Ketika bahasa belum bisa
merefleksikan semua impian, janganlah berputus asa. Semua itu adalah alur yang
memang butuh untuk di cerna dalam memahami kebuntuan yang menikam. Jengah melihat
karir seseorang, berpose dengan ketenaran yang menjulang tinggi, jangalah
rendah diri, karena waktu memang sedang menceramahimu. Jika tuhan belum
menjawab semua doa-doa sucimu, bukan berarti di tuli. Ketika tuhan belum
menjawab panggilanmu, bukan berarti tuhan egois, tapi renungkanlah sejenak
makna diri dan posisimu di hadapan tuhan saat ini.
Untuk mencapai sesuatu, janganlah
melihat hasil apa yang seharusnya diperoleh, tapi sejauh manakah proses yang
telah dilalui. Kejayaan bukan berarti pemenang tunggal dan final, tapi
merupakan ujian untuk mengucap syukurmu semata. Kesuksesan tidak datang dengan “membabi
buta” dan tanpa pandang bulu, tapi selalu bersinergi antara usaha dan doa yang
selalu menjadi penghias harinya, sehingga hasil akhir yang didapatkan adalah
kemulian.
Jika “paradigma pesimis” yang
dijadikan pondasi dalam meniti dan mengukir setiap harapan yang ingin
diwujudkan, maka hal ini tidak akan berlangsung lama, karena pemikiran ini
berrsifat statis dan monoton dan bisa dipastikan tidak akan ada perrkembangan
yang berarti. Benahi diri sejanak dalam
tafakkur yang dalam, menginstal kembali produk pemikiran kita tentang masa
depan, maka kejanggalan hidup yang sering kali menjadi batu sandungan akan
terkikis dengan sendirinya.
Reformasi hidup memang seharusnya
selalu direview kemabali, bernostalgia dengan harapan yang gemilang tinggi,
agar setiap langkah tertata dengan hiasan semangat membaja. Kematian visi dan
misi karena tidak mampu diaplikasikan dalam bentuk langkah kongkrit untuk
selalu mencoba dan mencoba untuk menikmati setiap proses yang menjadi pijakan
dasar dalam menyusun strategi jitu untuk menjadi seorang “penakluk alam”.
Berkaca pada pengalaman hidup yang
pahit, akan mengantarkan pemikiran pada hikmah yang mesti dilalui dalam lapang maupun pedihnya hidup. Buanglah
sifat fesimis yang melanglang di belantara jiwa lesumu, karna pada hakikatnya
segala sesuatu mampu dikerjakan tanpa harus ada penyesalah tapi diawali dengan
pemikiran yang matang dan kebijaksanaan yang tinggi. Keraguan hanyalah debu
yang tak berarti apa-apa, bila dibandingkan dengan hari esok yang cerah.
Berpikir positif, melakukan dengan
niat yang positif akan menghantarkan diri pada pemaknaan hidup yang
sesungguhnya. Potret hidup yang biasa-biasa saja mampu menajadi hidup yang luar
biasa bila memilki keyakinan untuk melakukannya. Karena pada dasarnya, takdir
itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi takdir itu ada karena usaha
yang dilakukan oleh manusia sendiri.
Wallaua’allam
bissawab.
No comments:
Post a Comment