BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pembaharuan dalam dunia pendidikan memang tidak pernah lekang oleh
waktu, selalu saja ada isu-isu hangat yang “nikmat” untuk “disantap”, sehingga
selalu menjadi hidangan bagi para akademisi dan para praktisi pendidikan khususnya.
Pendidikan sejatinya memilki banyak komponen yang saling kait-mengkait antara
satu komponen dengan komponen lainnya. Komponen pendidikan diantaranya:
kurikulum (materi), guru/ pendidik, peserta didik, metode dan sarana (peratan
termasuk media) dan sebagainya.
Kurikulum sebagai acuan dasar dalam melakukan kegiatan proses
belajar mengajar diterjemahkan dan diinternalisasikan oleh guru kepada peserta
didik dengan menggunakan metode dan segala yang menunjang kegiatannya di dalam kelas. Statemen ini,
jelas terlihat dalam proses pengajaran danpendidikan yag dilakukan di
lembaga-lembaga pendidikan yang masih mengedepankan pada penguasaan materi semata,
hal demikian cendrung menggunakan kurikulum subject matter (terpusat
pada materi), daya dan kreasi peserta didik menjadi “mati kutu”.
Paradikma yang digunakan dalam melihat peserta didik seperti kertas
kosong atau seperti wadah yang siap untuk dipenuhi dengan segala keinginnan
dari “sang penceramah zaman” (baca: guru/pendidik). Sehingga pada tataran
selanjutnya peserta didik bagaikan “kerbau” yang diikat hidungnya. Apa pun yang
ingin di poles oleh guru kepada peserta didik tergantung dari pendidik sendiri.
Implikasinya, model pembelajarannya cenderung terjadi komunikasi satu arah
(guru-peserta didik), suasana kelas pasif dan kebutuhan-kebituhan peserta didik
terabaikan.
Bertolak dari problem-problem di atas, dapat dipaami bahwa,
kurikulum memilki peran yang sangat signifikan dalam mendesain dan model
pembelajaran yang akan dilakoni oleh pendidik. Banyak terobosan-terobosan baru
yang “mengangkangi” sistem pendidikan pada zaman sekarang ini, khsususnya dalam
bidang kurikulum, tetapi toh masih saja seperti paradigma lama. Pendekatan
individualis, yang konon katanya sangat cocok dengan perkembangan zaman, tetapi
selalu saja bermuara pada pembelajaran yang diskriminatif (klasik).
Wacana di atas semakin menggelitik untuk ditermahkan, sehingga pada
makalah ini kami akan memaparkan secara lebih detail terkait tentang
pendekatan-pendekatan kurikulum, yaitu: pendekatan subjek akademis, pendekatan
humanistis, pendekatan teknologi dan pendekatan rekonstruksi sosial. Diantara
pendekatan-pendekatan ini, pendekatan mana sesungguhnya yang menjadi barometer dalam melaksanakan
proses belajar mngajar di dalam kelas.? Apakah hanya salah satu pendekatan saja
ataukah multi pendekatan.?
Pertanyaan-pertanyaan di atas begitu merangsang kami (pemakalah)
untuk mencoba megurai benang kusut yang selalu di elu-elukan oleh para pakar
dan praktisi pendidikan. Sehingga konsep tentang pendekatan-pendekatan dalam
kurikulum bisa dipahami dan selanjutnya bisa diaplikasikan dalam ranah
praktisnya.
B.
Rumusan
Masalah
Apa
saja pendekatan-pendekatan yang digunakan oleh para pakar pendidikan dalam
mengembangkan kurikulum.?
C.
Tujuan
Untuk mengtahui
dan menambah wawasan tentang pendekatan-pendekatan yang digunaka oleh para
pakar pendidikan dalam mengembangkan kurikulum
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Macam-Macam
Pendekatan Dalam Pengembangan Kurikulum
1.
Pendekatan Rekonsrtuksi Sosial
Jika dilihat dari
konteks pemaknaan tentang kuriklum itu sendiri maka, kurikulum rekonstruksi
sosial meposisikan diri dalam pemaknaan kurikulum dalam artian luas. Karena
peserta didik tidak hanya berkutat di dalam kelas menikmati hidangan (materi
yang disampaikan oleh guru). Tetapi lebih kepada pemaknaan diri, menepatkan
diri ditengah-tengah masyarakat umum, sehinga pada tataran selanjutnya peserta
didik lebih memahami posisinya di tengah masyarakat dan lebih peka terhadap
kondisi sosial masyakat pada umumnya. Mengutip pendapatnya Nana Syaodih
Sukmadinata, kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problem
yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran
pendidikan interaksional.[1]
Titik pusat dari
kurikulum ini adalah ingin mengentaskan permasalahan permasalah yang muncul di
tengah tengah mayarakat. Karena pendidikan bertujuan untuk saling tolong
menolong antar sesama, jadi ada interaksi sosial yang ingin dimunculkan dalam
kurikulum ini. Peserta didik diayomi, didik, diajar dan ditumbuhkembangkan
(pisik dan spikisnya) untuk kebaikan dirinya tetapi untuk orang lain. Sehingga
pihak sekolah menawarkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran para siswa,
sekolah merekonstruksi tatanan yang ada dilingkungan sekolah agar tercipta
suasana seperti layaknya kehidupan bermasyarakat. Kepala sekolah, guru, stap
dan pegawai, siswa dan seluruh personil sekolah melakukan segala kegiatan atas
dasar kebersamaan (kehidupan sosial). Sehingga sekolah dijadikan sebagai laboratorium dalam menunjang
perkembangan peserta didik, baik di lihat dari sisi kepekaannya terhadap sesama
teman, guru, pegawai dan sebagainya.
Lebih lanjut Nana
menuturkan bahwa, menurut mereka (pandangan rekonstruksi sosial) pendidikan
bukan upaya sendiri, meainkan kegiatan bersama, interaksi dan kerja sama. Kerja
sama atau interaksi bukan saja terjadi antara siswa dengan guru, tetapi juga
antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang orang di lingkungannya, dan
dengan sumber belajar lainnya. Melalui interaksi dan kerja sama ini siswa
berusaha memecahkan problema problema yang dihadapinya dalam masyrakat menuju
pembentukan masyarakat yang lebih baik.[2]
Pendekatan rekonstruksi
sisoal digunakan pada tahun 1920-an. Pendekatan ini digunakan karena para
praktisi khususnya para ahli yang bergelut dalam bidang pendidikan melihat
bahwa adanya kesenjangan di dalam kurikulum yang diterapkan di lembaga
pendidikan yaitu kurikulum yang diterapkan seakan jauh dari konteks kehidupan
bermasyarakat, dan gagasan ini pertama kali di pelopori oleh Harold Rug.
Kemudian pada tahun 1950-an paham ini dikembangkan lagi oleh Theodore Brameld,
yang berpendapat bahwa dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat
harus turut serta dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat. Untuk
melaksanakan hal itu, sekolah memilki posisi yang cukup penting. Sekolah bukan
saja membantu individu memperkembangkan kemampuan sosialnya, tetapi juga dapat
memabantu bagaimana berpartisipasi sebaik baiknya dalam kegiatan sosialnya.[3]
Sedangkan menurut Muhaimin,
pendekatan rekonstruksi sosial dalam menyusun kurikulum atau
program pendidikan keahlian bertolak dari problem yang dihadapi dalam
masyarakat, untuk selanjutnya dengan memerankan ilmu ilmu dan teknologi, serta
bekerja secara kooperatif dan kolabortif, akan dicarikan upaya pemecahannya
menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.[4]
Bertolak dari pendapat
di atas, maka pendekatan ini mengarahkan para peserta didik menjdi bagian yang
tidak teepisahkan dari masyakat, khususnya problem yang dihadapi pada zaman
yang makin maju sekarang ini. Setelah para peserta didik memahami keinginan,
kemauan, kebutuhan dan segala macam bentuk permasalahan untuk yang dihadapi
msyarakat itu di olah menjadi bahan ajar dan di pelajari dan dipahami sedalam
munkin sehingga menemukan solusi dari permasalahn tersebut.
