Monday, June 15, 2020

Ilusi Logika b.2

"para penggiat nalar" memahami bahwa segala sesuatu yang ter-abstraksi dalam memori, lazimnya identik dengan apa yang kongkrit. Dengan seketika mengatakan bahwa hal itu adalah 'benar', karena dalam mengkongkritkan segala sesuatu didasarkan pada pengolahan memori yang sebelumnya mereka ketahui. Ketika si "A" mengatakan bahwa itu adalah 'Pohon', iya secara kasat mata dan akal pikiran itu adalah 'Pohon'. Biasanya kerangka berpikir logis seperti ini sering kali stagnan Karena menjustifikasi bahwa itu adalah final. Tetapi pertanyaan yang muncul kemudian adalah " bagaimana jika pohon itu mati, hancur, lebur dan musnah sehingga tidak menyisakan sedikit pun pengenalan terhadap logika bahwa itu adalah 'pohon'. Karena bagian dari sisa 'pohon' tidak bisa dikatakan sebagai suatu keutuhan dari 'pohon'. Pertanyaan selanjutnya adalah "kenapa dikatakan itu adalah pohon?". Apakah karena dia berbuah, berbunga, berdahan, tinggi atau ciri spesifik lainnya? Atau mungkin dengan pertanyaan yang lebih ontologis lagi, "kenapa pohon itu bisa hidup laiknya segala sesuatu yang ada di makrokosmos ini?...... BERSAMBUNG

Sunday, June 14, 2020

Ilusi Logika

"menyadari diri lelah bukan berarti harus pasrah dan menyerah". Titik jenuh kadang kala sering datang menghampiri alih-alih 'menghantui' beberapa atau bahkan semua orang. Bukan hanya pikiran, perasaan tetapi juga  raga yang perlu diistirahatkan. Beberapa orang mengklaim hingga mengkultuskan semua yang dirasakannya sebagai suatu "kutukan" dari Tuhan, karena merasa bahwa itu tidaklah adil baginya. Mental seperti ini akan membawa perubahan yang sangat signifikan jika terus berlanjut pada arus pikiran konstan tanpa ada perubahan kongkrit yang kita lakukan. Setiap permasalahan akan menjadi beban "abadi" hingga menjalar ke setiap sisi kehidupan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kehidupan ini, hanya saja, sering kali kita memahaminya berbeda dari apa yang digariskan-Nya. Ketika logika mulai "meracik menu-menu" baru untuk bergelut dengan berbagai persoalan hidup, terkadang akan kandas tanpa ada kemajuan jika tidak dibekali dengan keyakinan. Logika jika dihadapkan dengan persoalan maka pertanyaan yang muncul adalah "apakah saya bisa" atau "apakah saya mampu" seakan-akan logika dengan "bala tentaranya" memilki kemampuan untuk itu. Sebenarnya semua aksesoris manusia hanya sesuatu yang disematkan oleh Tuhan  sebagai sarana bukan tujuan untuk melampui ke-Esa-an Tuhan. Oleh karena itu, konsep ikhtiar yang selalu "didengungkan" oleh para abdi Tuhan merupakan salah satu jalan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang kita alami, karena pada dasarnya, ikhtiar merupakan salah satu jalan untuk mengaktualisasikan titah Tuhan dalam ketentuan-ketentuannya. Letak permasalahan yang pertama adalah 'apakah kita akan pasrah dengan ketentuan-Nya setelah takzim dalam ikhtiar kita' atau 'apakah kita akan berontak dan anarkis dengan logika kita dalam menerjemahkan ketentuan tuhan', semua itu tergantung dari sisi keyakinan masing-masing orang,,,. BERSAMBUNG...!!!!

Memori primordial (Teosofi cinta)

Kala itu aku tak mengerti tentang apa pun
Perlahan tapi pasti, semesta pun datang menghampiri
Awal kesucianku terjamah oleh waktu
Tak sedikit pun aku berkata atau bersua
Hanya tatapan kosong, ingin tahu
Langit pun mulai mendung bersyair lirih penuh syahdu
Menangis mendengar titah sang Cinta
Lelapku datang bercengkrama
Memaksa gelora jiwa bercumbu
Diam ku dalam pertapaan suci
Laiknya asketis rindu akan kehidupan
Hari pun berganti dalam permainan waktu
Memaksa diri beranjak dari pangasingan rindu
Ooh cinta, celoteh ringkih daku ingin bersua
Tak ada secarik kata yang terucap
Hanya sederet makna yang tersirat
Ooh cinta, rengkuh jiwaku ingin bersama
Membangun altar, ber-semedi keabadian
Sirna, semuanya pun sirna
Menyatu dan melebur dalam waktu bersamaan
Kebingunganku menjalar dalam perjalanan senja
Mendapati diri pupus dari alam primordial

Cinta dalam cinta (Teosofi cinta)

Aku nafikan semua makna yang hadir
Aku bungkam gejolak jiwa yang meronta
Aku singkirkan setiap makna yang tersirat
Entah kenapa semua itu terjadi
Aku tak tahu
Ketika hati bermadah indah di atas hamparan sejadah lusuh
Aku ragu mengakui itu
Sang raga giat berbakti tanpa lelah
Melakukan gerakan-gerakan sakral dalam wujud rasa
Tapi bukan visi tentang cinta
Luapan tangis dalam melodi doa sang jiwa
Hanya rasa penat meng-gagahi raga
Jangan kau hijab rasa itu wahai Tuan
Menunggu setia di pintu kehinaan
Jangan racuni daku dengan doa-doa sumbang
Rilih, Isak tangis sang kelana
Cahaya datang elok menawan
Kau bungkam dengan kedok kepatuhan
Aku malu
Aku malu wahai Tuan
Izinkan sekali lagi
Izinkan sekali lagi aku datang kepadanya
Membawa mahkota jingga dari pusaka jiwa
Aku tidak butuh itu!
Hardik hati menggemparkan semesta
Kini kau pergi untuk sementara
Mencari serpihan-serpihan cinta yang dulu kau damba
Jangan pernah kembali untuk sementara
Hingga kau melebur dalam doa suci sang cinta


Teosofi cinta

Cinta dimaknai dengan berbagai macam cara, diwujudkan dengan berbagai macam bentuk sehingga keaslian dari cinta itu hilang dari bentuk aslinya. Kaum faqih dengan kefaqihannya memahami cinta dengan ketaatan penuh pasrah kepada Tuhan dalam ibadah zahirnya. Kaum filosof memahami cinta dengan kedalaman akal logikanya. Adapun para sufi memahami cinta dengan hakikat cinta itu sendiri. Dalam perspektif yang sangat berbeda, kaum asketis memahami cinta dengan pengosongan diri dari kenikmatan-kenikmatan ragawi, sehingga luapan cinta terus merasuk di dalam hati sanubari mereka. Cinta sebagai "mahluk astral" diciptakan Tuhan untuk "bukan selain Dia". Sehingga cinta ketika dipahami dari sudut pandang manapun jika terlepas dari esensi awal penciptaan tidak akan mampu dipahami secara sempurna.  Secara Zahir ketika kita disakiti, maka secara hukum kausalitas kita wajib membalasnya. Karena hal itu merupakan sebab awal sehingga memunculkan akibat. Sudut pandang ini membawa suatu implikasi yang mengharuskan kita untuk memilih dan memilah mana yang baik dan tidak untuk kita, seakan meniadakan kehendak Tuhan dalam setiap perwujudan cinta yang kita lakukan dan alami.  BERSAMBUNG.....

Penyesalan Diri

Dengan yakin Dia menyatakan cinta
Laiknya penyair sumbang dalam ratapan matanya
Keluh kesah merajut asa
Menepiskan gelora jiwa mengutuk raga
Hari-hari tak terhingga banyaknya
Melangkah lesu di hamparan kenistaan
Dia bak pengemis gila di pusara pengasingan
Melangkah jauh demi ke-diri-an jiwa
Aku bosan!
Teriak sepi dalam balutan hati merintih
Pusaka abadi dalam bingkai zikir
Keruh hati terus menjalar bak sang fakir
Menawan hati dalam jeruji jiwa
Entah kapan logika datang mengadu akal untuk berpikir
Meronta histeris dalam tangis duka semesta
Hingga terpapar mati dalam imajinasi diri
Kaukah orang yang mencari
Kaukah orang yang berduka
Rintih hati menanti jawaban tak pasti
Sederet kata untuk kau yang nista