Wednesday, November 13, 2019

Siapakah kita


Siapakah kita—merupakan pertanyaan mendasar yang selalu saja di dengungkan oleh sebagaian orang yang belum tau hakikat dirinya. Secara filosofis kita adalah apa yang kita pikirkan tentang segala sesuatu, baik itu tentang sesuatu yang kita pikirkan, yang diindra sampai dengan apa yang dihayalkan. Berkaitan dengan itu, untuk menyadarkan diri yang belum mengerti tentang hakikat diri, maka salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah dengan belajar dan terus belajar. Kenapa harus belajar? Ada apa dengan belajar? Apa kaitannya belajar dengan mengenal hakikat atau esensi diri? Pertanyaan-pertanyaan aneh seperti ini selalu mengema dalam relung setiap diri yang belum tau tentang dirinya.
Berkaitan dengan hal di atas, menarik untuk di simak perkataan dari Murtadha Muthahhari yang menegaskan bahwa, kita yakin bahwa perbuatan individu-individu manusia pasti memiliki “tujuan”; semua perbuatan manusia punya “untuk apa”. Mengapa anda belajar? Untuk mengenal diri—walaupun sebuah proses yang panjang—maka dengan belajar mampu membawa seseorang kepada sebuah pemahaman bahwa kehidupan ini selalu diawali dengan belajar. Misalnya saja, anak yang baru lahir belajar berjalan, belajar makan, belajar berbicara dan sebagainya.
Dapat dipahami bahwa, belajar pada esensinya adalah untuk membentuk pola pikir yang mampu menghantarkan seseorang kepada sebuah pemahaman terkait dengan apa yang menjadi orientasinya dalam menjalani kehidupan di di dunia—terlepas dari apa pun yang mendorong dan memotivasinya. Proses belajar yang dilakoni setiap manusia itu tergantung dari sudut pandang yang digunakan sehingga bermuara pada suatu konsep tentang apa yang dia pikirkan dan lambat laun menjadi perbuatan yang bersifat praktis.
Sebagaimana yang penulis telah jelaskan pada pembahsan terdahulu bagaimana ilmu pengetahuan itu dipahami dan dikonsepsikan oleh sebagian orang—yang secara tidak langsung telah merekonstruksi sebuah pemahaman baru—walaupun pada dasarnya hal itu merupakan seseuatu yang sudah lazim dilakukan dan diketahui, tetapi pada ranah teoritisnya sangat jarang dibahas. Ilmu pengetahuan dalam hal ini merupakan sesuatu jembatan yang mampu menghantarkan seseorang kepada sebuah pemahaman yang utuh tidak berupa serpihan-serpihan yang hanya dijadikan sebagai tonggak untuk kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya temporer.
Kebutuhan-kebutuhan baik yang bersifat temporer maupun permanen dalam pandangan penulis merupakan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam proses belajar. Proses belajar diwujudkan dalam setiap interaksi yang terjadi di tengah-tengah individu. Belajar menjadi penting karena merupakan salah satu langkah kongkrit individu untuk mengenal dirinya—yang dalam hal ini penulis mengasumsikan tujuan belajar pada tahap awal ini dimaksudkan untuk individu mencapai tujuan awal dari interaksinya, seperti misalnya mampu berbicara walaupun dengan terbata-bata.
Proses interaksi ini berjalan di awal pertumbuhan dan perkembangannya. Bisa dipahami, interaksi individu sebagai proses belajarnya dimulai sejak individu berada di dalam rahim ibunya. Setiap tindakan, ucapan, dan interaksi-interaksi yang dilakukan oleh orang tua (baca: ibu) akan berdampak pada individu setelah dilahirkan. Proses belajar pada masa kehamilan yang dilakakukan oleh anak walaupun secara kasat mata, akan mempengaruhinya dalam memahami setiap gelaja yang terjadi ketika anak sedah mengenal dunia yang sesungguhnya.
Tidak heran, banyak anak yang sudah mendapatkan pengajaran—ketika anak masih dalam kandungan dan diberiakan stimulus-stimulus yang merangsang kecerdasannya cenderung menjadi anak yang genius. Misalnya, anak yang masih dini mampu menghafal al-Qur’an, bermain alat musik dengan sangat apik dan sebagainya. Ini merupakan contoh-contoh yang—memang banyak menjadi idaman setiap orang tua dewasa ini.
Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, apakah bekal-bekal kecerdasan itu memang sudah di bawa anak sejak masa kandungan (kecerdasan bawaan)  ataukah memang anak harus belajar terlebih dahulu? Pertanyaan ini memang tidak mudah untuk di jawab secara abal-abal, tetapi perlu perenungan yang mendalam. Jika memang anak sejak masih kandungan sudah memiliki atau membawa kecerdasan-kecerdasan tertentu, maka secara tidak langsung anak sudah pintar walapun tanpa proses belajar.