BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Penjaminan mutu
atau kualitas barang (produk) dan jasa merupakan aspek yang selalu menjadi
tolok ukur dalam dunia industri khususnya—yang mana tingkat kesuksesan suatu
perusahaan bisa diukur dari produk-produk yang dihasilkannya (berkualitas).
Ukuran ini menjadi sangat penting dalam menjamin kepuasan pelanggan atau
konsumen untuk selalu konsisten dalam menggunakan produk atau jasa dari sebuah
perusahaan atau institusi.
Deming dalam
Nasution, menjelaskan bahwa kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar
atau konsumen. Perusahaan harus benar-benar dapat memahami apa yang dibutuhkan
konsumen atas suatu produk yang akan dihasilkan.[1]
Atau dengan kata lain, kebutuhan pasar atau konsumen merupakan tujuan utama
dalam memproduk barang atau jasa.
Barang atau
jasa yang diproduksi tidak akan berkualitas atau bermutu jika dalam
pengelolaannya (yang kaitannya dengan perusahaan atau institusi) tidak mengacu
pada standar-standar mutu yang telah ditetapkan—sehingga, baik dari segi
kelayakan produk atau jasa yang dihasilkan selalu relevan dengan kebutuhan
pelanggan sebagai pengguna barang dan jasa.
Nasution
mengetengahkan pentingnya kualitas—yang bisa dilihat dari dua sisi, yaitu dari
sudut manajemen operasional, dan manajemen pemasaran. Dilihat dari sudut
manajemen operasional kualitas produk merupakan salah satu kebijakan penting
dalam meningkatkan daya saing produk yang harus memberi kepuasan kepada
konsumen yang melebihi atau paling tidak sama dengan kualitas produk dari
pesaing. Dilihat dari sudut menajemen pemasaran, kualitas produk merupakan
salah satu unsur utama dalam bauran pemasaran (marketing-mix), yaitu
produk, harga, promosi, dan saluran distribusi yang dapat meningkatkan volume
penjualan dan memperluas pangsa pasar perusahaan.[2]
Untuk itu, maka
sebuah perusahaan atau institusi seharusnya menggunakan dan memanfaatkan
standar-standar mutu yang telah ditetapkan—yang dalam hal ini salah satunya adalah
manajemen mutu terpadu (Total Quality Management) yang merupakan pendekatan,
yang penerapannya merupakan filosofi dan sekumpulan petunjuk prinsip-prinsip
yang menjadi landasan untuk perbaikan terus-menerus dari suatu organisasi.[3]
Total Quality
management dalam
perkembangannya—mengembangkan berbagai macam model dan metode yang kaitannya
dengan mutu suatu barang atau jasa. Banyak tokoh-tokoh mutu yang menjadi pionir
yang menjadi pengusung pentingnya kualitas atau mutu barang atau jasa dari
sebuah perusahaan, yaitu seperti W. Edwards Deming, Joseph Juran dan Philip B.
Crosby.
W. Edwards
Deming sebagai salah satu pionir yang mengagas pentingnya mutu mengatakan
bahwa, masalah mutu sebenarnya berasal dari masalah manajemen[4]
yang kurang baik dari sebuah industri. Dalam hal ini Deming melihat bahwa,
manajemen yang buruk akan mengakibatkan produksi barang dan jasa dalam sebuah
indsutri akan mengalami kegagalan khususnya dengan mutu barang dan jasa yang
dihasilkan, dengan demikian maka kepuasan para pelanggan dan konsumen menjadi
masalah yang serius. Selain itu, industri tidak akan bisa mengembangkan pangsa
pasa lebih jauh lagi.
Edward Deming
mengetengahkan empat belas point yang menjadi rujukan dalam mengembangkan mutu
produk dan jasa sekaligus untuk mengembangkan perusahaan agar lebih mampu
bersaing dalam dunia industri. Pemikiran-pemikiran Deming yang terkait dengan total
quality management khususnya dalam
meningkatkan mutu produksi barang dan jasa di negara Jepang menghantarkan
namanya—sebagai bapak manajemen mutu.
Deming mencatat
kesuksesan dalam memimpin revolusi kualitas di Jepang, yaitu dengan
memperkenalkan penggunaan teknik pemecahan masalah dan pengendalian proses
statistic (statistical process control). Atas jasanya yang besar bagi industri
Jepang, maka setiap tahun diberikan perhargaan bernama Deming Prize kepada
setiap perusahaan yang berprestasi dalam hal kualitas.[5]
Dengan
pertasinya ini maka dalam total quality management muncul dan berkembang
berbagai model manajemen mutu terpadu—yang salah satunya adalah Model Manajemen
Mutu: The Deming Prize (Hadiah Deming). Model ini merupakan muara dari hasil
pemikiran-pemikiran dan kontribusi Deming dalam hal penjaminan mutu. The Deming
Prize merupakan sebuah penghargaan—dijadikan sebagai standar mutu
industri-industri besar di Jepang dalam setiap aspek yang terdapat di dalam
perusahaan baik menyangkut produk barang dan jasa sampai kepada hal menajemen,
pengelolaan dan pemasaran.
Dari paparan di
atas, penulis (pemakalah) tertarik untuk lebih jauh mengkaji tentang standar
mutu the deming prize—yang penulis tuangkan dalam judul “model manajemen mutu:
the deming prize”.
B.
Rumusan Masalah
Bagaimana
biografi W. Edward Deming?
Apa
saja kontribusi W. Edward Deming dalam total quality management?
Apa
yang dimaksud dengan model manajemen mutu: model the deming prize.?
C.
Tujuan
mendeskripsikan
biografi W. Edward Deming
mengetahui
kontribusi W. Edward Deming dalam total quality management
Mendeskripsikan
tentang model manajemen mutu: the deming prize
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Singkat W. Edwards Deming
W. Edwards Deming adalah seorang ahli statistik Amerika yang
memiliki gelar PhD dalam bidang fisika. Ia dilahirkan pada tahun 1990. Pengaruhnya
sebagai teoritikus manajemen bermula di barat, namun justru Jepang memanfaatkan
keahliannya sejak 1950. Deming mulai memformulasikan idenya pada tahun 1930-an
ketika melakukan penelitian tentang metode-metode menghilangkan variabilitas
dan pemborosan dari proses industri. Dia memulai kerjanya di Western Electric,
milik took legendaries Hawthorne, di Cicago.[6]
Deming, sebagai seorang doctor statistic berkebangsaan Amerika
Serikat yang merupakan pakar kualitas ternama dan yang mengajarkan kepada Jepang
tentang konsep pengendalian kualitas, mengemukakan bahwa proses industry harus
dipandang sebagai suatu perbaikan kualitas secara terus-menerus (continuous
quality improvement), yang dimulai dari sederet siklus sejak adanya ide untuk
menghasilkan suatu produk, proses produk, sampai dengan distribusi kepada
pelanggan; seterusnya berdasarkan informasi sebagai umpan-balik yang
dikumpulkan dari pengguna produk (pelanggan) dikembangkan ide-ide untuk
menciptakan produk baru atau meningkatkan kualitas produk lama beserta produksi
yang ada saat ini.[7]
Dalam masa awal perkembangannya, ide Deming tentang mutu terpadu
ini kurang mendapat perhatian di Amerika dan Barat, di mana penekanan industri
Amerika dan dunia Barat berada pada pemaksimalan produksi dan keuntungan.[8]
Tetapi berbeda dengan Jepang yang menggunakan ide Deming dalam
peningkatan kualitas barang dan jasa, sehingga mampu menjadi pemegang kendali
pasar dunia. Perwujudan dari konsep yang ditawarkan Deming ini, yang kemudian
benar-benar dikembangkan di Jepang. Sejak akhir tahun 1970-an, Jepang mulai
berhasil menarik minat para pelanggan. Dan ini membuat industrialisasi yang ada
di Amerika dan dunia Barat mulai mempertanyakan apa strategi yang diterapkan di
Jepang. Akhirnya mereka menyadari bahwa penerapan kualitas tertinggi pada
produk itu lebih penting dari hanya sekedar memaksimalkan produksi dan
keuntungan dengan mengesampingkan kualitas.[9]
Perhatian atas kualitas produk ini pada perkembangannya telah
memunculkan beberapa penghargaan (award) yang diberikan kepada
perusahaan-perusahaan yang telah berhasil melaksanakan Total Quality Management
(TQM). Di mana TQM ini bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk perwujudan dari
gagasan Deming di atas. Salah satu award itu adalah Deming Award, yang
ditetapkan pada tahun 1951 untuk memperingati jasa Deming terhadap kendali mutu
Jepang.[10]
B.
Kontribusi W. Edward Deming dalam Mengembangkan Konsep Total
Quality Management
W. Edwards Deming sebagai seorang pakar manajemen mutu banyak
memunculkan dan melahirkan ide dan konsep-konsep terkait dengan mutu barang dan
jasa yang sangat bergarga sebagaimana yang dikembangkan oleh Jepang—sehingga
mampu menjadi pengendali pasar dunia sampai sekarang ini. Adapun
kontribusi Deming dalam manajemen mutu
yaitu:
1.
Siklus Deming (Deming Cycle)
Siklus deming ini dikembangkan untuk
menghubungkan produksi suatu produk dengan kebutuhan pelanggan dan memfokuskan
sumber daya semua depantemen (riset, desain, produksi, pemasaran) dalam suatu
usaha kerjasama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. tahap-tahap siklus deming
adalah sebagai berikut, yaitu: (a) mengadakan riset konsumen dan menggunakannya
dalam perencanaan produk (plan); (b) menghasilkan produk (do);
(c) memeriksa produk apakah telah dihasilkan sesuai rencana (check); (d)
memasarkan produk tersebut (act); (e) menganalisis bagaimana produk
tersebut diterima di pasa dalam hal kualitas, biaya, dan criteria lainnya (analyze).[11]
Keempat kegiatan ini dilakukan
secara berulang-ulang dalam organisasi dengan melakukan analisis mengenai
bagaimana penerimaan pasar terhadap produk dalam hal mutu, biaya, dan criteria
lainnya.
2.
Empat belas butir prinsip manajemen Deming
Empat Belas point deming ini
merupakan ringkasan dari keseluruhan pandangan W. Edwards Deming terhadap apa
yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan untuk melakukan transisi positif
dari bisnis sebagaimana biasanya sehingga menjadi bisnis berkualitas tingkat
dunia. Berikut ini adalah ringkasan dari keempat belas poit Deming, yaitu:[12]
a.
Ciptakan keajegan tujuan dalam menuju perbaikan produk dan jasa,
dengan maksud untuk menjadi lebih dapat bersaing, tetap berada dalam bisnis,
dan utnuk menciptakan lapangan kerja.
b.
Adopsilah falsafah baru. Manajemen harus memahami adanya era
ekonomi baru dan siap menghadapi tantangan, belajar bertanggung jawab, dan
mengambil alih kepemimpinan guna menghadapi perubahan.
c.
Hentikan ketergantungan pada inspeksi dalam membentuk mutu produk.
Bentuklah mutu sejak dari awal.
d.
Hentikan praktik menghargai kontrak berdasarkan tawaran yang rendah
e.
Perbaiki secara konstan dan terus-menerus sistem produksi dan jasa,
untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas, yang pada gilitannya secara
konstan menurunkan biaya.
f.
Lembagakan on the job training.
g.
Lembagakan kepemimpinan. Tujuan dari kepemimpinan haruslah untuk
membantu orang dan teknologi dapat bekerja dengan lebih baik.
h.
Hapuskan rasa takut sehingga setiap orang dapat bekerja secara
efektif.
i.
Hilangkan dinding pemisah antar departemen sehingga orang dapat
bekerja sebagai suatu team.
j.
Hilangkan slogan, desakan, dan target bagi tenaga kerja. Hal-hal
tersebut dapat menciptakan permusuhan.
k.
Hilangkan kuota dan manajemen berdasarkan sasaran. Gantikan denga
kepemimpinan.
l.
Hilangkan penghalang yang dapat merampok kebanggaan karyawan atas
keahliannya.
m.
Giatkan program pendidikan dan self-improvement.
n.
Buatlah transformasi pekerjaan setiap orang dan siapkan setiap
orang untuk mengerjakannya.[13]
Empat belas point ini merupakan
pijakan dasar yang digunakan oleh setiap perusahaan dalam menjalankan
perusahaannya dan dalam memproduk barang dan jasa yang bermutu—sebagaimana yang
ditawarkan oleh Deming. Ini merupakan salah satu ide yang ditawarkan agar
perusahaan bisa maju dan berkembang seperti misalnya negara Jepang.
3.
Deming Seven Deadly Diseases (tujuh hambatan pada perbaikan
mutu)
Berikut adalah tujuh hambatan pada
perbaikan mutu yang harus dihindari oleh perusahaan yang bervisi untuk
meningkatkan mutu produk, yaitu:[14]
a.
Tidak adanya tujuan yang tetap untuk untuk perencanaan produk dan
jasa yang mempunyai pasa yang cukup untuk menjaga agar perusahaan tetap
berjalan dan pekerjaan tetap tersedia. Banyak perusahaan dijalankan hany untuk
sekedar mendapatkan keuntungan sehingga segera dapat dibagikan kepada para
pemegang saham.
b.
Penekanan pada laba jangka pendek, berpikir jangka pendek yang
dipengaruhi oleh ketakutan akan adanya usaha pengambilalihan tak menghasilkan
dividen. Bila manajemen puncak hanya memikirkan keuntungan, apalagi dengan cara
memotong biaya pendidikan dan latihan, memotong biaya pemeliharaan, dan
memotong biaya riset, produktivitas dan mutu tidak akan pernah meningkat.
c.
Sistem penilian personal bagi manajer dan manajemen berdasar tujuan
tanpa menyediakan metode atau sumber daya yang cukup untuk mencapai tujuan
tersebut.
d.
Pemberian kerja yang berlebihan dari manajer
e.
Hanya menggunakan data dan informasi yang kelihatan saja untuk
pengambilan keputusan dan mengabaikan hal-hal yang tidak diketahui dan yang tak
dapat diketahui.
f.
Biaya kesehatan (tunjangan kesehatan) yang berlebihan atau sangat
tinggi.
g.
Biaya untuk penggantian yang disebabkan oleh pengacara-pengacara.
C.
Model Manajemen Mutu : The Deming Prize
1.
The Deming Prize (Penghargaan Deming)
Mutu merupakan salah satu usur yang
sangat menentukan suatu produk barang atau jasa memiliki nilai jual di
tengah-tengah konsumen. Sering kali konsumen sebelum membeli atau menggunakan
jasa jika belum mengetahui kualitasnya—sehingga bisa dikatakan bahwa, mutu
memiliki peran yang sanat signifikan. Tapi lebih dari itu, produk berkualitas
mempunyai aspek penting lain, yaitu: 1) konsumen yang membeli produk
berdasarkan berdasarkan mutu, umumnya
dia mempunyai loyalitas produk yang besar dibandingkan dengan konsumen yang
membeli berdasarkan orientasi harga; 2) bersifat kontradiktif dengan cara pikir
bisnis tradisional, karenan memang pada kenyataannya memproduksi barang bermutu
tidak otomatis lebih mahal dari memproduksi barang bermutu rendah; dan 3)
menjual barang tidak bermutu kemungkinan akan banyak menerima keluhan dan
pengembalian barang dari konsumen, atau biaya untuk memperbaikinya menjadi
sangat besar, di samping juga akan memperoleh citra yang buruk.[15]
Kaitannya dengan itu, maka ada
standar-standar mutu yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam menentukan mutu
suatu produk barang atau jasa—salah satunya adalah model menajemen mutu The
Deming Prize. Di Jepang, beberapa perusahaan terkemuka mempunyai obsesi untuk
memenagkan Hadiah Deming (Deming Prize). Dengan gambaran bahwa perusahaan yang
memenagkan penghargaan ini berarti perusahaan tersebut memiliki kualitas yang
benar-benar baik. Penghargaan mutu nasional Jepang tersebut diluncurkan pada
tahun 1951.[16]
Peluncuran ini untuk memperingati jasa Dr. W.E. Deming terhadap kendali mutu
Jepang, memperoleh dana dari hak cipta penerbitan transkipsi ceramah Dr. Deming
yang telah dibuatnya untuk JUSE (Union of Japanese Scientist and Engineers).[17]
Hadiah Deming ini dibagi ke dalam
dua kategori, yaitu bagi perseorangan yang berjasa terhadap kendali mutu dan
metode statistic.[18] Jepang,
dan yang diberikan kepada industri. Hadiah yang kedua ini mempunyai kategori
tambahan dalam beberapa bidang, diantaranya: Deming Application Prize bagi
divisi-divisi, Deming Application Prize bagi perusahaan kecil, dan Quality
Control Award untuk pabrik yang diberikan oleh Komite Hadiah Deming.
Memenangkan hadiah deming, sebagai
usaha untuk menguasai total quality control, telah menjadi obsesi dari beberapa
perusahaan terkemuka di jepang. Ada beberapa katagori penghargaan, diantaranya
kategori divisi, pabrik, perusahaan besar, menengah dan kecil. Di samping itu,
ada juga Hadiah Deming yang diberikan kepada individu yang telah memberikan
kontribusi penting terhadap teori statistic.[19]
2.
Kriteria dan Tahapan Deming Prize
Untuk mendapatkan penghargaan ini,
perusahaan-perusahaan dituntut untuk memenuhi kriteria-kriteria yang menjadi
syarat layak atau tidaknya suatu perusahaan untuk memperoleh penghargaan ini.
Kriteria yang diajukan untuk memperoleh penghargaan ini sangat ketat dan mereka
pernah mendapatkan kritik pada beberapa bagian yang terlalu kaku dalam
pendekatan terhadap mutu.
Agar memenuhi syarat bagi deming
Application Prize ini, manajemen puncak suatu perusahaan harus mendaftarkan
diri terlebih dahulu. Kemudian dari akhir Juli sampai akhir September setiap
tahun, sejumlah besar ahli kendali mutu dari subkomite Application Prize akan
dikirimkan ke perusahaan untuk mnegunjungi setiap pabriknya, kantor cabang dan
kantor pusat perusahaan. Ahli-ahli inilah yang menguji, mengaudit keadaan
pengendalian mutu terpadu perusahaan saat itu, mencurahkan perhatian khusus
pada kendali mutu statistiknya yang kemudian menentukan tingkatan.[20]
Adapun daftar pemeriksaan yang
digunakan pada Deming Application Prize ini adalah sebagai berikut:
a.
Kebijakan dan sasaran, yaitu meliputi : (1) Kebijakan mengenai
manajemen, mutu dan kendali mutu; (2) Metode dalam menentukan kebijakan dan
sasaran; (3) Kelayakan dan konsistensi isi sasaran; (4) Pemanfaatan metode
statistic; (5) Penyebaran dan penyerapan sasaran; (6) Pemeriksaan sasaran dan
pelaksanaannya; (7) Hubungan antara rencana jangka panjang dan rencana jangka
pendek
b.
Organisasi dan operasinya, yaitu meliputi : (1) Garis tanggung
jawab yang jelas; (2) Kelayakan pendelegasian wewenang; (3) Kerjasama di antara
divisi-divisi; (4) Kegiatan-kegiatan komite; (5) Pemanfaatan staf; (6)
Pemanfaatan kegiatan gugus kendali mutu (kelompok kecil); (7) Audit kendali
mutu.
c.
Pendidikan dan penyebarannya, yaitu meliputi : (1) Rencana
pendidikan dan pelaksanaannya sebenarnya; (2) Kesadaran tentang mutu dan
pengendalian, pemahaman terhadap kendali mutu; (3) Pendidikan mengenai
konsep-konsep dan metode-metode statistik dan penyerapannya; (4) Kemampuan
untuk memahami pengaruhnya; (5) Pendidikan bagi subkontraktor dan organisasi
luar; (6) Kegiatan gugus kendali mutu; (7) Sistem Pengajuan sasaran.
d.
