Waktu itu,
kita tidak pernah tau. Sebisa mungkin melarikan diri dari jerat yang mematikan
diri, tapi tiada daya dan upaya, langkahku terhenti di ujung penantian para
peri kayangan. Semua asaku menjadi jemu melulu, tatapan kosong tiada bermakna,
risih terkikis di perantara malam yang hening. Gelisahku terhenyak sepi kala
jemari bermain-main dengan hawa malam.
Sungguh malang
sang malam, menemaniku yang sedih ditelan sepi. Kegundahan melambai-lambai kala
rerumputan tertawa terkikik-kikik. Please,! Aku memohon sendu ketika Dia datang
di pelataran malam yang hening. Ku mulai lantunkan kalimat-kalimat sakralku. Menggema
di malam yan kosong, tiada sesiapa pun yang hidup. Dunia seakan mati di telan
kegelapan. Logikaku buntu, mati dan mampu mendeskripsikan apa yang sedang aku lihat.
Kesepian dibelantara
malam itu, memabawa raga mati, hingga jiwa ini melayang jauh ntah kemana. Sosok
itu, kian nyata tapi mata kasar ini tak mampu lagi menatapnya lebih dalam. Sadarku,
Dia menghilang di bawa bayangan malam. Aku makin terhenyak dalam lamunanku. Begitu
misterius bagiku yang tak memilki hati nurani.
Siapa sesungguhnya
sosok itu, pertanyaan-pertanyaan yang kian mengusik di pikiranku. Menyelusup sepi
diantara buain mimpi dan hayalan hinaku, aku ikut larut lagi. TUHAN…….! Teriaku
menangis.
No comments:
Post a Comment