tingkat kesuksesan suatu perusahaan bisa diukur dari produk-produk yang dihasilkannya (berkualitas). Ukuran ini menjadi sangat penting dalam menjamin kepuasan pelanggan atau konsumen untuk selalu konsisten dalam menggunakan produk atau jasa dari sebuah perusahaan atau institusi.
Deming dalam Nasution, menjelaskan bahwa kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Perusahaan harus benar-benar dapat memahami apa yang dibutuhkan konsumen atas suatu produk yang akan dihasilkan.[1] Atau dengan kata lain, kebutuhan pasar atau konsumen merupakan tujuan utama dalam memproduk barang atau jasa.
Barang atau jasa yang diproduksi tidak akan berkualitas atau bermutu jika dalam pengelolaannya (yang kaitannya dengan perusahaan atau institusi) tidak mengacu pada standar-standar mutu yang telah ditetapkan—sehingga, baik dari segi kelayakan produk atau jasa yang dihasilkan selalu relevan dengan kebutuhan pelanggan sebagai pengguna barang dan jasa.
Nasution mengetengahkan pentingnya kualitas—yang bisa dilihat dari dua sisi, yaitu dari sudut manajemen operasional, dan manajemen pemasaran. Dilihat dari sudut manajemen operasional kualitas produk merupakan salah satu kebijakan penting dalam meningkatkan daya saing produk yang harus memberi kepuasan kepada konsumen yang melebihi atau paling tidak sama dengan kualitas produk dari pesaing. Dilihat dari sudut menajemen pemasaran, kualitas produk merupakan salah satu unsur utama dalam bauran pemasaran (marketing-mix), yaitu produk, harga, promosi, dan saluran distribusi yang dapat meningkatkan volume penjualan dan memperluas pangsa pasar perusahaan.[2]
Untuk itu, maka sebuah perusahaan atau institusi seharusnya menggunakan dan memanfaatkan standar-standar mutu yang telah ditetapkan—yang dalam hal ini salah satunya adalah manajemen mutu terpadu (Total Quality Management) yang merupakan pendekatan, yang penerapannya merupakan filosofi dan sekumpulan petunjuk prinsip-prinsip yang menjadi landasan untuk perbaikan terus-menerus dari suatu organisasi.[3]
Total Quality management dalam perkembangannya—mengembangkan berbagai macam model dan metode yang kaitannya dengan mutu suatu barang atau jasa. Banyak tokoh-tokoh mutu yang menjadi pionir yang menjadi pengusung pentingnya kualitas atau mutu barang atau jasa dari sebuah perusahaan, yaitu seperti W. Edwards Deming, Joseph Juran dan Philip B. Crosby.
W. Edwards Deming sebagai salah satu pionir yang mengagas pentingnya mutu mengatakan bahwa, masalah mutu sebenarnya berasal dari masalah manajemen[4] yang kurang baik dari sebuah industri. Dalam hal ini Deming melihat bahwa, manajemen yang buruk akan mengakibatkan produksi barang dan jasa dalam sebuah indsutri akan mengalami kegagalan khususnya dengan mutu barang dan jasa yang dihasilkan, dengan demikian maka kepuasan para pelanggan dan konsumen menjadi masalah yang serius. Selain itu, industri tidak akan bisa mengembangkan pangsa pasa lebih jauh lagi.
Edward Deming mengetengahkan empat belas point yang menjadi rujukan dalam mengembangkan mutu produk dan jasa sekaligus untuk mengembangkan perusahaan agar lebih mampu bersaing dalam dunia industri. Pemikiran-pemikiran Deming yang terkait dengan total   quality management khususnya dalam meningkatkan mutu produksi barang dan jasa di negara Jepang menghantarkan namanya—sebagai bapak manajemen mutu.
Deming mencatat kesuksesan dalam memimpin revolusi kualitas di Jepang, yaitu dengan memperkenalkan penggunaan teknik pemecahan masalah dan pengendalian proses statistic (statistical process control). Atas jasanya yang besar bagi industri Jepang, maka setiap tahun diberikan perhargaan bernama Deming Prize kepada setiap perusahaan yang berprestasi dalam hal kualitas.[5]
Dengan pertasinya ini maka dalam total quality management muncul dan berkembang berbagai model manajemen mutu terpadu—yang salah satunya adalah Model Manajemen Mutu: The Deming Prize (Hadiah Deming). Model ini merupakan muara dari hasil pemikiran-pemikiran dan kontribusi Deming dalam hal penjaminan mutu. The Deming Prize merupakan sebuah penghargaan—dijadikan sebagai standar mutu industri-industri besar di Jepang dalam setiap aspek yang terdapat di dalam perusahaan baik menyangkut produk barang dan jasa sampai kepada hal menajemen, pengelolaan dan pemasaran.
Dari paparan di atas, penulis (pemakalah) tertarik untuk lebih jauh mengkaji tentang standar mutu the deming prize—yang penulis tuangkan dalam judul “model manajemen mutu: the deming prize”.
B.     Rumusan Masalah
Bagaimana biografi W. Edward Deming?
Apa saja kontribusi W. Edward Deming dalam total quality management?
Apa yang dimaksud dengan model manajemen mutu: model the deming prize.?
C.     Tujuan
mendeskripsikan biografi W. Edward Deming
mengetahui kontribusi W. Edward Deming dalam total quality management
Mendeskripsikan tentang model manajemen mutu: the deming prize
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Singkat W. Edwards Deming
W. Edwards Deming adalah seorang ahli statistik Amerika yang memiliki gelar PhD dalam bidang fisika. Ia dilahirkan pada tahun 1990. Pengaruhnya sebagai teoritikus manajemen bermula di barat, namun justru Jepang memanfaatkan keahliannya sejak 1950. Deming mulai memformulasikan idenya pada tahun 1930-an ketika melakukan penelitian tentang metode-metode menghilangkan variabilitas dan pemborosan dari proses industri. Dia memulai kerjanya di Western Electric, milik took legendaries Hawthorne, di Cicago.[6]
Deming, sebagai seorang doctor statistic berkebangsaan Amerika Serikat yang merupakan pakar kualitas ternama dan yang mengajarkan kepada Jepang tentang konsep pengendalian kualitas, mengemukakan bahwa proses industry harus dipandang sebagai suatu perbaikan kualitas secara terus-menerus (continuous quality improvement), yang dimulai dari sederet siklus sejak adanya ide untuk menghasilkan suatu produk, proses produk, sampai dengan distribusi kepada pelanggan; seterusnya berdasarkan informasi sebagai umpan-balik yang dikumpulkan dari pengguna produk (pelanggan) dikembangkan ide-ide untuk menciptakan produk baru atau meningkatkan kualitas produk lama beserta produksi yang ada saat ini.[7]
Dalam masa awal perkembangannya, ide Deming tentang mutu terpadu ini kurang mendapat perhatian di Amerika dan Barat, di mana penekanan industri Amerika dan dunia Barat berada pada pemaksimalan produksi dan keuntungan.[8]
Tetapi berbeda dengan Jepang yang menggunakan ide Deming dalam peningkatan kualitas barang dan jasa, sehingga mampu menjadi pemegang kendali pasar dunia. Perwujudan dari konsep yang ditawarkan Deming ini, yang kemudian benar-benar dikembangkan di Jepang. Sejak akhir tahun 1970-an, Jepang mulai berhasil menarik minat para pelanggan. Dan ini membuat industrialisasi yang ada di Amerika dan dunia Barat mulai mempertanyakan apa strategi yang diterapkan di Jepang. Akhirnya mereka menyadari bahwa penerapan kualitas tertinggi pada produk itu lebih penting dari hanya sekedar memaksimalkan produksi dan keuntungan dengan mengesampingkan kualitas.[9]
Perhatian atas kualitas produk ini pada perkembangannya telah memunculkan beberapa penghargaan (award) yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang telah berhasil melaksanakan Total Quality Management (TQM). Di mana TQM ini bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk perwujudan dari gagasan Deming di atas. Salah satu award itu adalah Deming Award, yang ditetapkan pada tahun 1951 untuk memperingati jasa Deming terhadap kendali mutu Jepang.[10]
B.     Kontribusi W. Edward Deming dalam Mengembangkan Konsep Total Quality Management
W. Edwards Deming sebagai seorang pakar manajemen mutu banyak memunculkan dan melahirkan ide dan konsep-konsep terkait dengan mutu barang dan jasa yang sangat bergarga sebagaimana yang dikembangkan oleh Jepang—sehingga mampu menjadi pengendali pasar dunia sampai sekarang ini. Adapun kontribusi  Deming dalam manajemen mutu yaitu:
1.      Siklus Deming (Deming Cycle)
Siklus deming ini dikembangkan untuk menghubungkan produksi suatu produk dengan kebutuhan pelanggan dan memfokuskan sumber daya semua depantemen (riset, desain, produksi, pemasaran) dalam suatu usaha kerjasama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. tahap-tahap siklus deming adalah sebagai berikut, yaitu: (a) mengadakan riset konsumen dan menggunakannya dalam perencanaan produk (plan); (b) menghasilkan produk (do); (c) memeriksa produk apakah telah dihasilkan sesuai rencana (check); (d) memasarkan produk tersebut (act); (e) menganalisis bagaimana produk tersebut diterima di pasa dalam hal kualitas, biaya, dan criteria lainnya (analyze).[11]
Keempat kegiatan ini dilakukan secara berulang-ulang dalam organisasi dengan melakukan analisis mengenai bagaimana penerimaan pasar terhadap produk dalam hal mutu, biaya, dan criteria lainnya.
2.      Empat belas butir prinsip manajemen Deming
Empat Belas point deming ini merupakan ringkasan dari keseluruhan pandangan W. Edwards Deming terhadap apa yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan untuk melakukan transisi positif dari bisnis sebagaimana biasanya sehingga menjadi bisnis berkualitas tingkat dunia. Berikut ini adalah ringkasan dari keempat belas poit Deming, yaitu:[12]
a.       Ciptakan keajegan tujuan dalam menuju perbaikan produk dan jasa, dengan maksud untuk menjadi lebih dapat bersaing, tetap berada dalam bisnis, dan utnuk menciptakan lapangan kerja.
b.      Adopsilah falsafah baru. Manajemen harus memahami adanya era ekonomi baru dan siap menghadapi tantangan, belajar bertanggung jawab, dan mengambil alih kepemimpinan guna menghadapi perubahan.
c.       Hentikan ketergantungan pada inspeksi dalam membentuk mutu produk. Bentuklah mutu sejak dari awal.
d.      Hentikan praktik menghargai kontrak berdasarkan tawaran yang rendah
e.       Perbaiki secara konstan dan terus-menerus sistem produksi dan jasa, untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas, yang pada gilitannya secara konstan menurunkan biaya.
f.       Lembagakan on the job training.
g.      Lembagakan kepemimpinan. Tujuan dari kepemimpinan haruslah untuk membantu orang dan teknologi dapat bekerja dengan lebih baik.
h.      Hapuskan rasa takut sehingga setiap orang dapat bekerja secara efektif.
i.        Hilangkan dinding pemisah antar departemen sehingga orang dapat bekerja sebagai suatu team.
j.        Hilangkan slogan, desakan, dan target bagi tenaga kerja. Hal-hal tersebut dapat menciptakan permusuhan.
k.      Hilangkan kuota dan manajemen berdasarkan sasaran. Gantikan denga kepemimpinan.
l.        Hilangkan penghalang yang dapat merampok kebanggaan karyawan atas keahliannya.
m.    Giatkan program pendidikan dan self-improvement.
n.      Buatlah transformasi pekerjaan setiap orang dan siapkan setiap orang untuk mengerjakannya.[13]
Empat belas point ini merupakan pijakan dasar yang digunakan oleh setiap perusahaan dalam menjalankan perusahaannya dan dalam memproduk barang dan jasa yang bermutu—sebagaimana yang ditawarkan oleh Deming. Ini merupakan salah satu ide yang ditawarkan agar perusahaan bisa maju dan berkembang seperti misalnya negara Jepang.
3.      Deming Seven Deadly Diseases (tujuh hambatan pada perbaikan mutu)
Berikut adalah tujuh hambatan pada perbaikan mutu yang harus dihindari oleh perusahaan yang bervisi untuk meningkatkan mutu produk, yaitu:[14]
a.       Tidak adanya tujuan yang tetap untuk untuk perencanaan produk dan jasa yang mempunyai pasa yang cukup untuk menjaga agar perusahaan tetap berjalan dan pekerjaan tetap tersedia. Banyak perusahaan dijalankan hany untuk sekedar mendapatkan keuntungan sehingga segera dapat dibagikan kepada para pemegang saham.
b.      Penekanan pada laba jangka pendek, berpikir jangka pendek yang dipengaruhi oleh ketakutan akan adanya usaha pengambilalihan tak menghasilkan dividen. Bila manajemen puncak hanya memikirkan keuntungan, apalagi dengan cara memotong biaya pendidikan dan latihan, memotong biaya pemeliharaan, dan memotong biaya riset, produktivitas dan mutu tidak akan pernah meningkat.
c.       Sistem penilian personal bagi manajer dan manajemen berdasar tujuan tanpa menyediakan metode atau sumber daya yang cukup untuk mencapai tujuan tersebut.
d.      Pemberian kerja yang berlebihan dari manajer
e.       Hanya menggunakan data dan informasi yang kelihatan saja untuk pengambilan keputusan dan mengabaikan hal-hal yang tidak diketahui dan yang tak dapat diketahui.
f.       Biaya kesehatan (tunjangan kesehatan) yang berlebihan atau sangat tinggi.
g.      Biaya untuk penggantian yang disebabkan oleh pengacara-pengacara.
C.     Model Manajemen Mutu : The Deming Prize
1.      The Deming Prize (Penghargaan Deming)
Mutu merupakan salah satu usur yang sangat menentukan suatu produk barang atau jasa memiliki nilai jual di tengah-tengah konsumen. Sering kali konsumen sebelum membeli atau menggunakan jasa jika belum mengetahui kualitasnya—sehingga bisa dikatakan bahwa, mutu memiliki peran yang sanat signifikan. Tapi lebih dari itu, produk berkualitas mempunyai aspek penting lain, yaitu: 1) konsumen yang membeli produk berdasarkan  berdasarkan mutu, umumnya dia mempunyai loyalitas produk yang besar dibandingkan dengan konsumen yang membeli berdasarkan orientasi harga; 2) bersifat kontradiktif dengan cara pikir bisnis tradisional, karenan memang pada kenyataannya memproduksi barang bermutu tidak otomatis lebih mahal dari memproduksi barang bermutu rendah; dan 3) menjual barang tidak bermutu kemungkinan akan banyak menerima keluhan dan pengembalian barang dari konsumen, atau biaya untuk memperbaikinya menjadi sangat besar, di samping juga akan memperoleh citra yang buruk.[15]
Kaitannya dengan itu, maka ada standar-standar mutu yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam menentukan mutu suatu produk barang atau jasa—salah satunya adalah model menajemen mutu The Deming Prize. Di Jepang, beberapa perusahaan terkemuka mempunyai obsesi untuk memenagkan Hadiah Deming (Deming Prize). Dengan gambaran bahwa perusahaan yang memenagkan penghargaan ini berarti perusahaan tersebut memiliki kualitas yang benar-benar baik. Penghargaan mutu nasional Jepang tersebut diluncurkan pada tahun 1951.[16] Peluncuran ini untuk memperingati jasa Dr. W.E. Deming terhadap kendali mutu Jepang, memperoleh dana dari hak cipta penerbitan transkipsi ceramah Dr. Deming yang telah dibuatnya untuk JUSE (Union of Japanese Scientist and Engineers).[17]
Hadiah Deming ini dibagi ke dalam dua kategori, yaitu bagi perseorangan yang berjasa terhadap kendali mutu dan metode statistic.[18] Jepang, dan yang diberikan kepada industri. Hadiah yang kedua ini mempunyai kategori tambahan dalam beberapa bidang, diantaranya: Deming Application Prize bagi divisi-divisi, Deming Application Prize bagi perusahaan kecil, dan Quality Control Award untuk pabrik yang diberikan oleh Komite Hadiah Deming.
Memenangkan hadiah deming, sebagai usaha untuk menguasai total quality control, telah menjadi obsesi dari beberapa perusahaan terkemuka di jepang. Ada beberapa katagori penghargaan, diantaranya kategori divisi, pabrik, perusahaan besar, menengah dan kecil. Di samping itu, ada juga Hadiah Deming yang diberikan kepada individu yang telah memberikan kontribusi penting terhadap teori statistic.[19]
2.      Kriteria dan Tahapan Deming Prize
Untuk mendapatkan penghargaan ini, perusahaan-perusahaan dituntut untuk memenuhi kriteria-kriteria yang menjadi syarat layak atau tidaknya suatu perusahaan untuk memperoleh penghargaan ini. Kriteria yang diajukan untuk memperoleh penghargaan ini sangat ketat dan mereka pernah mendapatkan kritik pada beberapa bagian yang terlalu kaku dalam pendekatan terhadap mutu.
Agar memenuhi syarat bagi deming Application Prize ini, manajemen puncak suatu perusahaan harus mendaftarkan diri terlebih dahulu. Kemudian dari akhir Juli sampai akhir September setiap tahun, sejumlah besar ahli kendali mutu dari subkomite Application Prize akan dikirimkan ke perusahaan untuk mnegunjungi setiap pabriknya, kantor cabang dan kantor pusat perusahaan. Ahli-ahli inilah yang menguji, mengaudit keadaan pengendalian mutu terpadu perusahaan saat itu, mencurahkan perhatian khusus pada kendali mutu statistiknya yang kemudian menentukan tingkatan.[20]
Adapun daftar pemeriksaan yang digunakan pada Deming Application Prize ini adalah sebagai berikut:
a.       Kebijakan dan sasaran, yaitu meliputi : (1) Kebijakan mengenai manajemen, mutu dan kendali mutu; (2) Metode dalam menentukan kebijakan dan sasaran; (3) Kelayakan dan konsistensi isi sasaran; (4) Pemanfaatan metode statistic; (5) Penyebaran dan penyerapan sasaran; (6) Pemeriksaan sasaran dan pelaksanaannya; (7) Hubungan antara rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek
b.      Organisasi dan operasinya, yaitu meliputi : (1) Garis tanggung jawab yang jelas; (2) Kelayakan pendelegasian wewenang; (3) Kerjasama di antara divisi-divisi; (4) Kegiatan-kegiatan komite; (5) Pemanfaatan staf; (6) Pemanfaatan kegiatan gugus kendali mutu (kelompok kecil); (7) Audit kendali mutu.
c.       Pendidikan dan penyebarannya, yaitu meliputi : (1) Rencana pendidikan dan pelaksanaannya sebenarnya; (2) Kesadaran tentang mutu dan pengendalian, pemahaman terhadap kendali mutu; (3) Pendidikan mengenai konsep-konsep dan metode-metode statistik dan penyerapannya; (4) Kemampuan untuk memahami pengaruhnya; (5) Pendidikan bagi subkontraktor dan organisasi luar; (6) Kegiatan gugus kendali mutu; (7) Sistem Pengajuan sasaran.
d.      Pengumpulan dan penyebaran informasi serta pemanfataannya, yaitu meliputi : (1) Pengumpulan informasi dari luar; (2) Penyebaran informasi di antara divisi-divisi; (3) Kecepatan penyebaran informasi yang berbasis computer; (4) Analisis (statistik) terhadap informasi dan pemanfaatannya.
e.       Analisis, yaitu meliputi : (1) Pemilihan masalah dan tema yang penting; (2) Kelayakan metode analitik; (3) Pemanfaatan metode statistic; (4) Pengikatan dengan teknologi rekayasa sendiri; (5) Analisis mutu dan analisis proses; (6) Pemanfaatan hasil analisis; (7) Sumbangan saran-saran bagi perbaikan.
f.       Standarisasi, yaitu meluputi : (1) Sistem standar; (2) Metode penetapan, perbaikan, dan pembatalan standar; (3) Catatan sebenarnya tentang penetapan, perbaikan, dan pembatalan standar; (4) Isi standar; (5) Pemanfaatan metode statistic; (6) Akumulasi teknologi; (7) Pemanfaatan standar.
g.      Pengendalian, yaitu meliputi : (1) Sistem pengendalian bagi mutu dan bidang-bidang yang berhubungan, seperti biaya dan kuantitas; (2) Titik pengendalian dan bahan pengendalian; (3) Pemnafaatan metode statistik, seperti diagram pengendalian dan penerimaan umum cara berpikir menurut statistic; (4) Sumbangan kagiatan gugus kendali mutu; (5) Kondisi pengendalian kegiatan yang sebenarnya; (6) Kondisi sitem pengendalian yang sebenarnya.
h.      Jaminan mutu, yaitu meliputi : (1) Prosedur pengembangan produk baru; (2) Pengembangan mutu (rincian fungsi mutu) dan analisisnya, keandalan, dan peninjauan kembali desain; (3) Keselamatan dan pencegahan kelemahan produk; (4) Pengendalian proses dan perbaikan; (5) Kemampuan proses; (6) Pengukuran dan pemeriksaan; (7) Pengendalian fasilitas/perlengkapan, pembuatan subkontrak, pembelian, pelayanan, dan sebagainya; (8) Sistem jamina mutu dan auditnya; (9) Pemanfaatan metode statistic; (10) Kondisi praktis jaminan mutu.
i.        Pengaruh, yaitu meliputi : (1) Mengukur pengaruh; (2) Pengaruh yang tampak, seperti mutu, kemampuan pelayanan, tanggal penyerahan, biaya, laba, keselamatan, lingkungan, dan sebagainya; (3) Pengaruh yang tidak tampak; (4) Kecocokan antara ramalan tentang pengaruh dan catatan yang sebenarnya.
j.        Rencana masa depan, yaitu meliputi : (1) Pemahaman keadaan saat ini dan kenyataannya; (2) Kebijakan yang dipakai untuk mengatasi kekurangan; (3) Rencana promosi bagi masa depan; (4) Hubungan dengan rencana jangka panjang perusahaan.[21]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pertama, Penghargaan Deming (Deming Prize) adalah penghargaan yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan di Jepang terkait dengan mutu/kualitas. Pertama kali diluncurkan pada tahun 1951. Peluncuran ini untuk memperingati jasa Dr. W.E. Deming terhadap kendali mutu Jepang, memperoleh dana dari hak cipta penerbitan transkipsi ceramah Dr. Deming yang telah dibuatnya untuk JUSE (Union of Japanese Scientist and Engineers). Penghargaan ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu: untuk perorangan dan juga untuk industry atau perusahaan.
Kedua, Untuk memperoleh penghargaan ini, perusahaan harus mendaftarkan diri ke komite Deming Prize, yang kemudian perusahaan ini akan dinilai dengan beberapa kriteria penialaian sebagai berikut: a) kebijakan dan sasaran; b) organisasi dan operasinya; c) pendidikan dan penyebarannya; d) pengumpulan dan penyebaran informasi serta pemanfataannya; e) analisis; f) standarisasi; g) pengendalian, h) jaminan mutu; i) pengaruh; dan j) rencana masa depan.


DAFTAR PUSTAKA
Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu
Pendidikan, Terj. Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, Jogjakarta: IRCiSoD, 2015.
Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management, Yogyakarta:
ANDI, 2003.
M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), Jakarta:
Ghalia Indonesia, 2001.
Soewarso Hardjosoedarmo, Bacaan Terpilih tentang Total Quality Management,
cet. III, Yogyakarta: Andi, 2004.
Suyadi Prawirosentono, Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu; Total
Quality Mangement Abad 21 Studi Kasus dan Analisis, cet. II, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Thomas Sumarsan, Sistem Pengendalian Manajemen: Konsep, Aplikasi, Dan
Pengukuran Kinerja, Edisi 2, Jakarta: PT. Indeks, 2013.
Vincent Gaspersz, Total Quality Management, Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2005.



[1] M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001), hlm. 16.
[2] M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 17.
[3] Lihat The U.S. Departement of Defense dalam Vincent Gaspersz, Total Quality Management, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 6.
[4] Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu Pendidikan, Terj. Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2015), hlm. 97
[5] Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management, (Yogyakarta: ANDI, 2003), hlm. 49.
[6] Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu Pendidikan, hlm. 36-37.
[7] Vincent Gaspersz, Total Quality Management, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 9.
[8] Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu Pendidikan, hlm. 40.
[9] Soewarso Hardjosoedarmo, Bacaan Terpilih tentang Total Quality Management, cet. III, (Yogyakarta: Andi, 2004), hlm. 104.
[10] M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 245.
[11] M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 35.
[12] Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management,. hlm. 50-52.
[13] Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu Pendidikan, hlm.  100-103.
[14] Thomas Sumarsan, Sistem Pengendalian Manajemen: Konsep, Aplikasi, Dan Pengukuran Kinerja, Edisi 2 (Jakarta: PT. Indeks, 2013), hlm. 187-188.
[15] Suyadi Prawirosentono, Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu; Total Quality Mangement Abad 21 Studi Kasus dan Analisis, cet. II, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 3
[16] Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu Pendidikan, hlm. 143.
[17] M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 245
[18] Analisis statistik di bidang pengendalian mutu ini dikenal sejak tahun 1924, dan dikemukakan oleh Dr. Wolter Shewhart dari perusahaan Bell Telephone Laboratories. Pemikiran dari Dr. Shewhart ini diterbitkan dalam buku berjudul Economic Control of Quality of manufactured Product yang merupakan konsep dasar dari pengendalian mutu suatu barang di perusahaan manufaktur. Dasarnya adalah untuk mengetahui produk yang dapat diterima (accepted) atau produk yang ditolak karena rusak. Tujuannya adalah agar produk yang rusak tidak dijual kepada konsumen, tetapi harus dimusnahkan. Lihat Suyadi Prawirosentono, Suyadi Prawirosentono, Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu; Total Quality Mangement Abad 21 Studi Kasus dan Analisis,., hlm. 83.
[19] Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu Pendidikan, hlm. 143.
[20] M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 245
[21] Lihat dan bandingkan dengan pernyataannya Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu Pendidikan, hlm. 143.