Cita-cita luhur selalu menjadi dambaan setiap insan
Bertenger di tengah derunya hutan rimba kebimbangan
Tak pelak lagi noda menjadi sutra
Membungkus raga-hinaku yang terkutuk
Konon, tuhan datang dengan gagah menawan
Sesekali datang dengan wajah indah rupawan
Seongkok hati menggelamkan nada sumbang yang memburu sukma
Menjadi manis tutur kata sang pangeran hati
Kiasan mimpi mejadi nyata-menyala-nyala
Meredupkan sinar sang surya dengan cahaya pelita
Kakiku terseret jauh di pusara penantian
Merebak sukma, menjalani kehidupan atas kehendak diri
Sombong, penuh kedengkian
Larut pilu, sendu yang meraja-bertahta di singgasana kalbu
Adakah awan menjadi hitam
Adakah rasa berubah menjadi dusta
Tuhan mengutuk sukma, tergopoh-gopoh dalam tatapannya
Sesekali datanglah mengetuk pintuku
Daku rindu pelukan malam ini, lirihku
Malaikat serentak datang di jamuanku
Menyantap hidangan bak faqir kelaparan
Menjadi surya di tengah-tengah pesta
Tertunduk, tersipu malu di depan sang Agung
Kian jauh berlari, sesampainya di pelabuhan
Menahkodai perahu layar menuju keabadian
Keabadian petunjuk tuhanku
Yaa tuhaku..!!
No comments:
Post a Comment