Tuesday, January 7, 2014

Teguran Sang Tuhan



Waktu itu, kita tidak pernah tau. Sebisa mungkin melarikan diri dari jerat yang mematikan diri, tapi tiada daya dan upaya, langkahku terhenti di ujung penantian para peri kayangan. Semua asaku menjadi jemu melulu, tatapan kosong tiada bermakna, risih terkikis di perantara malam yang hening. Gelisahku terhenyak sepi kala jemari bermain-main dengan hawa malam.
Sungguh malang sang malam, menemaniku yang sedih ditelan sepi. Kegundahan melambai-lambai kala rerumputan tertawa terkikik-kikik. Please,! Aku memohon sendu ketika Dia datang di pelataran malam yang hening. Ku mulai lantunkan kalimat-kalimat sakralku. Menggema di malam yan kosong, tiada sesiapa pun yang hidup. Dunia seakan mati di telan kegelapan. Logikaku buntu, mati dan mampu mendeskripsikan apa yang  sedang aku lihat.
Kesepian dibelantara malam itu, memabawa raga mati, hingga jiwa ini melayang jauh ntah kemana. Sosok itu, kian nyata tapi mata kasar ini tak mampu lagi menatapnya lebih dalam. Sadarku, Dia menghilang di bawa bayangan malam. Aku makin terhenyak dalam lamunanku. Begitu misterius bagiku yang tak memilki hati nurani.
Siapa sesungguhnya sosok itu, pertanyaan-pertanyaan yang kian mengusik di pikiranku. Menyelusup sepi diantara buain mimpi dan hayalan hinaku, aku ikut larut lagi. TUHAN…….! Teriaku menangis.

No comments: