Jalan
ini semakin lusuh untuk dilalui
Hanya
bermodalkan mimpi-mimpi buram
Ku
tapaki lautan yang amat luas
Tapi,
perahuku retak tergenang air yang tak kenal kasihan
Duh..
Aduh..!!
Sungguh
malang nasib daku
Isak
tangis dibelantara malam yang kelam
Tersudut
suara rintihan yang bertalu merdu
Alam
seakan tak kenal siapa pun, itu
Jauh
di sana, gemerincing tawa bertalu-talu
Iringin
tabuh gendang yang melamunkan
Sosok
peri bernyanyi syahdu dipinggir danau keabadian
Mengisyaratkan
akan kebahagian
Wajah
lusuh yang di kenal begitu hina
Langkah
lunglai dalam mimpi yang mati
Demi
diri yang singgah dipraduan khayalan
Itulah
derita kaum yang nestapa
Untukku,
untukmu yan berkelana
No comments:
Post a Comment