Saturday, October 25, 2014

berkaca sejenak



Sejarah diri mulai terkungkung dalam cermin bisu di sudut kuburku
Kelamnya menjelma di setiap sisi-sisi terdalam jiwaku
Suara-suara gemericik hujan bertabuh di pusara kalbu
Menjarakan akal, membalut pilu
Cermin ini sungguh amat kusam
Kusam sejak diri lupa akan maqam
Sedari diri dulu, jiwa membungkam
Kalau lah daku bercermin dahulu
Tak kan ada nista yang menyapa
Kegundahan-kegundahan mulai menjalar di relung jiwa
Menjadi pelita, menjadi bahtera
Tak pelak lagi cermin bisuku terus saja bungkam
Seakan sesal diri menjamah lara
Bungkam, terus saja bungkam
Katanya dalam sindiran hati yang membias mati

kenapa harus berpikir

Sungguh sulit menjadi orang yang sederhana dalam berpikir. Selalu saja kita terperangkap dalam desakana-desakan pola pikir yang menghantarkan kita pada kejumudan dalm bepikir. Proses berpikir merupakan salah satu jendela untuk membuka pikiran kita yang tertuju pada satu titik. Hal ini dirasakan sangat melelahka jika mendasarkan diri pada paradigma  “kematian”. Apa sebenarnya berpikir itu. Berpikir ya berpikir kata sebagian orang yng terlalu kaku dalam memberika definis tentang berpikir. Jauh dari dasar jiwa para pemikir, memang agak susah untuk mendeskripsikan apa itu berpikir, jika memang kita terpaku pada paradigma kematian dalam berpikir.

Seyogyanya, berpikir adalah identiatas kita sebagai seorang ilmuan. Intelektualitas seseorang bisa di ukur dari olah pikir yang dia lakukan dalam kancah dunia akademisnya. Toh sampai sekarang banyak orang  (para ilmuan) yang terlalu kaku dalam berpikir. Kenapa demikian, kita bertanya dulu pada diri kita masing-masng.....!!!

Friday, October 24, 2014

Para Abdi tuhan



Sunggguh membosankan.!!!!
Semua tercipta tanpa sepenggal kata
Merdu-kicauan burung berlarian di keheningan senja
Secarik kata, menari-nari di ujung pena yang nakal
Dia sedang bosan dengan semua yang nyata
Kamana dunia fanaku-menghilang tanpa kata-tanpa suara
Mulailah sang dewi bersua di dalam benak sang fajar
Menyingsing gundah mendekap sayu
Aduh.... aduh....
Bisik merdu sang hujan-dengan melongok menghadap bumi-gersang
Sungguh durjana kau wahai para abdi
Dia datang dengan tatapan murka
Sembari tersenyum dalam kebisuan sukma
Lerailah kata-kata itu, wahai para penyair
Dia menunggu di pintu keidupan-Nya
Kerisauan itu mulai menjelma, kini
Maha Benar Sang Adil
Mempersunting para abdi yang papa

Makalah: filsafat ilmu



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
Filsafat ilmu merupakan pijakan dalam menelaah hakikat suatu ilmu pengetahuan. Jika mengkaji suatu bidang keilmuan maka, filsafat ilmu menjadi pisau analisisnya, karena filafat ilmu merupakan basic dari seluruh bidang keilmuan yang sedang berkembang saat ini. Memahami suatu bidang keilmuan tertentu jika tidak ditelaah dengan menggunakan filsafat ilmu sebagai tolok ukurnya maka, pengkajian dan penelitian tentang ilmu yang tekuni akan terhenti pada konteks pemahaman semata (dangkal) tidak sampai pemahaman yang sebenarnya (hakikat) tentang disiplin ilmu tesebut.
Mengutip pendapatnya Muhammad Adib yang secara apik memaparkan pengertian filsafat ilmu, yaitu: filsafat ilmu adalah segenap pemikiran yang reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.[1] Mengkaji suatu bidang keilmuan sehingga sampai pada pemahaman tentang hakikat suatu ilmu jika menggunakan filsafat ilmu maka, tidak terlepas dari landasan-landasan dalam penelaahan ilmu itu tersendiri, yaitu: ontologi, episteologi dan aksiologi. Landasan-landasan inilah yan akan menghantarkan pemahaman pada pemahaman yang sebenarnya (hakikat) dari struktur dan segala yang berkaitan dengan suatu bidang ilmu.
Dalam konteks filsafat ilmu akan menjawab berbagai pertanyaan tentang hakikat ilmu pengetahuan seperti: apa yang dikaji dalam ilmu (ontologi); bagaimana cara memperoleh ilmu (epistemologi); dan untuk apa ilmu digunakan dalam kehidupan (aksiologi). Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar sekaligus rujukan bagi filsafat ilmu dalam mengkaji dan menelaah hakikat dari ilmu.
Dan dalam makalah ini, kami (kelompok I) akan menoba memaparkan dengan rinci apakah makna dan konsep dari ontologi, epistemologi dan aksiologi dalam konteks filsafat ilmu ketika mengkaji suatu bidang ilmu.?

B.       Rumusan masalah
1.      Apakah makna dan konsep ontologi dalam konteks filsafat ilmu.?
2.      Apakah makna dan konsep epistemologi dalam konteks filsafat ilmu.?
3.      Apakah makna dan konsep aksiologi dalam konteks filsafat ilmu.?
C.       Tujuan
Untuk mengetahui makna dan konsep ontologi dalam konteks filsafat ilmu
Untuk mengetahui makna dan konsep epistemologi dalam konteks filsafat ilmu
Untuk mengetahui makna dan konsep aksiologi dalam konteks filsafat ilmu


BAB II
PEMBAHASAN
1.    Makna dan Konsep Ontologi
Secara etimologi “ontologi” berasal dari dua suku kata yaitu ontos dan logos. Ontos berarti sesutu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada.[2]  Berangkat dari definisi ini maka pada dasarnya ontologi merupakan cabang filsafat yang berbicara tentang hakikat segala sesuatu yang dipersoalkan dalam filsafat terutama hakikat alam semesta ini. Keingintahuan manusia tentang segala sesuatu yang ada di muka bumi, mengantarkannya suatu pertanyaan yaitu, apakah hakikat alam semesta ini.? Apakah alam semesta ini mutlak keberadaannya dan pertnyaan-pertanyaan lainnya.
Ontologi sebagai ilmu yang membahas tentang realitas (ada) mencoba mengkaji hakikat alam semesta yang secara inderawi tampak nyata adanya, tetapi yang jadi persolan mendasar dalam konteks ontologi bukan sesuatu yang tampak nyata (yang terindra) tetapi hakikat dibalik yang terindra (metafisik). Asumsinya adalah, kenapa kita harus mengakaji sesuatu dengan ilmu pengetahuan (ontologi) tentang hakikat sesuatu, sedangkan jika menggunakan “kaca mata” inderawi tidak ada persoalan karena cukup diketahui benda-benda itu lewat indra. Sehingga bila dikaji secara radikal, maka sesungguhnya persolan-persoalan ontologi ini lebih kepada persolan metafisika.
Aristoteles menyinggung masalah metafisika dalam karyanya tentang ‘filsafat pertama’, yang berisi hal-hal yang bersifat gaib. Menurut Aristoteles, ilmu metafisika termasuk cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu, sehingga ilmu metafisika menjadi inti fisafat.[3] Senada dengan pendapat di atas, Noor Syam berpendapat bahwa, ontologi kadang-kadang disamakan dengan metafisika. Metafisika ini disebut juga sebagai prote-filosifia atau filsafat pertama. Sebelum manusia menyelidiki yang lain, manusia berusaha mengerti hakikat sesuatu.[4]
Pendapat-pendapat para ahli di atas merujuk pada pemaknaan atau menyamakan ontologi dengan metafisk, karena pada dasarnya, yang ingin di cari dari segala realitas yang ada adalah hakikatnya bukan pada bentuk materinya. Sehingga pemahaman itu tidak terhenti di satu titik yaitu tentang realitas semata tetapi dari itu. Dengan demikian corak dan karakteristik dari berpikir filsafat yaitu radikal, universal dan sistematis bisa menjadi media untuk mejadi pijakan ketika berbicara tentang ontologi ilmu pengetahuan jika disamakan anatara ontologi dan metafisika.
Tetapi jika konsep ontologi ditilik dari ilmu pengetahuan secara utuh, maka ontologi tidak bisa ditafsirkan lagi secara metafisik, tetapi lebih kepada sifat asli dari ilmu itu sendiri yaitu bersifat empirik-obyektif. Muhammad Adib dalam hal ini menjelaskan bahwa:
Ontologi, secara sederhana dapat dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan kongkret secara kritis. Aspek ontologi dari ilmu pengetahuan tertentu hendakny diuraikan antara lan secara: a) metodis; mengunajan cara ilmiah; b) sistematis; saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan; c) koheren; unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian yangbertentangan; d) rasiona; harus berdasar pada kaidah berpikir yang benar (logis); e)komprensif; melihat objek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang melainkan secara multidimensional-atau secara keseluruhan (holistik); f) radikal; diuraikan sampai akar persoalannya, atau esensinya; g)universal; muatan kebenarannya sampai tingkat umum yan berlaku dimana saja.[5]

