SADARKAH KITA...?
Waktu memaksa kita untuk bertarung dengan alam,
Keadaan diri mejadi lupa akan semua yang akan di jalani. Semua ini kita jalani
dengan segala keraguan, begitulah alur kehidupan yang makin pekat karena
suasana hati yang makin suram. Jalani saja kehidupan ini dengan sesempurna
mungkin, jalan penuh terjal dan dangkal tetapi sosokmu kan menjadi misteri yang
tak kan pernah terpecahkan untuk selamanya.
Rencana tuhan selalu menjadi peran utama dalam
setiap gerak langkahmu, biarpun bumi berhenti berputar ragamu kan tetap abadi
tatkala ribut datang dengan angkuhnya, titah tuhan selalu menjadi hiasan kala
hati gundah gulana. Relakan saja semua itu, jangan ragu dengan setiap impian yang
bersarang di benakkmu. Kita jubahi diri dengan segala kesombongan tetapi itu
tidak akan membuat kita menjadi manusia sejati. Sesungguhnya kehidupan yang
sebenarnya adalah terletak pada apa yang telah tuhan anuggerahkan kepada kita.
Tetapi terkadang kita tidak sadar dengan apa yang telah kita perbuat. Misteri
hidup terus menghantui setiap tikungan alur yang kita lalui. Suasana hati kan
selalu dilema oleh kerinduan yang Maha Abadi, kita mencari dan terus mencari
hingga tempat abadi menjadi persinggahan terakhir bagi kita.
Jangan pernah tutupi dirimu, walau sepahit apa
pun yang akan datang di pangkuanmu. Terimalah setiap waktu yang menyertaimu.
Jangan pernah pergi, jangan pernah berpaling. Alam semesta ini diciptakan
dengan sesempurna mungkin tapi keangkuhan manusia menjadi pengahalang
pengabdian manusia kepada tuhan semesta alam. Rasa sayang dan cinta yang kita
bubuhi dalam setiap rasa, menjadi buruk di mata tuhan ketika rasa itu tidak sampai
kepada alam.
Aku semakin tak mengerti tentang semua ini,
begitulah pikiran yang hanya di hias oleh rasa yang berpangku pada raga, engkau
juga pasti merasa ketika semuanya telah sirna. Hanya kebencian yang tanpak
ketika logika tidak bisa membahasakan sebuah realita. Sungguh ironis kata hati,
selalu terbengkalai karena angan yang makin memuncak. Terurai indah dalam
butir-butir air mata penyesalan. Hingga lidah menjadi kelu di antara bait-bait
kata yang dilapaskan. Sorotan mata ini menjadi sangat nista, seakan tak sanggup
melihat apa yang telah kita perbuat. Ingin berlari dan terus berlari seakan
semuanya telah pergi, tetapi kita tidak bisa mengartikan semua itu. Kita selalu
berdalih “itu kan masa lalu”. Tetapi sudut hatimu yang suci selalu brontak tak
mengerti apa yang kau katakan dengan apa kau perbuat.
Tuhan seakan menjadi sengketa ketika
keinginanmu tak terwujud. Jangan paksakan ragamu yang hina itu, kita hanyalah
abdi di antara budak-budak tuhan. Jadilah sosok yang menawan dengan rupa yang
mempesona bagimu, bukan untuk orang lain. Jangan salahkan dirimu, tapi berkeluh
kesahlah dengan hatimu. Hidup memang indah, jika Kau mampu menghiasnya dengan
sesuatu yang indah. Hidup itu juga hina jika kau poles dengan kehinaan. Siapa
yang patut kita salahkan. Jawabannya hanya terletak pada diri kita sendiri.
Begitu mempesona hati bermain dengan
kehidupan, seakan kita tidak sadar bahwa sesungguhnya begitu banyak jalan bagi
tuhan untuk mendewasakan hamba-hambanya. Tetapi kita tidak sadar bahwa semua
itu diperuntukkan bagi manusia yang memilki hati nurani. Apa yang perlu
disesali, roda kehidupan selalu berputar, mengalir bagaikan mata air yang tak
pernah kering. Kehidupan ini memang penuh dengan warna-warni yang mampu membius
naluri. Tapi sadarkah kita akan makna di balik semua itu. Pasti kita akan
menjawab “tidak”. Kekosongan hati ini menjadi virus yang menyakitkan raga.
Pupus di antara gejolak jiwa yang merana. Menangisi raga yang rapuh seakan
kebahagian itu terletak pada raga yang didewakan. Kita salah menafsirkan kata
hati dalam mencari kebahagian, hingga sumpah serapah dan kebencian mewarnai
setiap desah nafas kita.
Bercerminlah pada air yang tenang dan jernih
maka kita akan menemukan sosok kita yang sesungguhnya. Bahasa hati selalu
menang ketika kita bersandar pada jiwa yang kuat. Tapi pernahkah kamu bertanya
“siapakah diriku ini”, kenapa aku ingin bahagia”. Bacalah hatimu bukan akalmu.
Temukanlah sosokmu pada dirimu sendiri bukan pada orang lain,. “Tiada
kesempurnaan apa pun yang dimilki manusia melainkan dia mampu menjadi
penyempurna bagi orang lain”.
Relakan waktu yang mengalir disisimu, biarkan
dia berhembus bagai angin yang membawa kedamaian. Kehidupan hanyalah bagian
dari sesuatu yang menakutkan bagi manusia yang tak mengerti arti sebuah
kehidupan. Jangan kau kejar dan jangan kau sesali jika kehidupan itu tidak
memihak dirimu, tetapi menangislah hingga langit menjadi runtuh ketika kau tak
mampu membahasan kata hatimu. Sosok yang kau puja hanyalah satu diantara sejuta
kekecewaan yang bersarang di hatimu. Kini bangunlah dan bingkai kembali
puing-puing hatimu yang runtuh karena tuhan akan datang untuk menyapa jiwa-jiwa
yang gersang. Sosokmu adalah bahtera yang selalu berlabuh dalam dimensi waktu
yang panjang. Takluklah pada kata hatimu, dan mulailah bercermin pada jiwa-jiwa
yang merana akan keabadian.
Don’t Forget your self...!!!!!
BY: MAMAT
No comments:
Post a Comment