Friday, January 3, 2014

aktualisasi diri



Kehidupan hanyalah setapak jalan untuk dilalui. Jeda hidup harus ditapaki walau hanya torehan-torehan kecil dari segenggam asa yang memburu. Kian terasa dan bermakna jika semuanya dicerna secara jerrnih, tetesan keringat menjadi debu tatkala jemu dengan kejanggalan yang kita rasakan. Mungkin kita pernah bertenger ditangga tertinggi kehidupan. Bersuara merdu laksana putra mahkota, tampak jelas setiap karisma yang menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Tetapi itu bukan bersifat final bagi para gembala-gembala tuhan yang menadahkan tangnnya untuk sesuap nasi.
terkadang asumsi kita terhadap dunia membawa perubahan-perubahan yang paling mendasar, jika memang itu benar adanya, tidak salah jika mencoba untuk mendesain perrubahan-perubahan yang telah kita rencakan sebelumnya. Tetapi kebanyakan orang mencari makna yang paling krusial tapi belum sampai ke tahap yang paling dasar. Asumsi ini menjadikan kita sering luput akan makna perjuangan yang sesungguhnya.
Kebanyakan orang kini memandang, jika hidup ini dilalui tanpa materi maka kita tidak bisa berbuat banyak terutama dalam membiayai pendidikan dan biaya hidup lainnya. dimensi pendidikan hanyalah satu dari sekian banyak dimensi-dimensi yang meliputi kehidupan manusia. Adapun hal yang sangat mendasar dalam kehidupan adalah masalah itu sendiri, karena setiap harinya kita selalu bergelut dengan masalah-masalah yang tak kunjung habis, tapi memang itulah kehidupan yang sesungguhnya.
Kedewasaan seseorang dilihat dari bagaimana cara dia memandang kehidupan itu sendiri, dan setiap orang memilki perspektif yang berbeda-beda. Hal ini didasarkan oleh beragamnya sudut pandang dan asumsi setiap orang. Tak helak lagi para pengamen misalnya, bergelut dengan masa depan apa yang ingin dicapai dengan lingkungan yang mengitarinya. Pada intinya semua itu kembali pada diri kita masing-masing, sejauh mana kita memandang akan kehidupan ini. Dan tergantung sosok kita yang selalu ingin tau, ingin bisa dan terkadang pula kita lupa untuk mawasa diri terlebih dahulu..
Puncak dari sebuah karir walaupun itu sangat bergengsi belum tentu melampui batas kesanggupan kita yang kodratnya hanyalah sebagai manusia biasa, terkadang sedih, duka, tertawa dan atau pun menangis dengan tersedu-sedu. Implikasi dari ini semua akan bermuara pada kesempurnaan diri dan sanggup mengenal “keakuan” kita semata. So what do think,,?

No comments: