Tuesday, October 28, 2014

hakikatku belum sampai hakikat

Peluhmu, asa dan harapanmu, datangilah daku
Daku mengunggu.!
Semakin engkau berpeluh
Semakin engkau mencucurkan keringatmu
Daku makin malu.!
Tetesan-tetesan peluh dan keringatmu bak hujan yang membasahi tubuhku
Daku berkelana tanpa ada alasan untukmu
Berlari ke sana kemari mencari makna
Makna hidup ku kejar tanpa memaknai peluh dan keringatmu dahulu
Semua pun berlarian mengengelilingiku
Berlari bersama makna yang belum juga tersirat
Sedang engkau hanya duduk memangku harapan di pundakku
Seakan daku tak bisa memaknai bahasa hatimu
Sungguh bodohkah daku, kini.?
Pesona diri semakin jauh, bukan seperti dulu lagi
Jauh dari makna, jauh dari hakikat itu
Cermin diri, tak bisa bercermin lagi karena kesombongan jiwa yang selalu fana akan makna hidup
Hakikatku, tergantung dari engkau sebagai junjunganku
Tatapan matamu kembali menyoroti kelakuan kasarku

Tapi engkau sedikitpun tidak mengeluh, tidak pasrah terhadap kehendak
Tuhan, lirihku dalam tatapn hinaku yang semakin naif.
Beri daku jalan untuk ku, untuk mereka dan dia
Dia yang berjuang melawan hati kecilnya
Jangan tatap daku lagi wahai pelita jiwa
Daku belum bisa membangunkan istana mewah para raja
Junjung tangan engkau wahai pejuang masa depan
Entah kemana lagi daku menuju
Ingin ku membangun rumah di dalam pusara impian
Tapi, mereka terus saja memberiku secercah kehidupan
Kebimbangan itu mulai menjelma lagi
Lirih semakin tabu, semakin kehilangan makna hidup
Siapa sesungguhnya bayanganku ini
Ini bukan daku
Bukan diriku
Tuhan.... teriakku
Tuhan..... amarahku
Daku belum kenal diriku
Daku belum tahu hakikatku
Tapi, semakin ingin ku kenal hakikat hidupku
Mereka datang bak faqir miskin yang merayu
Aku bingung, bimbang dan terus hati merajut kebimbangan
Kini daku pasrah, pasrah pada kehendak tuhan
Memohon, bunga mawarku tetap bersemi di dalam hati mereka dan dia yang selalu menahan amarah
Sekilas hidup, menjadi manis, menjadi nista karena hakikatku belum sampai kepada hakikat


No comments: