BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Filsafat ilmu merupakan pijakan dalam menelaah hakikat suatu ilmu
pengetahuan. Jika mengkaji suatu bidang keilmuan maka, filsafat ilmu menjadi
pisau analisisnya, karena filafat ilmu merupakan basic dari seluruh
bidang keilmuan yang sedang berkembang saat ini. Memahami suatu bidang keilmuan
tertentu jika tidak ditelaah dengan menggunakan filsafat ilmu sebagai tolok
ukurnya maka, pengkajian dan penelitian tentang ilmu yang tekuni akan terhenti
pada konteks pemahaman semata (dangkal) tidak sampai pemahaman yang sebenarnya
(hakikat) tentang disiplin ilmu tesebut.
Mengutip pendapatnya Muhammad Adib yang secara apik
memaparkan pengertian filsafat ilmu, yaitu: filsafat ilmu adalah segenap
pemikiran yang reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang
menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan
manusia.[1]
Mengkaji suatu bidang keilmuan sehingga sampai pada pemahaman tentang hakikat
suatu ilmu jika menggunakan filsafat ilmu maka, tidak terlepas dari landasan-landasan
dalam penelaahan ilmu itu tersendiri, yaitu: ontologi, episteologi dan
aksiologi. Landasan-landasan inilah yan akan menghantarkan pemahaman pada
pemahaman yang sebenarnya (hakikat) dari struktur dan segala yang berkaitan
dengan suatu bidang ilmu.
Dalam konteks filsafat ilmu akan menjawab berbagai pertanyaan
tentang hakikat ilmu pengetahuan seperti: apa yang dikaji dalam ilmu
(ontologi); bagaimana cara memperoleh ilmu (epistemologi); dan untuk apa ilmu
digunakan dalam kehidupan (aksiologi). Pertanyaan-pertanyaan inilah yang
menjadi dasar sekaligus rujukan bagi filsafat ilmu dalam mengkaji dan menelaah
hakikat dari ilmu.
Dan dalam makalah ini, kami (kelompok I) akan menoba memaparkan
dengan rinci apakah makna dan konsep dari ontologi, epistemologi dan aksiologi
dalam konteks filsafat ilmu ketika mengkaji suatu bidang ilmu.?
B.
Rumusan
masalah
1.
Apakah
makna dan konsep ontologi dalam konteks filsafat ilmu.?
2.
Apakah
makna dan konsep epistemologi dalam konteks filsafat ilmu.?
3.
Apakah
makna dan konsep aksiologi dalam konteks filsafat ilmu.?
C.
Tujuan
Untuk
mengetahui makna dan konsep ontologi dalam konteks filsafat ilmu
Untuk
mengetahui makna dan konsep epistemologi dalam konteks filsafat ilmu
Untuk mengetahui makna dan konsep
aksiologi dalam konteks filsafat ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Makna dan Konsep Ontologi
Secara etimologi “ontologi” berasal dari dua suku kata yaitu ontos
dan logos. Ontos berarti sesutu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi
ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang
ada.[2] Berangkat dari definisi ini maka pada
dasarnya ontologi merupakan cabang filsafat yang berbicara tentang hakikat
segala sesuatu yang dipersoalkan dalam filsafat terutama hakikat alam semesta
ini. Keingintahuan manusia tentang segala sesuatu yang ada di muka bumi,
mengantarkannya suatu pertanyaan yaitu, apakah hakikat alam semesta ini.?
Apakah alam semesta ini mutlak keberadaannya dan pertnyaan-pertanyaan lainnya.
Ontologi sebagai ilmu yang membahas tentang realitas (ada) mencoba
mengkaji hakikat alam semesta yang secara inderawi tampak nyata adanya, tetapi
yang jadi persolan mendasar dalam konteks ontologi bukan sesuatu yang tampak
nyata (yang terindra) tetapi hakikat dibalik yang terindra (metafisik). Asumsinya
adalah, kenapa kita harus mengakaji sesuatu dengan ilmu pengetahuan (ontologi)
tentang hakikat sesuatu, sedangkan jika menggunakan “kaca mata” inderawi tidak
ada persoalan karena cukup diketahui benda-benda itu lewat indra. Sehingga bila
dikaji secara radikal, maka sesungguhnya persolan-persoalan ontologi ini lebih kepada
persolan metafisika.
Aristoteles menyinggung masalah metafisika dalam karyanya tentang ‘filsafat
pertama’, yang berisi hal-hal yang bersifat gaib. Menurut Aristoteles,
ilmu metafisika termasuk cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat
segala sesuatu, sehingga ilmu metafisika menjadi inti fisafat.[3] Senada
dengan pendapat di atas, Noor Syam berpendapat bahwa, ontologi kadang-kadang
disamakan dengan metafisika. Metafisika ini disebut juga sebagai
prote-filosifia atau filsafat pertama. Sebelum manusia menyelidiki yang lain,
manusia berusaha mengerti hakikat sesuatu.[4]
Pendapat-pendapat para ahli di atas merujuk pada pemaknaan atau
menyamakan ontologi dengan metafisk, karena pada dasarnya, yang ingin di cari
dari segala realitas yang ada adalah hakikatnya bukan pada bentuk materinya.
Sehingga pemahaman itu tidak terhenti di satu titik yaitu tentang realitas
semata tetapi dari itu. Dengan demikian corak dan karakteristik dari berpikir
filsafat yaitu radikal, universal dan sistematis bisa menjadi media untuk
mejadi pijakan ketika berbicara tentang ontologi ilmu pengetahuan jika
disamakan anatara ontologi dan metafisika.
Tetapi jika konsep ontologi ditilik dari ilmu pengetahuan secara
utuh, maka ontologi tidak bisa ditafsirkan lagi secara metafisik, tetapi lebih
kepada sifat asli dari ilmu itu sendiri yaitu bersifat empirik-obyektif.
Muhammad Adib dalam hal ini menjelaskan bahwa:
Ontologi,
secara sederhana dapat dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau
kenyataan kongkret secara kritis. Aspek ontologi dari ilmu pengetahuan tertentu
hendakny diuraikan antara lan secara: a) metodis; mengunajan cara ilmiah; b)
sistematis; saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu
keseluruhan; c) koheren; unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian
yangbertentangan; d) rasiona; harus berdasar pada kaidah berpikir yang benar
(logis); e)komprensif; melihat objek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang
melainkan secara multidimensional-atau secara keseluruhan (holistik); f)
radikal; diuraikan sampai akar persoalannya, atau esensinya; g)universal; muatan
kebenarannya sampai tingkat umum yan berlaku dimana saja.[5]
Lebih jauh lagi Muhammad Adib memaparkan secara lebih rinci lagi
terkait tentang karakteristik dari onologi ilmu pengetahuan yaitu:
Adapun
karakteristik (ontologi) ilmu pngetahuan anatara lain adalah: i) ilmu berasal
dari riset (penelitian); ii) tidak ada konsep wahyu; iii) adanya konsep
pengetahuan empiris; iv) pengetahuan rasional, bukan kyakinan; v) pengetahuan
obyektif; vi) pengetahuan sistematik; vii)pengetahuan metodologis; viii)
pengetahuan observatif (observable); ix) menghargai asas verifikasi
(pembuktian); x) menghargai asas eksplanatif (penjelasan); xi) menghargai asas
keterbukaan dan dapat di ulang kembali; xii) menghargai asas skeptikisme yang
radikal; xiii) melakukan pembuktian bentk kausalitas (causality); xiv) mengakui
pengetahuan dan konsep yan relatif (bukan absolut); xv) mengakui adaya
logika-logika ilmiah; xvi) memilki berbagai hipotesis dan teori-teori ilmiah;
xvii) memilki konsep tentang hukum-hukum alam yang telah dibuktikan; xviii)
pengetahuan bersifat netral dan tidak memihak; xix) menghargai berbagai metode
eksperimen, dan xx) melakukan terapan ilmu menjadi teknologi.[6]
Dari rumusan dan karakteristik terkait dengan ontologi ilmu
pengetahuan, maka dapat dipastikan bahwa ontologi ilmu lebih mendasarkan
penyelidikannya pada data-data empiris-obyektif, yang secara difinif hanya
mengarahkan perhatiannya pada penyelidikan yang bersifat ilmiah. Tetapi jika
dilihat dari makna “mencari hakikat” sesuatu maka lebih kepada metafisik.
Karena pada tataran metafisik ini sesungguhnya wilayah yang mengkaji secara
lebih dalam tentang hakikat dari segala sesuatu yang bermuara pada filsafat itu
sendiri sebagi induk dari segala ilmu yaitu ingin mengetahui segala yang ada
dan yang mungkin ada.
2.
Makna dan Konsep Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata yunani, epiteme dan logos.
Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan logos
diartikan pikiran, kata atau teori. Epistemologi secara etimologi dapat
diartikan teori pengetahuan yang benar danlazimnya hanya di sebut teori
pengetahuan yang dalam bahasa inggrisnya menjadi theory of knowledge.[7]
Sedangkan menurut Conny semiawan dkk., menjelaskan bahwa: epitemologi adalah
cabang filsafat yang menjelaskan tentang masalah-masalah filosofis sekitar
teori pengetahuan. Epistemologi memfokuskan pada makna pengetahuan yang
dihubungkan dengan konsep, sumber dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan
dan sebagainya.[8]
Definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas mengindikasikan
bahwa, epistemologi seyogyanya membahas dan mengkaji ilmu pengetahuan secara
menyeluruh, baik dari sisi konsep, sumber, dan jenis pengetahuan yang
dihasilkan dari berbagai metode dan pendekatannya. Pada tataran epistemologi,
ilmu di kaji sedalam-dalamnya sehingga segala yang berkaitan degan ilmu
pengetahuan ditelaah, karena epitemologi pada hakikatnya adalah untuk menjawab
pertanyaan yang paling mendasar dari epistemologi ilmu pengetahuan yaitu,
bagaimana cara memperoleh pengetahuan yang baik? Untuk menjawab pertanyaan ini
maka, epistemologi harus mampu meng-cover segala sisi-sisi terdalam universal)
dari ilmu pengetahuan.
Epistemologi pada hakikatnya mengkaji tiga hal yaitu : 1) cara
(metode) memperoleh ilmu pengetahuan; 2) sumber ilmu pengetahuan; dan 3)
hakikat kebenaran ilmu pengetahuan. Adapun penjelasannya adalah sebagai
berikut.
1)
Cara
atau metode dalam memperoleh ilmu pengetahuan.
Mengutip
pendapatnya Muhammad Adib, memaparkan bahwa: Tata cara, teknik atau prosedur
mendapatkan ilmu dan keilmuan adalah dengan metode non-ilmiah, metode ilmiah
dan metode problem solving. Pengetahan yang diperoleh melalui pendekatan/
metode non-ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara penemuan secara
kebetulan; untung-untungan (trial and error); akal sehat (common sense);
prasangka; otoritas (kewibawaan); dan pengalaman biasa. Metode ilmiah adalah
cara memperoleh pengetahuan melalui penekatan deduktif dan induktif.[9]
2)
Sumber
ilmu pengetahuan
Menurut
Jujun. S, memaparkan bahwa, pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi
manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah
mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada
pengalaman. Kaum rasionalis megembankan paham apa yang kita kenal dengan
rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri pada pengalaman
mengembangkan paham yang disebut empirisme.[10]
Bersandar
pada pendapat di atas, maka diketahui bahwa sumber ilmu itu diperoleh melalui
indra dan akal. Karena, diantara sekian banyak sumber, ‘rasio’ dan ‘pengalaman
indrawi’ merupakan sumber utama sekaligus sebagai ukuran kebenaran dalam ilmu
pengetahuan. Sumber rasio lebih bersangkutan dengan objek-objek umum, abstrak
dan non-fisis, sedangkan sumber pengalaman lebih bersangkutan dengan
objek-objek yang khusus, kongkret dan fiisis. Kedua sumber itu di dalam
filsafat di kenal dengan ‘rasionalisme’ dan ‘empirisme’.
Otoritas
adalah kekuasaan sah yang dimiliki oleh sesorang dan diakui oleh kelompoknya. Intuisi
berperan sebagai sumber pengetahuan karena adanya kemampuan dalam diri manusia
yang dapat melahirkan pernyataan-pernyataan berupa pengetahuan. Wahyu
merupakan salah satu sumber pengetahuan karena berasal dari Tuhan Yang Maha
Esa. Keyakinan adalah kemampuan yang ada pada diri manusia yang
diperoleh melalui kepercayaan.[11]
3)
Hakikat
kebenaran ilmu pengetahuan
Adapun hakikat
kebenaran dari ilmu, masih bersifar relatif (nisbi) karena sumber kebenaran ini
berasal dari manusia (produk akal) sehingga kebenarannya tidak mutlak.
Keterbatasan akal manusia dalam menalar sesuatu tidak bisa menjamin suatu
kebenaran yang hakiki.[12]
Selain itu, sifat dasar dari ilmu pengetahuan yaitu empirik-obyektif sehingga
hakikat kebenarannya bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
3.
Makna dan Konsep Aksiologi
Iistilah aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani)
yang berarti nilai, dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi, aksiologi
adalah ‘teori tentang nilai’. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimilki
manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat
mengacu kepada permasalahan etika dan estetika.[13]
Aksiologi merupakan cabang dari filsafat yang menjawab pertanyaan
yag paling fundamental yaitu untuk apa ilmu pengetahuan itu.? Yaitu
masalah-masalah yag berkaitan dengan prilaku manusia, etika yang berbicara
tentang baik-buruk dan estetika berbicara tentang indah-jelek.
Permasalahan-permasalahan seperti ini yang coba dikaji oleh aksiologi sehingga
manusia bisa menentukan segala sikapnya baik secar etika dan estetika.
Adapun yang menjadi objek dari aksiologi yaitu memuat pemikiran tentang masalah
nilai-nilai termasuk nilai-nilai tingi dari tuhan. Misalnya, nilai moral, nilai
agama, nilai keindahan (estetika).[14]
Aksiologi meng-cover segala kegiatan manusia yang yang berorientasi pada akalak
(moral), apakah sesuai dengan lingkungan masyarakatnya, teman bermainnya, dan
teman bergaul.
Dalam versi yang berbeda, Muahammad Adib berpendapat bahwa:
landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebt dalam
rangka memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa yang dapat
disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu dalam meningkatkan kualitas
hidup manusia.[15]
Pendapat di atas melihat peran dan fungsi dari aksiologi bukan
semata-mata menjawab permaslahn-permasalahan etika dan estetika, tetapi lebih
melihat kepada kemanfaatan dari sebuah ilmu. Sehingga pemaknaan aksiologi
merangkul semua tatanan kehidupan manusia. Sehingga jika bersandar pada
pendapat yang kedua, maka implikasinya adalah, aksiologi dipandang sebagai alat
untuk menemukan hakikat dari ilmu dalam tataran praktisnya. Sedangkan pada
pendapat yang pertama lebih melihat aksiologi sebagai alat untuk menjawab
permaslahan yang berkisar pada persolan etika dan estetika semata.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ontologi merupakan
cabang filsafat ilmu yang mengkaji tentang hakikat dari segala sesuatu yang
ada. Secara definif ontologi mencoba mengkaji hakikat alam semesta yang tampak
(terindra), tetapi jika ontologi disamakan dengan metafisik maka dalam hal ini
yang ingin dikaji adalah hakikat di balik alam semesta (tidak terindra) itu
sendiri.
Epistemologi merupakan
cabang filsafat ilmu yang berbicara
tentang bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan yaitu: 1)cara (metode)
memperoleh ilmu pengetahuan; 2) sumber ilmu pengetahuan; dan 3) hakikat
kebenaran ilmu pengetahuan.
Aksiologi merupakan ilmu
yang menjawab pertanyaan yang paling fundamental yaitu untuk apa ilmu itu
digunakan.? Aksiologi berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah
ilmu sehingga pengkajiannya terfokus pada etika (baik-buruk) dan estetika
(indah-jelek).
DAFTAR PUSTAKA
Adian Husaini, et. al., Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam
(Jakarta: Gema
Insani, 2013)
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer,
(Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2009)
Muhammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi
Dan Logika
Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010)
Muhammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan Dan Dasar Filsafat
Kependidikan
Pancasila (Surabaya: Usaha Nasional, 1986)
Surajiyo, Filsafat Ilmu & Perkembangannya Di
Indonesia: Suatu Pengantar
(Jakarta: Bumi Aksara, 2010)
Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis,
Epitemologis,
Dan Aksiologis (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)
[1]Muhammad
Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi Dan Logika Ilmu
Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm: 57.
[2]
Ibid., hlm: 69.
[3] A.
Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epitemologis,
Dan Aksiologis (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm: 93.
[4]
Muhammad Noor Syam, Filsafat Kependidikan Dan Dasar Filsafat Kependidikan
Pancasila (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), hlm: 28.
[5]
Muhammad Adib, hlm: 72-73.
[6]
Ibid., hlm: 73-74.
[7]
Surajiyo, Filsafat Ilmu & Perkembangannya Di Indonesia: Suatu
Pengantar (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm: 24.
[8]
Sesanto, hlm: 102.
[9]
Muhammad Adib, hlm: 74-75.
[10]
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer,
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009), hal: 50.
[11]
Lihat Adian Husaini, et. al., Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam
(Jakarta: gema insani, 2013), hlm: 93-107.
[12] M.
Zainuddin, Catatan Perkuliahan: Filsafat Pendidikan Islam, 09
september 2014
[13]
Susanto, filsafat ilmu....., hlm: 116.
[14]
Ibid., hlm: 116.
[15]
Muhammad Adib, Filsafat ilmu......., hlm: 79.
No comments:
Post a Comment