Sunday, June 14, 2020
Teosofi cinta
Cinta dimaknai dengan berbagai macam cara, diwujudkan dengan berbagai macam bentuk sehingga keaslian dari cinta itu hilang dari bentuk aslinya. Kaum faqih dengan kefaqihannya memahami cinta dengan ketaatan penuh pasrah kepada Tuhan dalam ibadah zahirnya. Kaum filosof memahami cinta dengan kedalaman akal logikanya. Adapun para sufi memahami cinta dengan hakikat cinta itu sendiri. Dalam perspektif yang sangat berbeda, kaum asketis memahami cinta dengan pengosongan diri dari kenikmatan-kenikmatan ragawi, sehingga luapan cinta terus merasuk di dalam hati sanubari mereka. Cinta sebagai "mahluk astral" diciptakan Tuhan untuk "bukan selain Dia". Sehingga cinta ketika dipahami dari sudut pandang manapun jika terlepas dari esensi awal penciptaan tidak akan mampu dipahami secara sempurna. Secara Zahir ketika kita disakiti, maka secara hukum kausalitas kita wajib membalasnya. Karena hal itu merupakan sebab awal sehingga memunculkan akibat. Sudut pandang ini membawa suatu implikasi yang mengharuskan kita untuk memilih dan memilah mana yang baik dan tidak untuk kita, seakan meniadakan kehendak Tuhan dalam setiap perwujudan cinta yang kita lakukan dan alami. BERSAMBUNG.....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment