Kehidupan hanyalah setapak jalan untuk
dilalui. Jeda hidup harus ditapaki walau hanya torehan-torehan kecil dari
segenggam asa yang memburu. Kian terasa dan bermakna jika semuanya dicerna
secara jerrnih, tetesan keringat menjadi debu tatkala jemu dengan kejanggalan
yang kita rasakan. Mungkin kita pernah bertenger ditangga tertinggi kehidupan.
Bersuara merdu laksana putra mahkota, tampak jelas setiap karisma yang menjadi
tolok ukur kesuksesan seseorang. Tetapi itu bukan bersifat final bagi para
gembala-gembala tuhan yang menadahkan tangnnya untuk sesuap nasi.
terkadang asumsi kita terhadap dunia
membawa perubahan-perubahan yang paling mendasar, jika memang itu benar adanya,
tidak salah jika mencoba untuk mendesain perrubahan-perubahan yang telah kita rencakan
sebelumnya. Tetapi kebanyakan orang mencari makna yang paling krusial tapi belum
sampai ke tahap yang paling dasar. Asumsi ini menjadikan kita sering luput akan
makna perjuangan yang sesungguhnya.
Kebanyakan orang kini memandang, jika
hidup ini dilalui tanpa materi maka kita tidak bisa berbuat banyak terutama
dalam membiayai pendidikan dan biaya hidup lainnya. dimensi pendidikan hanyalah
satu dari sekian banyak dimensi-dimensi yang meliputi kehidupan manusia. Adapun
hal yang sangat mendasar dalam kehidupan adalah masalah itu sendiri, karena setiap
harinya kita selalu bergelut dengan masalah-masalah yang tak kunjung habis,
tapi memang itulah kehidupan yang sesungguhnya.
Kedewasaan seseorang dilihat dari
bagaimana cara dia memandang kehidupan itu sendiri, dan setiap orang memilki
perspektif yang berbeda-beda. Hal ini didasarkan oleh beragamnya sudut pandang
dan asumsi setiap orang. Tak helak lagi para pengamen misalnya, bergelut dengan
masa depan apa yang ingin dicapai dengan lingkungan yang mengitarinya. Pada intinya
semua itu kembali pada diri kita masing-masing, sejauh mana kita memandang akan
kehidupan ini. Dan tergantung sosok kita yang selalu ingin tau, ingin bisa dan
terkadang pula kita lupa untuk mawasa diri terlebih dahulu..
Puncak dari sebuah karir walaupun itu
sangat bergengsi belum tentu melampui batas kesanggupan kita yang kodratnya
hanyalah sebagai manusia biasa, terkadang sedih, duka, tertawa dan atau pun
menangis dengan tersedu-sedu. Implikasi dari ini semua akan bermuara pada
kesempurnaan diri dan sanggup mengenal “keakuan” kita semata. So what do
think,,?
No comments:
Post a Comment