Pengumpulan dan penyebaran informasi serta pemanfataannya, yaitu
meliputi : (1) Pengumpulan informasi dari luar; (2) Penyebaran informasi di
antara divisi-divisi; (3) Kecepatan penyebaran informasi yang berbasis
computer; (4) Analisis (statistik) terhadap informasi dan pemanfaatannya.
e.
Analisis, yaitu meliputi : (1) Pemilihan masalah dan tema yang
penting; (2) Kelayakan metode analitik; (3) Pemanfaatan metode statistic; (4)
Pengikatan dengan teknologi rekayasa sendiri; (5) Analisis mutu dan analisis
proses; (6) Pemanfaatan hasil analisis; (7) Sumbangan saran-saran bagi
perbaikan.
f.
Standarisasi, yaitu meluputi : (1) Sistem standar; (2) Metode
penetapan, perbaikan, dan pembatalan standar; (3) Catatan sebenarnya tentang
penetapan, perbaikan, dan pembatalan standar; (4) Isi standar; (5) Pemanfaatan
metode statistic; (6) Akumulasi teknologi; (7) Pemanfaatan standar.
g.
Pengendalian, yaitu meliputi : (1) Sistem pengendalian bagi mutu
dan bidang-bidang yang berhubungan, seperti biaya dan kuantitas; (2) Titik
pengendalian dan bahan pengendalian; (3) Pemnafaatan metode statistik, seperti
diagram pengendalian dan penerimaan umum cara berpikir menurut statistic; (4)
Sumbangan kagiatan gugus kendali mutu; (5) Kondisi pengendalian kegiatan yang
sebenarnya; (6) Kondisi sitem pengendalian yang sebenarnya.
h.
Jaminan mutu, yaitu meliputi : (1) Prosedur pengembangan produk
baru; (2) Pengembangan mutu (rincian fungsi mutu) dan analisisnya, keandalan,
dan peninjauan kembali desain; (3) Keselamatan dan pencegahan kelemahan produk;
(4) Pengendalian proses dan perbaikan; (5) Kemampuan proses; (6) Pengukuran dan
pemeriksaan; (7) Pengendalian fasilitas/perlengkapan, pembuatan subkontrak,
pembelian, pelayanan, dan sebagainya; (8) Sistem jamina mutu dan auditnya; (9)
Pemanfaatan metode statistic; (10) Kondisi praktis jaminan mutu.
i.
Pengaruh, yaitu meliputi : (1) Mengukur pengaruh; (2) Pengaruh yang
tampak, seperti mutu, kemampuan pelayanan, tanggal penyerahan, biaya, laba,
keselamatan, lingkungan, dan sebagainya; (3) Pengaruh yang tidak tampak; (4) Kecocokan
antara ramalan tentang pengaruh dan catatan yang sebenarnya.
j.
Rencana masa depan, yaitu meliputi : (1) Pemahaman keadaan saat ini
dan kenyataannya; (2) Kebijakan yang dipakai untuk mengatasi kekurangan; (3)
Rencana promosi bagi masa depan; (4) Hubungan dengan rencana jangka panjang
perusahaan.[21]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pertama,
Penghargaan Deming (Deming Prize) adalah penghargaan yang diberikan kepada
perusahaan-perusahaan di Jepang terkait dengan mutu/kualitas. Pertama kali
diluncurkan pada tahun 1951. Peluncuran ini untuk memperingati jasa Dr. W.E.
Deming terhadap kendali mutu Jepang, memperoleh dana dari hak cipta penerbitan
transkipsi ceramah Dr. Deming yang telah dibuatnya untuk JUSE (Union of
Japanese Scientist and Engineers). Penghargaan ini terbagi menjadi dua
kategori, yaitu: untuk perorangan dan juga untuk industry atau perusahaan.
Kedua,
Untuk memperoleh penghargaan ini, perusahaan harus mendaftarkan diri ke komite
Deming Prize, yang kemudian perusahaan ini akan dinilai dengan beberapa
kriteria penialaian sebagai berikut: a) kebijakan dan sasaran; b) organisasi
dan operasinya; c) pendidikan dan penyebarannya; d) pengumpulan dan penyebaran
informasi serta pemanfataannya; e) analisis; f) standarisasi; g) pengendalian,
h) jaminan mutu; i) pengaruh; dan j) rencana masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen
Mutu
Pendidikan, Terj. Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, Jogjakarta: IRCiSoD, 2015.
Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management,
Yogyakarta:
ANDI, 2003.
M. N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality
Management), Jakarta:
Ghalia
Indonesia, 2001.
Soewarso Hardjosoedarmo, Bacaan Terpilih tentang Total Quality
Management,
cet. III,
Yogyakarta: Andi, 2004.
Suyadi Prawirosentono, Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu
Terpadu; Total
Quality
Mangement Abad 21 Studi Kasus dan Analisis, cet. II, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Thomas Sumarsan, Sistem Pengendalian Manajemen: Konsep,
Aplikasi, Dan
Pengukuran
Kinerja, Edisi 2, Jakarta:
PT. Indeks, 2013.
Vincent Gaspersz, Total Quality Management, Jakarta: PT
Gramedia Pustaka
Utama, 2005.
[1] M.
N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management),
(Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001), hlm. 16.
[2] M.
N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 17.
[3]
Lihat The U.S. Departement of Defense dalam Vincent Gaspersz, Total
Quality Management, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 6.
[4]
Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu
Pendidikan, Terj. Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2015),
hlm. 97
[5]
Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management,
(Yogyakarta: ANDI, 2003), hlm. 49.
[6]
Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu
Pendidikan, hlm. 36-37.
[7]
Vincent Gaspersz, Total Quality Management, (Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2005), hlm. 9.
[8]
Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu
Pendidikan, hlm. 40.
[9]
Soewarso Hardjosoedarmo, Bacaan Terpilih tentang Total Quality Management,
cet. III, (Yogyakarta: Andi, 2004), hlm. 104.
[10] M.
N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm.
245.
[11] M.
N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 35.
[12]
Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management,. hlm.
50-52.
[13]
Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu
Pendidikan, hlm. 100-103.
[14]
Thomas Sumarsan, Sistem Pengendalian Manajemen: Konsep, Aplikasi, Dan
Pengukuran Kinerja, Edisi 2 (Jakarta: PT. Indeks, 2013), hlm. 187-188.
[15]
Suyadi Prawirosentono, Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu; Total
Quality Mangement Abad 21 Studi Kasus dan Analisis, cet. II, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2004), hlm. 3
[16]
Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu
Pendidikan, hlm. 143.
[17] M.
N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 245
[18] Analisis statistik di bidang pengendalian mutu ini dikenal sejak
tahun 1924, dan dikemukakan oleh Dr. Wolter Shewhart dari perusahaan Bell
Telephone Laboratories. Pemikiran dari Dr. Shewhart ini diterbitkan dalam buku
berjudul Economic Control of Quality of manufactured Product yang
merupakan konsep dasar dari pengendalian mutu suatu barang di perusahaan
manufaktur. Dasarnya adalah untuk mengetahui produk yang dapat diterima (accepted)
atau produk yang ditolak karena rusak. Tujuannya adalah agar produk yang rusak
tidak dijual kepada konsumen, tetapi harus dimusnahkan. Lihat Suyadi
Prawirosentono, Suyadi Prawirosentono, Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu
Terpadu; Total Quality Mangement Abad 21 Studi Kasus dan Analisis,., hlm.
83.
[19]
Edward Sallis, Total Quality Managemen In Education: Manajemen Mutu
Pendidikan, hlm. 143.
[20] M.
N. Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), hlm. 245
[21]
Lihat dan bandingkan dengan pernyataannya Edward Sallis, Total Quality
Managemen In Education: Manajemen Mutu Pendidikan, hlm. 143.
No comments:
Post a Comment