Monday, January 6, 2014

Refleksi Sebuah pemikiran




Ketika bahasa belum bisa merefleksikan semua impian, janganlah berputus asa. Semua itu adalah alur yang memang butuh untuk di cerna dalam memahami kebuntuan yang menikam. Jengah melihat karir seseorang, berpose dengan ketenaran yang menjulang tinggi, jangalah rendah diri, karena waktu memang sedang menceramahimu. Jika tuhan belum menjawab semua doa-doa sucimu, bukan berarti di tuli. Ketika tuhan belum menjawab panggilanmu, bukan berarti tuhan egois, tapi renungkanlah sejenak makna diri dan posisimu di hadapan tuhan saat ini.
Untuk mencapai sesuatu, janganlah melihat hasil apa yang seharusnya diperoleh, tapi sejauh manakah proses yang telah dilalui. Kejayaan bukan berarti pemenang tunggal dan final, tapi merupakan ujian untuk mengucap syukurmu semata. Kesuksesan tidak datang dengan “membabi buta” dan tanpa pandang bulu, tapi selalu bersinergi antara usaha dan doa yang selalu menjadi penghias harinya, sehingga hasil akhir yang didapatkan adalah kemulian.
Jika “paradigma pesimis” yang dijadikan pondasi dalam meniti dan mengukir setiap harapan yang ingin diwujudkan, maka hal ini tidak akan berlangsung lama, karena pemikiran ini berrsifat statis dan monoton dan bisa dipastikan tidak akan ada perrkembangan yang berarti.  Benahi diri sejanak dalam tafakkur yang dalam, menginstal kembali produk pemikiran kita tentang masa depan, maka kejanggalan hidup yang sering kali menjadi batu sandungan akan terkikis dengan sendirinya.
Reformasi hidup memang seharusnya selalu direview kemabali, bernostalgia dengan harapan yang gemilang tinggi, agar setiap langkah tertata dengan hiasan semangat membaja. Kematian visi dan misi karena tidak mampu diaplikasikan dalam bentuk langkah kongkrit untuk selalu mencoba dan mencoba untuk menikmati setiap proses yang menjadi pijakan dasar dalam menyusun strategi jitu untuk menjadi seorang “penakluk alam”.
Berkaca pada pengalaman hidup yang pahit, akan mengantarkan pemikiran pada hikmah yang mesti  dilalui dalam lapang maupun pedihnya hidup. Buanglah sifat fesimis yang melanglang di belantara jiwa lesumu, karna pada hakikatnya segala sesuatu mampu dikerjakan tanpa harus ada penyesalah tapi diawali dengan pemikiran yang matang dan kebijaksanaan yang tinggi. Keraguan hanyalah debu yang tak berarti apa-apa, bila dibandingkan dengan hari esok yang cerah.
Berpikir positif, melakukan dengan niat yang positif akan menghantarkan diri pada pemaknaan hidup yang sesungguhnya. Potret hidup yang biasa-biasa saja mampu menajadi hidup yang luar biasa bila memilki keyakinan untuk melakukannya. Karena pada dasarnya, takdir itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi takdir itu ada karena usaha yang  dilakukan oleh manusia sendiri.
Wallaua’allam bissawab.


No comments: