Mengalah bukan berarti kalah,
beginilah etika berpacaran yang sekarang lagi ngetren. Laiknya kata para
pujangga, “biarkanlah daku terus mengalah asalkan pujaan hatiku bisa tertawa riang”.
Konon, begitu dramatis para penggaula memaknai arti sebuah hubungan. Kadang menangis,
sedih dan tertawa, padahal hati sejatinya sedih. Pacaran alias menjalin hubungan adalah hal
yang memang wajar untuk dilakoni, karena kita memang orang yang butuh orang
lain untuk berbagi, teman bermain, teman curhat dan lain sebagainya.
Berani pacaran berarti siap untuk
sakit sakit hati, perasaan menjadi tak biasa, mengingat masa-masa indah menjadi
hiasan pikiran yang menyenangkan. Tapi terkadang jika perasaan mulai enek karena sakit hati, denger nama
pasangan saja sudah mulai marah, sebel dan tidak ada suasana yang menyenangkan.
Resek bagi dengan perasaan sendiri
menuntun seseorang pada perasaannya sendiri. Menangis tersedu-sedu karena sakit
hati, alih-alih pingin “makan hati” sang kekasih bila disakiti.
Fenomena cinta menjadi hal yang
terus-menerus hangat untuk menjadi sarapan pagi di negeri ini. Dari anak SMP
yang baru memilki perasaan atas lawan jenisnya sampai kepada kakek-kakek yang
sendirian, yaa karena ditinggal sang istri (guyonan saja). Alhasil fenomena
cinta menjadi asupan bagi para dewasa akhir-akhir ini. Semuanya serba cinta,
dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang dipikirkan hanyalah perasaan asmara. Seperti
dalam lau dangdut “mau makan teringat padamu, mau minum teringat padamu kekasih”.
Yah, beginilah fenomena alam cinta kawula muda saat ini, belenggu cinta memang
sungguh tidak mengasyikkan, tapi jika dinikmati sungguh sangat indah jika
mengerti tentang hakikat sebuah cinta. Setuju atau tidak setujunya seseorang
tentang cinta yang sejati, tergantung dari sudut mana memandangnya.
Mari sejenak mencermati antara cinta
yang sejati dan cinta “jadi-jadian”. Cinta sejati umumnya tidak pernah menuunggu
jawaban cintanya, ia laksana air yang terus-menerus mengalir diperrmurkaan
hati. Jika disakiti, ia tersenyum. Semua ditanggapinya dengan senang. Kenapa bisa
demikian? Karena pada dasarnya, jika kita mencintai seseorang sejatinya kita
mencintai diri kita sendiri. Kenapa harus repot-repot menyiapkan amunisi
kemarahan untuk membalas sakit hati demii terlaksananya planning pembalasan
dendam anda.
Jika kita membalas sakit hati kepada
oorang yang kita cintai maka sesungguhnya kita sedang menyakiti diri kita
sendiri. Tidak percaya, mari renungkan sejenak. Cinta sejatinya adalah anugrah
Tuhan yang maha Pengasiih, bukan ppemberian orang lain, apalagi pacar. Jika tuhan
tidak menganuggrahkan cinta kepada manusia, apakah bisa manusia itu mencintai
orang lain, jawabannya adalah tidak sama sekali. dari tuhanlah cinta itu datang
dan kemabali. Jika mencintai seseorang dengan tulus dan ikhlas maka yakinlah
tuhan akan memabalas cinta kita dengan lebih ikhlas lagi. So, kenapa juga kita
menangis karena disakiti, dimarahin sang pacar. Tidak ada yang bersifat final
dalam pacaran. “mendapatkan cinta itu mudah, tetapi yang sulit adalah bagaicara
kita untuk mempertahankan cinta, itu adalah hal yang paling sulit”.
Bersambung……!
No comments:
Post a Comment