Monday, October 27, 2014

pendekatan-pendekatan dalam pengembangan kurikulum



BAB I
 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembaharuan dalam dunia pendidikan memang tidak pernah lekang oleh waktu, selalu saja ada isu-isu hangat yang “nikmat” untuk “disantap”, sehingga selalu menjadi hidangan bagi para akademisi dan para praktisi pendidikan khususnya. Pendidikan sejatinya memilki banyak komponen yang saling kait-mengkait antara satu komponen dengan komponen lainnya. Komponen pendidikan diantaranya: kurikulum (materi), guru/ pendidik, peserta didik, metode dan sarana (peratan termasuk media) dan sebagainya.
Kurikulum sebagai acuan dasar dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar diterjemahkan dan diinternalisasikan oleh guru kepada peserta didik dengan menggunakan metode dan segala yang menunjang  kegiatannya di dalam kelas. Statemen ini, jelas terlihat dalam proses pengajaran danpendidikan yag dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan yang masih mengedepankan pada penguasaan materi semata, hal demikian cendrung menggunakan kurikulum subject matter (terpusat pada materi), daya dan kreasi peserta didik menjadi “mati kutu”.
Paradikma yang digunakan dalam melihat peserta didik seperti kertas kosong atau seperti wadah yang siap untuk dipenuhi dengan segala keinginnan dari “sang penceramah zaman” (baca: guru/pendidik). Sehingga pada tataran selanjutnya peserta didik bagaikan “kerbau” yang diikat hidungnya. Apa pun yang ingin di poles oleh guru kepada peserta didik tergantung dari pendidik sendiri. Implikasinya, model pembelajarannya cenderung terjadi komunikasi satu arah (guru-peserta didik), suasana kelas pasif dan kebutuhan-kebituhan peserta didik terabaikan.
Bertolak dari problem-problem di atas, dapat dipaami bahwa, kurikulum memilki peran yang sangat signifikan dalam mendesain dan model pembelajaran yang akan dilakoni oleh pendidik. Banyak terobosan-terobosan baru yang “mengangkangi” sistem pendidikan pada zaman sekarang ini, khsususnya dalam bidang kurikulum, tetapi toh masih saja seperti paradigma lama. Pendekatan individualis, yang konon katanya sangat cocok dengan perkembangan zaman, tetapi selalu saja bermuara pada pembelajaran yang diskriminatif (klasik).
Wacana di atas semakin menggelitik untuk ditermahkan, sehingga pada makalah ini kami akan memaparkan secara lebih detail terkait tentang pendekatan-pendekatan kurikulum, yaitu: pendekatan subjek akademis, pendekatan humanistis, pendekatan teknologi dan pendekatan rekonstruksi sosial. Diantara pendekatan-pendekatan ini, pendekatan mana sesungguhnya  yang menjadi barometer dalam melaksanakan proses belajar mngajar di dalam kelas.? Apakah hanya salah satu pendekatan saja ataukah multi pendekatan.?
Pertanyaan-pertanyaan di atas begitu merangsang kami (pemakalah) untuk mencoba megurai benang kusut yang selalu di elu-elukan oleh para pakar dan praktisi pendidikan. Sehingga konsep tentang pendekatan-pendekatan dalam kurikulum bisa dipahami dan selanjutnya bisa diaplikasikan dalam ranah praktisnya.
B.     Rumusan Masalah
Apa saja pendekatan-pendekatan yang digunakan oleh para pakar pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.?
C.     Tujuan
Untuk mengtahui dan menambah wawasan tentang pendekatan-pendekatan yang digunaka oleh para pakar pendidikan dalam mengembangkan kurikulum


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Macam-Macam Pendekatan Dalam Pengembangan Kurikulum
1.      Pendekatan Rekonsrtuksi Sosial
Jika dilihat dari konteks pemaknaan tentang kuriklum itu sendiri maka, kurikulum rekonstruksi sosial meposisikan diri dalam pemaknaan kurikulum dalam artian luas. Karena peserta didik tidak hanya berkutat di dalam kelas menikmati hidangan (materi yang disampaikan oleh guru). Tetapi lebih kepada pemaknaan diri, menepatkan diri ditengah-tengah masyarakat umum, sehinga pada tataran selanjutnya peserta didik lebih memahami posisinya di tengah masyarakat dan lebih peka terhadap kondisi sosial masyakat pada umumnya. Mengutip pendapatnya Nana Syaodih Sukmadinata, kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema-problem yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional.[1]
Titik pusat dari kurikulum ini adalah ingin mengentaskan permasalahan permasalah yang muncul di tengah tengah mayarakat. Karena pendidikan bertujuan untuk saling tolong menolong antar sesama, jadi ada interaksi sosial yang ingin dimunculkan dalam kurikulum ini. Peserta didik diayomi, didik, diajar dan ditumbuhkembangkan (pisik dan spikisnya) untuk kebaikan dirinya tetapi untuk orang lain. Sehingga pihak sekolah menawarkan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran para siswa, sekolah merekonstruksi tatanan yang ada dilingkungan sekolah agar tercipta suasana seperti layaknya kehidupan bermasyarakat. Kepala sekolah, guru, stap dan pegawai, siswa dan seluruh personil sekolah melakukan segala kegiatan atas dasar kebersamaan (kehidupan sosial). Sehingga sekolah dijadikan  sebagai laboratorium dalam menunjang perkembangan peserta didik, baik di lihat dari sisi kepekaannya terhadap sesama teman, guru, pegawai dan sebagainya.
Lebih lanjut Nana menuturkan bahwa, menurut mereka (pandangan rekonstruksi sosial) pendidikan bukan upaya sendiri, meainkan kegiatan bersama, interaksi dan kerja sama. Kerja sama atau interaksi bukan saja terjadi antara siswa dengan guru, tetapi juga antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar lainnya. Melalui interaksi dan kerja sama ini siswa berusaha memecahkan problema problema yang dihadapinya dalam masyrakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.[2]
Pendekatan rekonstruksi sisoal digunakan pada tahun 1920-an. Pendekatan ini digunakan karena para praktisi khususnya para ahli yang bergelut dalam bidang pendidikan melihat bahwa adanya kesenjangan di dalam kurikulum yang diterapkan di lembaga pendidikan yaitu kurikulum yang diterapkan seakan jauh dari konteks kehidupan bermasyarakat, dan gagasan ini pertama kali di pelopori oleh Harold Rug. Kemudian pada tahun 1950-an paham ini dikembangkan lagi oleh Theodore Brameld, yang berpendapat bahwa dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat harus turut serta dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat. Untuk melaksanakan hal itu, sekolah memilki posisi yang cukup penting. Sekolah bukan saja membantu individu memperkembangkan kemampuan sosialnya, tetapi juga dapat memabantu bagaimana berpartisipasi sebaik baiknya dalam kegiatan sosialnya.[3]
Sedangkan menurut Muhaimin, pendekatan rekonstruksi sosial dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan keahlian bertolak dari problem yang dihadapi dalam masyarakat, untuk selanjutnya dengan memerankan ilmu ilmu dan teknologi, serta bekerja secara kooperatif dan kolabortif, akan dicarikan upaya pemecahannya menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.[4]
Bertolak dari pendapat di atas, maka pendekatan ini mengarahkan para peserta didik menjdi bagian yang tidak teepisahkan dari masyakat, khususnya problem yang dihadapi pada zaman yang makin maju sekarang ini. Setelah para peserta didik memahami keinginan, kemauan, kebutuhan dan segala macam bentuk permasalahan untuk yang dihadapi msyarakat itu di olah menjadi bahan ajar dan di pelajari dan dipahami sedalam munkin sehingga menemukan solusi dari permasalahn tersebut.
Lebih lanjut Muhaimin mensinyalir bahwa, tugas pendidikan terutama membantu agar peserta didik menjadi cakap dan selanjutnya mampu ikut bertangug jawab terhadap perkembangan masyarakatnya. Isi pendidikan atas problem problem aktual yang dihadapi dalam kehidupan nyata di masyarakat. ... karena itu, dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan PAI bertolak dari problem yang dihadapi dalam masyarakat sebagai isi PAI, sedangkan proses atau pengalaman belajar pserta didik adalah dengan cara memerankan ilmu-ilmu dan teknologi, serta bekerja secara kooperatif dan kolaboratif, berupaya mencari pemecahannya terhadap problem tersebut menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.[5]
Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh para perancang kurikulum jika mnggunakan pedekatan rekonstruksi sosial yaitu:
1.    Tahap analisis
a.  GPAI dan peserta didik mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan (need assessment), yang ada di masyarkat
b. Analisis job (job analysys), peserta didik dan GPAI menjadi obyek dari program pembelajaran PAI
c.  Menentukan peserta didik atau siapa yang menjdi subyek dan apa sasaran program.
2.    Tahap desain
a.       Merumuskan tujuan dan target pembelajaran PAI
b.      Merancang program pembelajaran PAI (tema pokok, pendekatan dan metode, media dan sumber belajar, serta evaluasinya)
c.       Menetapkan waktu dan tempat pelaksanaannya
d.      Mengembangkan dalam proposal  atau TOR (term of reference) yang menjelaskan tetang problem-problem masyarakat.
3.    Tahap implemantasi
Yakni plaksanaan program atau implementasi terhadap apa yang tertuang dalam TOR.
4.    Tahap evaluasi dan umpan balik
Yakni evluasi pelaksanaan programnya sehingga diemukan titik titik kelebihan dan kelemahannya, dan melalui evaluasi tersebut akan diperoleh umpan balik  untuk selanjutnya serevisi progrmya untuk perbaikan pelaksanaan program pembelajaranPAI berwawasan rekonstruksi sosial di masa yang aka datang.[6]

2.      Pendekatan Teknologi
Perkembangan IPTEK pada abad 21 sekarang ini, berimplikasi pada proses dan pola pengembangan kurikulum dan program pembelajaran yang didesain oleh para praktisi pendidikan. Memang pada awal perkembangan teknologi sederhana para guru khususnya menerapkan dan mengunakan teknologi sederhana seperti menggunakan kapur dan papan tulis yang pada dasarnya masih bersifat sangat sederhana. Dan sekarang dunia teknologi sangat berkembang pesat seperti audio dan video cassette, OHP, flm slide, komputer dan lainnya.
Menurut Muhaimin, pendekatan teknologis dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan bertolak dari analisis kompetensi yang dibtutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu. Materi yang diajarkan , kriteria evaluasi sukses, dan strategi belajarnya ditetapkan sesuai dengan analisis tugas tersebut. Kurikulum berbasis kompetensi yang saat ini sedang digalakkan di sekolah madrasah termasuk dalam katagori pendekatan teknologis.[7]
Pandangan di atas sejalan dengan paham esensialisme-perenialisme yang lebih mengedepakan aspek subjec matter dalam proses pembelajaran, yaitu lebih mengedepakan kemampuan siswa dalam menguasai kompetensi kompetensi yang sudah tertuang dalam kurikulum. Ada beberapa ciri khusus dari kurikulum teknologis yaitu:
a.       Tujuan. Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku. Tujuan tujuan yang bersifat umum dirincikan lagi menjadi tujuan-tujuan yang bersifat khusus yang di sebut objektif atau tujuan instruksional.
b.      Metode. Metode merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang sebagai proses mereaksi terhadap peragsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi respons  yang diharapkan maka respons tersebut diperkuat.
c.       Organisasi bahan ajar. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak di ambil dari disiplin imu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan sesuatu kompetensi. Bahan bahan ajar yang bersifat umum dirincikan menjadi bagian-bagian yang kecil, sehingga mempermudah dalam mengorganisirnya.
d.      Evaluasi. Kegiatan evaluasi dilakukan setiap saat, pada akhir mata pelajaran, suatu unit atau semester. Evaluasi berfungsi untuk mengukur kemampuan peserta didik dan mendapatkan umpa balik.[8]
Adapun kekurangan dari model pendekatan teknologis ketika kurikulum diterapkan dalam proses pembelaran, ditegaskan oleh Rahman yaitu : ia terbatas pada hal-hal yang bisa dirancang sebelumnya, baik yang menyagkut proses pembelajaran maupun produknya. Karena adanya keterbatasan tersebut maka dalam  pembelajran pendidikan agama Islam tidak selamanya dapat menggunakan pendekatan teknologis.[9] Contoh penggunaan pendekatan teknologis dalam proses pembelajaran dengan mata pelajaran shalat dan praktiknya yaitu :[10]

HAKIKAT MATERI
RAGAM AKTIVITAS
PENYAJIAN INFORMASI
AKTIVITAS
Informatif (data, fakta
Naratif (mnceritakan suatu kejadian cerita, deskriptip
Diskusi kelompk, tanya jawab (in text question, baca tabel, diagram, peta, gambar dll
Konseptual (teori, dalil, prinsip dll
Deduktif atau induktif
Diskusi kelompok, contoh contoh tertulis, contoh gmbar, cntoh video, simulasi
Prosedural
Deskriptif, eksplanatori
Latihan, peragaan, contoh video, simulasi prakik
Keterampilan
Deskriptif, eksplanatori (modeling
peragaan, contoh video, simulasi prakik
Nilai sikap
Deskriptif, argumentatif
peragaan, contoh video, simulasi prakik



Dari contoh tetang masalah prktik sholat tersebut di atas, agaknya hakikat materinya lebih banyak bersifat prosedural dan keterampilan, sehingga penyajian informasinya bersifat deskriptif, ekplantori dan modelling. Sedangkan aktivitas belajar peserta didik dapat dilakukan dengan cara latihan, peragaan, menunjukkan contoh contoh praktik sholat melalui video, atau melalui simulasi dan praktik.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran


DAFTAR PUSTAKA
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik
(Bandung: PT Remaja Rosdakrya, 2006)

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,
Madrasah, Dan Perguruan Tingi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 211)



[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik  (Bandung: PT Remaja Rosdakrya, 2006), hlm: 91.
[2] Ibid., hlm: 91.
[3] Ibid., hlm: 92
[4] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, Madrasah, Dan Perguruan Tingi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 211), hlm:173.
[5] Ibid., hlm: 173 174
[6] Ibid., hlm: 175 178
[7] Ibid., hlm: 16 164
[8] Nana Syaodah Sukmadnata, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik, hlm: 98.
[9] Rahman, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, Madrasah, Dan Perguruan Tingi,hlm: 164.
[10] Ibid., hlm: 172.

No comments: