Akal
memang belum bisa memahami makna yang tersirat di balik jeruji pemaknaan. Tak helak
pula, kita tersadarkan tatkala semu menjamah lirih dengan kehampaan. Mungkin memang
tidak ada jalan, atau hanya sekedar numpang lewat saja. Selalu saja kita mematahkan
semangat yang bergelora, karena memang belum sanggup untuk menatap kenapa harus
kita yang diburu oleh waktu. Apakah memang inilah saatnya untuk menatap ataukah
hanya sebuah kedok untuk melindungi kebdohan dan kepongahan diri sendiri. Memang
kata-kata pikiran atau itu semua dari hati yang terdalam, entahlah karena
kenaifan diri memaksa kita untuk memilih jalan. Sengguh hina memang kepongahan
diri memaksa untuk terus berjalan walaupun pada dasarnya jalan yang kita tempuh
itu salah. Inilah bentuk kebodohan kita karena tidak mampu memahami realitas
yang sesungguhnya.
No comments:
Post a Comment