Lebih lanjut Muhaimin
mensinyalir bahwa, tugas pendidikan terutama membantu agar peserta didik
menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertangug jawab terhadap perkembangan
masyarakatnya. Isi pendidikan atas problem problem aktual yang dihadapi dalam
kehidupan nyata di masyarakat. ... karena itu, dalam menyusun kurikulum atau
program pendidikan PAI bertolak dari problem yang dihadapi dalam masyarakat
sebagai isi PAI, sedangkan proses atau pengalaman belajar pserta didik adalah
dengan cara memerankan ilmu-ilmu dan teknologi, serta bekerja secara kooperatif
dan kolaboratif, berupaya mencari pemecahannya terhadap problem tersebut menuju
pembentukan masyarakat yang lebih baik.[5]
Ada beberapa hal yang
harus dilakukan oleh para perancang kurikulum jika mnggunakan pedekatan
rekonstruksi sosial yaitu:
1.
Tahap
analisis
a. GPAI dan peserta didik
mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan (need assessment), yang ada di masyarkat
b. Analisis job (job analysys), peserta didik dan GPAI menjadi obyek dari program
pembelajaran PAI
c. Menentukan peserta
didik atau siapa yang menjdi subyek dan apa sasaran program.
2.
Tahap
desain
a.
Merumuskan
tujuan dan target pembelajaran PAI
b.
Merancang
program pembelajaran PAI (tema pokok, pendekatan dan metode, media dan sumber
belajar, serta evaluasinya)
c.
Menetapkan
waktu dan tempat pelaksanaannya
d.
Mengembangkan
dalam proposal atau TOR (term of reference) yang menjelaskan
tetang problem-problem masyarakat.
3.
Tahap
implemantasi
Yakni
plaksanaan program atau implementasi terhadap apa yang tertuang dalam TOR.
4.
Tahap
evaluasi dan umpan balik
Yakni
evluasi pelaksanaan programnya sehingga diemukan titik titik kelebihan dan
kelemahannya, dan melalui evaluasi tersebut akan diperoleh umpan balik untuk selanjutnya serevisi progrmya untuk
perbaikan pelaksanaan program pembelajaranPAI berwawasan rekonstruksi sosial di
masa yang aka datang.[6]
2.
Pendekatan Teknologi
Perkembangan IPTEK pada
abad 21 sekarang ini, berimplikasi pada proses dan pola pengembangan kurikulum
dan program pembelajaran yang didesain oleh para praktisi pendidikan. Memang
pada awal perkembangan teknologi sederhana para guru khususnya menerapkan dan
mengunakan teknologi sederhana seperti menggunakan kapur dan papan tulis yang
pada dasarnya masih bersifat sangat sederhana. Dan sekarang dunia teknologi
sangat berkembang pesat seperti audio dan video cassette,
OHP, flm slide, komputer dan lainnya.
Menurut Muhaimin,
pendekatan teknologis dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan bertolak
dari analisis kompetensi yang dibtutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas
tertentu. Materi yang diajarkan , kriteria evaluasi sukses, dan strategi
belajarnya ditetapkan sesuai dengan analisis tugas tersebut. Kurikulum berbasis
kompetensi yang saat ini sedang digalakkan di sekolah madrasah termasuk dalam
katagori pendekatan teknologis.[7]
Pandangan di atas
sejalan dengan paham esensialisme-perenialisme yang lebih mengedepakan aspek subjec
matter dalam proses pembelajaran, yaitu lebih mengedepakan kemampuan siswa
dalam menguasai kompetensi kompetensi yang sudah tertuang dalam kurikulum. Ada
beberapa ciri khusus dari kurikulum teknologis yaitu:
a.
Tujuan.
Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk
perilaku. Tujuan tujuan yang bersifat umum dirincikan lagi menjadi
tujuan-tujuan yang bersifat khusus yang di sebut objektif atau tujuan
instruksional.
b.
Metode.
Metode merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang sebagai proses mereaksi
terhadap peragsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi respons yang diharapkan maka respons tersebut
diperkuat.
c.
Organisasi
bahan ajar. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak di ambil dari disiplin imu,
tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan sesuatu
kompetensi. Bahan bahan ajar yang bersifat umum dirincikan menjadi
bagian-bagian yang kecil, sehingga mempermudah dalam mengorganisirnya.
d.
Evaluasi.
Kegiatan evaluasi dilakukan setiap saat, pada akhir mata pelajaran, suatu unit
atau semester. Evaluasi berfungsi untuk mengukur kemampuan peserta didik dan
mendapatkan umpa balik.[8]
Adapun kekurangan dari
model pendekatan teknologis ketika kurikulum diterapkan dalam proses
pembelaran, ditegaskan oleh Rahman yaitu : ia terbatas pada hal-hal yang bisa
dirancang sebelumnya, baik yang menyagkut proses pembelajaran maupun produknya.
Karena adanya keterbatasan tersebut maka dalam
pembelajran pendidikan agama Islam tidak selamanya dapat menggunakan
pendekatan teknologis.[9]
Contoh penggunaan pendekatan teknologis dalam proses pembelajaran dengan mata
pelajaran shalat dan praktiknya yaitu :[10]
|
HAKIKAT MATERI
|
RAGAM AKTIVITAS
|
|
|
PENYAJIAN INFORMASI
|
AKTIVITAS
|
|
|
Informatif (data, fakta
|
Naratif (mnceritakan suatu kejadian
cerita, deskriptip
|
Diskusi kelompk, tanya jawab (in text
question, baca tabel, diagram, peta, gambar dll
|
|
Konseptual (teori, dalil, prinsip dll
|
Deduktif atau induktif
|
Diskusi kelompok, contoh contoh
tertulis, contoh gmbar, cntoh video, simulasi
|
|
Prosedural
|
Deskriptif, eksplanatori
|
Latihan, peragaan, contoh video,
simulasi prakik
|
|
Keterampilan
|
Deskriptif, eksplanatori (modeling
|
peragaan, contoh video, simulasi
prakik
|
|
Nilai sikap
|
Deskriptif, argumentatif
|
peragaan, contoh video, simulasi
prakik
|
Dari contoh tetang
masalah prktik sholat tersebut di atas, agaknya hakikat materinya lebih banyak
bersifat prosedural dan keterampilan, sehingga penyajian informasinya bersifat
deskriptif, ekplantori dan modelling. Sedangkan aktivitas belajar peserta didik
dapat dilakukan dengan cara latihan, peragaan, menunjukkan contoh contoh
praktik sholat melalui video, atau melalui simulasi dan praktik.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan
Kurikulum Teori Dan Praktik
(Bandung: PT Remaja Rosdakrya, 2006)
Muhaimin, Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,
Madrasah,
Dan Perguruan Tingi, (Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 211)
[1] Nana Syaodih
Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori
Dan Praktik (Bandung: PT Remaja
Rosdakrya, 2006), hlm: 91.
[2] Ibid., hlm: 91.
[3] Ibid., hlm: 92
[4] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama
Islam Di Sekolah, Madrasah, Dan Perguruan Tingi, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 211), hlm:173.
[5] Ibid., hlm: 173 174
[6]
Ibid., hlm: 175 178
[7]
Ibid., hlm: 16 164
[8]
Nana Syaodah Sukmadnata, Pengembangan
Kurikulum Teori Dan Praktik, hlm: 98.
[9]
Rahman, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama
Islam Di Sekolah, Madrasah, Dan Perguruan Tingi,hlm: 164.
[10]
Ibid., hlm: 172.
No comments:
Post a Comment