Monday, January 6, 2014

Cinta sejati atau cinta jadi-jadian




Mengalah bukan berarti kalah, beginilah etika berpacaran yang sekarang lagi ngetren. Laiknya kata para pujangga, “biarkanlah daku terus mengalah asalkan pujaan hatiku bisa tertawa riang”. Konon, begitu dramatis para penggaula memaknai arti sebuah hubungan. Kadang menangis, sedih dan tertawa, padahal hati sejatinya sedih.  Pacaran alias menjalin hubungan adalah hal yang memang wajar untuk dilakoni, karena kita memang orang yang butuh orang lain untuk berbagi, teman bermain, teman curhat dan lain sebagainya.
Berani pacaran berarti siap untuk sakit sakit hati, perasaan menjadi tak biasa, mengingat masa-masa indah menjadi hiasan pikiran yang menyenangkan. Tapi terkadang jika perasaan mulai enek karena sakit hati, denger nama pasangan saja sudah mulai marah, sebel dan tidak ada suasana yang menyenangkan. Resek bagi dengan perasaan sendiri menuntun seseorang pada perasaannya sendiri. Menangis tersedu-sedu karena sakit hati, alih-alih pingin “makan hati” sang kekasih bila disakiti.
Fenomena cinta menjadi hal yang terus-menerus hangat untuk menjadi sarapan pagi di negeri ini. Dari anak SMP yang baru memilki perasaan atas lawan jenisnya sampai kepada kakek-kakek yang sendirian, yaa karena ditinggal sang istri (guyonan saja). Alhasil fenomena cinta menjadi asupan bagi para dewasa akhir-akhir ini. Semuanya serba cinta, dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang dipikirkan hanyalah perasaan asmara. Seperti dalam lau dangdut “mau makan teringat padamu, mau minum teringat padamu kekasih”. Yah, beginilah fenomena alam cinta kawula muda saat ini, belenggu cinta memang sungguh tidak mengasyikkan, tapi jika dinikmati sungguh sangat indah jika mengerti tentang hakikat sebuah cinta. Setuju atau tidak setujunya seseorang tentang cinta yang sejati, tergantung dari sudut mana memandangnya.
Mari sejenak mencermati antara cinta yang sejati dan cinta “jadi-jadian”. Cinta sejati umumnya tidak pernah menuunggu jawaban cintanya, ia laksana air yang terus-menerus mengalir diperrmurkaan hati. Jika disakiti, ia tersenyum. Semua ditanggapinya dengan senang. Kenapa bisa demikian? Karena pada dasarnya, jika kita mencintai seseorang sejatinya kita mencintai diri kita sendiri. Kenapa harus repot-repot menyiapkan amunisi kemarahan untuk membalas sakit hati demii terlaksananya planning pembalasan dendam anda.
Jika kita membalas sakit hati kepada oorang yang kita cintai maka sesungguhnya kita sedang menyakiti diri kita sendiri. Tidak percaya, mari renungkan sejenak. Cinta sejatinya adalah anugrah Tuhan yang maha Pengasiih, bukan ppemberian orang lain, apalagi pacar. Jika tuhan tidak menganuggrahkan cinta kepada manusia, apakah bisa manusia itu mencintai orang lain, jawabannya adalah tidak sama sekali. dari tuhanlah cinta itu datang dan kemabali. Jika mencintai seseorang dengan tulus dan ikhlas maka yakinlah tuhan akan memabalas cinta kita dengan lebih ikhlas lagi. So, kenapa juga kita menangis karena disakiti, dimarahin sang pacar. Tidak ada yang bersifat final dalam pacaran. “mendapatkan cinta itu mudah, tetapi yang sulit adalah bagaicara kita untuk mempertahankan cinta, itu adalah hal yang paling sulit”.
Bersambung……!

No comments: