Peluhmu, asa dan harapanmu,
datangilah daku
Daku mengunggu.!
Semakin engkau berpeluh
Semakin engkau mencucurkan
keringatmu
Daku makin malu.!
Tetesan-tetesan peluh dan keringatmu
bak hujan yang membasahi tubuhku
Daku berkelana tanpa ada alasan
untukmu
Berlari ke sana kemari mencari makna
Makna hidup ku kejar tanpa memaknai
peluh dan keringatmu dahulu
Semua pun berlarian
mengengelilingiku
Berlari bersama makna yang belum
juga tersirat
Sedang engkau hanya duduk memangku
harapan di pundakku
Seakan daku tak bisa memaknai bahasa
hatimu
Sungguh bodohkah daku, kini.?
Pesona diri semakin jauh, bukan
seperti dulu lagi
Jauh dari makna, jauh dari hakikat
itu
Cermin diri, tak bisa bercermin lagi
karena kesombongan jiwa yang selalu fana akan makna hidup
Hakikatku, tergantung dari engkau
sebagai junjunganku
Tatapan matamu kembali menyoroti
kelakuan kasarku
Tapi engkau sedikitpun tidak
mengeluh, tidak pasrah terhadap kehendak
Tuhan, lirihku dalam tatapn hinaku
yang semakin naif.
Beri daku jalan untuk ku, untuk
mereka dan dia
Dia yang berjuang melawan hati
kecilnya
Jangan tatap daku lagi wahai pelita
jiwa
Daku belum bisa membangunkan istana
mewah para raja
Junjung tangan engkau wahai pejuang
masa depan
Entah kemana lagi daku menuju
Ingin ku membangun rumah di dalam
pusara impian
Tapi, mereka terus saja memberiku secercah
kehidupan
Kebimbangan itu mulai menjelma lagi
Lirih semakin tabu, semakin
kehilangan makna hidup
Siapa sesungguhnya bayanganku ini
Ini bukan daku
Bukan diriku
Tuhan.... teriakku
Tuhan..... amarahku
Daku belum kenal diriku
Daku belum tahu hakikatku
Tapi, semakin ingin ku kenal hakikat
hidupku
Mereka datang bak faqir miskin yang
merayu
Aku bingung, bimbang dan terus hati
merajut kebimbangan
Kini daku pasrah, pasrah pada
kehendak tuhan
Memohon, bunga mawarku tetap bersemi
di dalam hati mereka dan dia yang selalu menahan amarah
Sekilas hidup, menjadi manis,
menjadi nista karena hakikatku belum sampai kepada hakikat
No comments:
Post a Comment