Aku nafikan semua makna yang hadir
Aku bungkam gejolak jiwa yang meronta
Aku singkirkan setiap makna yang tersirat
Entah kenapa semua itu terjadi
Aku tak tahu
Ketika hati bermadah indah di atas hamparan sejadah lusuh
Aku ragu mengakui itu
Sang raga giat berbakti tanpa lelah
Melakukan gerakan-gerakan sakral dalam wujud rasa
Tapi bukan visi tentang cinta
Luapan tangis dalam melodi doa sang jiwa
Hanya rasa penat meng-gagahi raga
Jangan kau hijab rasa itu wahai Tuan
Menunggu setia di pintu kehinaan
Jangan racuni daku dengan doa-doa sumbang
Rilih, Isak tangis sang kelana
Cahaya datang elok menawan
Kau bungkam dengan kedok kepatuhan
Aku malu
Aku malu wahai Tuan
Izinkan sekali lagi
Izinkan sekali lagi aku datang kepadanya
Membawa mahkota jingga dari pusaka jiwa
Aku tidak butuh itu!
Hardik hati menggemparkan semesta
Kini kau pergi untuk sementara
Mencari serpihan-serpihan cinta yang dulu kau damba
Jangan pernah kembali untuk sementara
Hingga kau melebur dalam doa suci sang cinta
No comments:
Post a Comment