Lebih jauh lagi Muhammad Adib memaparkan secara lebih rinci lagi terkait tentang karakteristik dari onologi ilmu pengetahuan yaitu:
Adapun karakteristik (ontologi) ilmu pngetahuan anatara lain adalah: i) ilmu berasal dari riset (penelitian); ii) tidak ada konsep wahyu; iii) adanya konsep pengetahuan empiris; iv) pengetahuan rasional, bukan kyakinan; v) pengetahuan obyektif; vi) pengetahuan sistematik; vii)pengetahuan metodologis; viii) pengetahuan observatif (observable); ix) menghargai asas verifikasi (pembuktian); x) menghargai asas eksplanatif (penjelasan); xi) menghargai asas keterbukaan dan dapat di ulang kembali; xii) menghargai asas skeptikisme yang radikal; xiii) melakukan pembuktian bentk kausalitas (causality); xiv) mengakui pengetahuan dan konsep yan relatif (bukan absolut); xv) mengakui adaya logika-logika ilmiah; xvi) memilki berbagai hipotesis dan teori-teori ilmiah; xvii) memilki konsep tentang hukum-hukum alam yang telah dibuktikan; xviii) pengetahuan bersifat netral dan tidak memihak; xix) menghargai berbagai metode eksperimen, dan xx) melakukan terapan ilmu menjadi teknologi.[6]

Dari rumusan dan karakteristik terkait dengan ontologi ilmu pengetahuan, maka dapat dipastikan bahwa ontologi ilmu lebih mendasarkan penyelidikannya pada data-data empiris-obyektif, yang secara difinif hanya mengarahkan perhatiannya pada penyelidikan yang bersifat ilmiah. Tetapi jika dilihat dari makna “mencari hakikat” sesuatu maka lebih kepada metafisik. Karena pada tataran metafisik ini sesungguhnya wilayah yang mengkaji secara lebih dalam tentang hakikat dari segala sesuatu yang bermuara pada filsafat itu sendiri sebagi induk dari segala ilmu yaitu ingin mengetahui segala yang ada dan yang mungkin ada.
2.        Makna dan Konsep Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata yunani, epiteme dan logos. Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan logos diartikan pikiran, kata atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar danlazimnya hanya di sebut teori pengetahuan yang dalam bahasa inggrisnya menjadi theory of knowledge.[7] Sedangkan menurut Conny semiawan dkk., menjelaskan bahwa: epitemologi adalah cabang filsafat yang menjelaskan tentang masalah-masalah filosofis sekitar teori pengetahuan. Epistemologi memfokuskan pada makna pengetahuan yang dihubungkan dengan konsep, sumber dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan dan sebagainya.[8]
Definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas mengindikasikan bahwa, epistemologi seyogyanya membahas dan mengkaji ilmu pengetahuan secara menyeluruh, baik dari sisi konsep, sumber, dan jenis pengetahuan yang dihasilkan dari berbagai metode dan pendekatannya. Pada tataran epistemologi, ilmu di kaji sedalam-dalamnya sehingga segala yang berkaitan degan ilmu pengetahuan ditelaah, karena epitemologi pada hakikatnya adalah untuk menjawab pertanyaan yang paling mendasar dari epistemologi ilmu pengetahuan yaitu, bagaimana cara memperoleh pengetahuan yang baik? Untuk menjawab pertanyaan ini maka, epistemologi harus mampu meng-cover segala sisi-sisi terdalam universal) dari ilmu pengetahuan.
Epistemologi pada hakikatnya mengkaji tiga hal yaitu : 1) cara (metode) memperoleh ilmu pengetahuan; 2) sumber ilmu pengetahuan; dan 3) hakikat kebenaran ilmu pengetahuan. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
1)      Cara atau metode dalam memperoleh ilmu pengetahuan.
Mengutip pendapatnya Muhammad Adib, memaparkan bahwa: Tata cara, teknik atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan adalah dengan metode non-ilmiah, metode ilmiah dan metode problem solving. Pengetahan yang diperoleh melalui pendekatan/ metode non-ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara penemuan secara kebetulan; untung-untungan (trial and error); akal sehat (common sense); prasangka; otoritas (kewibawaan); dan pengalaman biasa. Metode ilmiah adalah cara memperoleh pengetahuan melalui penekatan deduktif dan induktif.[9]
2)      Sumber ilmu pengetahuan
Menurut Jujun. S, memaparkan bahwa, pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis megembankan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri pada pengalaman mengembangkan paham yang disebut empirisme.[10]
Bersandar pada pendapat di atas, maka diketahui bahwa sumber ilmu itu diperoleh melalui indra dan akal. Karena, diantara sekian banyak sumber, ‘rasio’ dan ‘pengalaman indrawi’ merupakan sumber utama sekaligus sebagai ukuran kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Sumber rasio lebih bersangkutan dengan objek-objek umum, abstrak dan non-fisis, sedangkan sumber pengalaman lebih bersangkutan dengan objek-objek yang khusus, kongkret dan fiisis. Kedua sumber itu di dalam filsafat di kenal dengan ‘rasionalisme’ dan ‘empirisme’.
Otoritas adalah kekuasaan sah yang dimiliki oleh sesorang dan diakui oleh kelompoknya. Intuisi berperan sebagai sumber pengetahuan karena adanya kemampuan dalam diri manusia yang dapat melahirkan pernyataan-pernyataan berupa pengetahuan. Wahyu merupakan salah satu sumber pengetahuan karena berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Keyakinan adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan.[11]
3)      Hakikat kebenaran ilmu pengetahuan
Adapun hakikat kebenaran dari ilmu, masih bersifar relatif (nisbi) karena sumber kebenaran ini berasal dari manusia (produk akal) sehingga kebenarannya tidak mutlak. Keterbatasan akal manusia dalam menalar sesuatu tidak bisa menjamin suatu kebenaran yang hakiki.[12] Selain itu, sifat dasar dari ilmu pengetahuan yaitu empirik-obyektif sehingga hakikat kebenarannya bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.


3.        Makna dan Konsep Aksiologi
Iistilah aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai, dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi, aksiologi adalah ‘teori tentang nilai’. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimilki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.  Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu kepada permasalahan etika dan estetika.[13]
Aksiologi merupakan cabang dari filsafat yang menjawab pertanyaan yag paling fundamental yaitu untuk apa ilmu pengetahuan itu.? Yaitu masalah-masalah yag berkaitan dengan prilaku manusia, etika yang berbicara tentang baik-buruk dan estetika berbicara tentang indah-jelek. Permasalahan-permasalahan seperti ini yang coba dikaji oleh aksiologi sehingga manusia bisa menentukan segala sikapnya baik secar etika dan estetika.
Adapun yang menjadi objek dari aksiologi  yaitu memuat pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tingi dari tuhan. Misalnya, nilai moral, nilai agama, nilai keindahan (estetika).[14] Aksiologi meng-cover segala kegiatan manusia yang yang berorientasi pada akalak (moral), apakah sesuai dengan lingkungan masyarakatnya, teman bermainnya, dan teman bergaul.
Dalam versi yang berbeda, Muahammad Adib berpendapat bahwa: landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebt dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa yang dapat disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.[15]
Pendapat di atas melihat peran dan fungsi dari aksiologi bukan semata-mata menjawab permaslahn-permasalahan etika dan estetika, tetapi lebih melihat kepada kemanfaatan dari sebuah ilmu. Sehingga pemaknaan aksiologi merangkul semua tatanan kehidupan manusia. Sehingga jika bersandar pada pendapat yang kedua, maka implikasinya adalah, aksiologi dipandang sebagai alat untuk menemukan hakikat dari ilmu dalam tataran praktisnya. Sedangkan pada pendapat yang pertama lebih melihat aksiologi sebagai alat untuk menjawab permaslahan yang berkisar pada persolan etika dan estetika semata.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ontologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mengkaji tentang hakikat dari segala sesuatu yang ada. Secara definif ontologi mencoba mengkaji hakikat alam semesta yang tampak (terindra), tetapi jika ontologi disamakan dengan metafisik maka dalam hal ini yang ingin dikaji adalah hakikat di balik alam semesta (tidak terindra) itu sendiri.
Epistemologi merupakan cabang filsafat ilmu yang  berbicara tentang bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan yaitu: 1)cara (metode) memperoleh ilmu pengetahuan; 2) sumber ilmu pengetahuan; dan 3) hakikat kebenaran ilmu pengetahuan.
Aksiologi merupakan ilmu yang menjawab pertanyaan yang paling fundamental yaitu untuk apa ilmu itu digunakan.? Aksiologi berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah ilmu sehingga pengkajiannya terfokus pada etika (baik-buruk) dan estetika (indah-jelek).


DAFTAR PUSTAKA
Adian Husaini, et. al., Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam (Jakarta: Gema
Insani, 2013)
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2009)
Muhammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi Dan Logika
Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010)
Muhammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan Dan Dasar Filsafat Kependidikan
Pancasila (Surabaya: Usaha Nasional, 1986)
Surajiyo, Filsafat Ilmu & Perkembangannya Di Indonesia: Suatu Pengantar
(Jakarta: Bumi Aksara, 2010)
Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epitemologis,
Dan Aksiologis (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)



[1]Muhammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi Dan Logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm: 57.
[2] Ibid., hlm: 69.
[3] A. Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epitemologis, Dan Aksiologis (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm: 93.
[4] Muhammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan Dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm: 28.
[5] Muhammad Adib, hlm: 72-73.
[6] Ibid., hlm: 73-74.
[7] Surajiyo, Filsafat Ilmu & Perkembangannya Di Indonesia: Suatu Pengantar (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm: 24.
[8] Sesanto, hlm: 102.
[9] Muhammad Adib, hlm: 74-75.
[10] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009), hal: 50.
[11] Lihat Adian Husaini, et. al., Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam (Jakarta: gema insani, 2013), hlm: 93-107.
[12] M. Zainuddin, Catatan Perkuliahan: Filsafat Pendidikan Islam, 09 september 2014
[13] Susanto, filsafat ilmu....., hlm: 116.
[14] Ibid., hlm: 116.
[15] Muhammad Adib, Filsafat ilmu......., hlm: 79.