Saturday, January 4, 2014

Sekilas tentang Hidup



Knstruksi sosial, kini, belum mampu menjawab semua ambisi dari setiap elemen masyarakat yang umumnya merupakan “kaum papa” yang haus akan kesejahteraan. Kebahagiaan hanyalah ilusi bagi segelintir orang, khususnya mereka yang melihat kehidupan ini, amatlah hina. Begitulah realitas jika berbicara tentang kejujuran. Sungguh ironis memang, kesejahteraan dengan berbagai pernak-pernik kilauan materi, seakan selalu menajadi tolok ukur akan kesempurnaan hidup. Alih-alih memilki banyak jenis kekanyaan yang notabennya adalah materi. Memang untuk mencapai tangga tertinggi dari status sosial, seakan sudah lumrah dan menjadi identitas tersendiri bagi para “pencinta” dan “pemuja” dunia, untuk terus bisa exis sebagai orang yang “bermateri”. Begitulah ealitas memandang jika menggunakan kaca mata ekonomi.
Tetapi terkadang kita lupa, realitas yang bertenger dengan balutan “dunia materi” seakan menyilaukan, dan kita sering berasumsi bahwa tujuan akhir dari segala usaha setelah diarahkan ke sana. Kita belum sadar akan sebuah makna, hal ini memaksa kita untuk “menggauli” waktu yang terus terdiam di balik keluguannya.
Sisi hidup ini memang sangatlah rumit jika dilogikakan, begitu unik karena nalar hanya mampu menjamah sisi luarnya saja. Ionisnya, kini ukuran kesusksesan itu hanyalah terletak pada penumpukan materi semata, sedangkan hal yang paling vital yaitu knowledge tidak memilki tempat lagi di ranah kehidupan manusia yang serba materi sekarang ini. Ilmu pengetahuan atau pun akhlak menjadi suatu yang sangat tabu bagi kebanyakan orang pada zaman yang serba “memanjakan”, yang dahulunya menjadi kebanggaan dan basic bagi orang-orang yang masih memegang istilah “orang pinggiran” yang pada waktu dulu selalu menjadi produk masyarakat.
Pada zaman “manja-manjaan” saat ini memang tanpak sekilas kita telah terbabat habis oleh alur zaman yang makin “mengggila”, implikasi dari keadaan ini, kita terpaksa merubah kiblat kita kearah kemodernan yang makin menggilas setiap sisi kehidupan manusia, yang makin lugu untuk dijinakkan.
Asumsi  orang-orang yang selalu berkutat dengan “kemulian hidup” memandang bahwa akhlak adalah realitas terrtinggi dari setiap rutinitas yang diperankan oleh manusia dan merupakan modal awal untuk menjadi sosok yang sempurna. Tapi kini itu sudah menjadi tabu, karena tidak bisa dipungkiri lagi bahwa, masyarakat yang kini mendapat “gelar” sebagai masyarakat modern seakan dilema oleh kegemerlapan malam yang tabu.
Dengan demikian realitas diri yang “bodoh” ini hanya berimajinasi tetang materi dengan segala pernak-perniknya dan tak helak lagi pangkat dan jabatan, selalu menjadi destination bagi para pemburu kenikmatan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang mana pun kita melihat, maka kita akan berhenti pada satu titik yaitu siapa kita sebenarnya.?


No comments: