Semua orang tahu, tidak ada kesempurnaan yang mutlak kita miliki. Atribut
diri hanya sekedar menjadi pelindung kita dalam melihat kehidupan. Toh apalagi
yang bisa kita banggakan menjadi seorang manusia, karena memang kita diciptakan
mukan untuk diri kita sendiri, tetapi kita diciptakan untuk orang lain. Ibadah seseorang
tidak bisa di ukur jika seseorang itu sholeh secara pribadi semata, tetapi
seorang bisa dikatakan sukses dalam ibadahnya jika bisa sholeh secara sosial.
Ukuran dan tipologi kesholehan pribadi seseorang, jika disandarkan
pada tipologi pertama (shaleh secara pribadi/ personal) maka tipologi pertama
ini tidak atau kurang bisa dikatakan sukses dalam ibadahnya. Kenapa demikian.? Karena
ibadahnya tidak bisa mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Ini jika kita
mendasarkan atau menggunakan kaca mata ilmu sosial. Manusia sebagai mahluk
sosial, tidak bisa terlepas dari orang di sekitarnya sehingga pada tataran
selanjutnya keshalehan secara pesonal ini tidak akan mampu menjawab kebutuhan
masyarakatnya.
Tipologi kedua yaitu orang shaleh secara sosial. Shaleh secara
sosial ini memilki implikasi yang sangat fundamental pada tataran praktis
kehidupan bermasyarakat. Misalnya, orang yang shaleh secara sosial jika
menemukan permasalahan di tengah-tengah masyarakat maka ia akan mengedepankan
kepentingan masyarakat dari pada kepentingan personal. Orang yang shaleh secara
sosial, jika harus memilih antara shalat sunnah dengan menolong tetangganya,
maka ia akan memilih menolong tetangga yang membutuhkan pertolongannya. Nah,
pertanyaannya adalah pernahkan kita melakukan hal seperti ini dalam kehidupan
kita sehari-hari...?????
No comments:
Post a Comment