Kenapa
kau menangis jika kau mampu tertawa
kenapa
kau bersedih jika kau mampu bahagia
kenapa harus lari seakan kau tak percaya akan
megahnya sang mentari
kenapa
kau ingin mati seakan kau tak percaya akan keagungan sang ilahi
ini memang jalanmu
jangan biarkan hatimu selalu berselimut
kesedihan
cobalah kau pandangi embun dipagi hari
penyejuk
sukma diantara butiran –butiran air matamu
menangis, sendu, pilu seakan begitu bermakna
bagimu
mungkin
kau tak tau senyummu tawa ringanmu,
adalah anugrah terindah dalam hidupmu
jangan kau menangis
meski hatimu terkikis bersama harapan –harapanmu
yang mulai pupus
cobalah kau kepakkan sayapmu
kelilingi
dunia dengan sepercik senyuman
semua
orang ingin tutur sapamu
jangan hanya terdiam membisu
kau
bukanlah batu karang yang kokoh
tapi kau hanya jiwa yang mudah rapuh, musnah
bagai debu –debu yang berterbangan tak tau arah
sampai
kapan kau menangis
waktu
yang kau sesali tak kau datang menyapanya lagi
sesalmu dalam perang batin melawan takdir
ilahi
hanya tawa palsu pembalut sedihmu
dalam
tirai sukmamu seakan kau tak kenal lelah
kau tangisi waktu yang memaksa dalam mengisi
peraduan hidupmu
kini cobalah kau hidup laksana merpati terbang
bebas diangkasa lepas
tak kenal sedih, tangis, dan derita
dimana tawamu yang dulu
dimana
senyummu yang dulu
bagai bunga mawar wajahmu berseri
tidakkah kau ingat semua itu ,,?
Tidakkah kau sadari itu,,?
Kini seakan ku tak mengenalmu
hanya rintihan hati dari sahabatmu.
BY: MAMAT
No comments:
Post a Comment