Thursday, June 11, 2020
Keterbatasan akal b.2
Ironisnya, ke-aku-an akal tidak hanya berhenti pada tahapan itu, tetapi menyelinap lebih dalam sehingga berani mengkultuskan sebuah "klaim" akan kebenaran alih-alih dijadikan sebagai dasar "keyakinan". Jika dikaji secara lebih mendalam, memang ada beberapa wilayah yang memang akal tidak bisa masuk ke dalamnya, karena pada wilayah itu hanya diperuntukkan untuk hati manusia saja. Tetapi karena akal dengan "egonya" mencoba mengurai titah tuhan dengan 'pena logika' yang hanya berakhir dengan kebingungan. Kenapa? Mengingat bagaimana akal menolak perintah Tuhan pertama kali dia diciptakan, keenganannya untuk mengakui bahwa Tuhan adalah penciptanya, wajar saja jika akal sulit untuk mengurai indah 'sastra-sastra' tuhan dalam bingkai tajalli-Nya. Karena hal inilah maka Tuhan mendakwakan kepada akal untuk menyelami kembali bagaimana ia (baca: akal) di alam primordialnya dihujamkan oleh tuhan dilembah kenistaan dalam kurun waktu yang sangat lama. Tetapi, karena akal "degil" dengan perintah Tuhan maka dihujamkan lagi dalam kurun waktu yang sangat lama, dan terus berulang-ulang hingga akhirnya dia mengaku bahwa "Dia" adalah Tuhan ku, dalam sujud nista kebodohannya sendiri... BERSAMBUNG..!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment